SERINA: I'M AN EXTRA

SERINA: I'M AN EXTRA
MISI PERTAMA



Setelah beberapa menit berdiskusi untuk kembali memantapkan misi yang sebentar lagi akan kami jalankan, aku dan Alea serempak keluar dari ruang belajar. Meninggalkan Arka yang saat ini sudah disibukkan dengan buku tebal ditangannya. Berjalan menuruni beberapa anak tangga menuju lantai bawah. Setelahnya, aku bergegas menuju kulkas yang ada di dapur untuk mengambil dua buah piring berisikan potongan buah yang telah aku dan Saemi siapkan beberapa waktu lalu. Sementara Alea segera melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi untuk memulai rencana kami


Seperti yang telah aku, Alea dan juga Arka rencanakan sebelumnya, hari ini kami akan memaksakan kadaan untuk dapat mempertemukan Saemi dengan Alea dalam balutan ketidaksengajaan. Melihat bagaimana reaksi Saemi jika tiba-tiba ada anak perempuan asing yang seumuran dengannya secara tidak sengaja membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya.


Aku berjalan mendahului Alea yang entah saat ini sedang melakukan aktivitas apa di dalam kamar mandi dengan dua piring berisi potongan buah melon madu dan semangka segar ditangannku. Kembali menaiki satu persatu anak tangga yang menyambungkan lantai satu dengan lantai dua dimana ruang belajar yang saat ini hanya ditempati oleh Arka berada


Setelah kembali masuk kedalam ruang belajar dan meletakkan dua piring penuh berisi buah dihadapan Arka, aku mengirim pesan kepada Alea. Menyuruhnya untuk segera kembali naik keatas. Tapi bukan untuk kembali bergabung bersama kami di ruang belajar, melainkan dengan sengaja membuka dan masuk kedalam kamar Saemi yang letaknya persis bersebelahan dengan ruangan ini dengan dalih salah masuk ruangan


Sebenarnya bisa saja jika aku menyuruh Alea keluar dari ruang ini dan beralih masuk kedalam kamar Saemi tanpa harus repot-repot melakukan adegan drama dengan berpura-pura masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu. Tetapi saat ini dirumah masih ada mama yang sedang sibuk menonton sinema sinetron pagi diruang tengah. Jika Alea masuk kedalam kamar Saemi dan langsung direspon dengan jeritan histeris seperti yang selalu ia lakukan selama terapi, maka aku tidak mempunyai alasan yang dapat melindungiku. Aku akan menjadi satu-satunya oknum yang akan menjadi sasaran kemarahan mama karena telah merencanakan ide gila seperti ini


Untuk menghindari hal itu terjadi, maka aku memutuskan untuk menghadirkan adegan Alea yang tersesat dan salah masuk ruangan setelah pergi ke kamar mandi karena memang letak ruangannya yang bersebelahan dan Alea masih bingung karena baru pertama kali datang ke rumahku. Drama inilah yang nantinya akan aku jadikan tameng apabila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi


Pesan yang aku kirimkan pada Alea beberapa detik yang lalu telah sukses terkirim dan Alea juga sudah membacanya. Mungkin saat ini ia sudah bersiap untuk keluar dari kamar mandi dan kembali berjalan menaiki tangga untuk melancarkan misi pertamanya


Aku berkali-kali menggigit kuku yang membalut ujung jari telunjukku. Merasa risau bagaimana jika hal yang sedaritadi ku kawatirkan benar-benar terjadi. Membayangkan bagaimana jika Saemi langsung berteriak histeris bahkan sebelum Alea sempat masuk kedalam kamarnya dan menyapanya


“Arka, aku kok ngerasa deg-degan banget gini ya sekarang. Gimana pas Alea baru buka pintu kamarnya, Saemi udah teriak histeris dan traumanya kambuh lagi? Bisa habis aku dimarahin mama karena sok ngide beginian” aku menghentikan aktivitas menggigit kuku ku, sedikit mencondongkan badanku kedepan dan menatap Arka dengan perasaan was-was


Arka menghembukan napasnya berat, meletakkan buku tebal yang sedaritadi dia baca dalam hati karena mulutnya sibuk mengunyah potongan buah melon yang aku baru saja aku keluarkan dari dalam kulkas beberapa saat yang lalu “Udah Ser kamu jangan terlalu panik gini, toh sebelumnya kamu udah pernah cerita soal Alea ke Saemi kan? Jadi menurutku saat ini Alea nggak sepenuhnya orang asing bagi Saemi. Karena secara nggak langsung dia pernah kenalan sama Alea lewat cerita yang kamu ceritakan pada Saemi tentang Alea”


Aku terdiam, mengangguk kecil menyetujui setiap kalimat yang diucapkan Arka. Meskipun begitu, hatiku tak sepenuhnya tenang. Aku memang pernah beberapa kali mengenalkan Alea sebagai teman baikku di sekolah kepada Saemi. Mungkin benar kata Arka, secara tidak langsung saat ini Saemi telah mengenal Alea lewat cerita yang selalu kubagikan padanya. Tapi, fakta bahwa Saemi tidak pernah bertemu fisik secara langsung dengan Alea tetap tidak akan menghilangkan kemungkinan bahwa kehadiran Alea yang secara tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya akan membuat trauma Saemi kembali kambuh


Melihat raut kekhawatiran yang masih belum hilang dari wajahku, Arka kembali membuka suaranya. Menatap mataku lekat sambil beberapa kali menepuk punggung tanganku yang berada dilantai “Selama ini kamu suka cerita kan ke Saemi kalau Alea adalah temen baik kamu di sekolah? Jadi bisa aja respon yang diberikan Saemi saat Alea masuk ke dalam kamarnya nggak separah yang kamu bayangin atau khawatirin saat ini Ser. Karena balik lagi, saat ini Alea bukan sepenuhnya orang asing buat Saemi. Sedikit banyak Saemi udah kenal sama Alea lewat cerita yang selalu kamu bagi ke Saemi soal Alea” aku masih terdiam ketika Arka kembali membuka suaranya untuk menenangkan kekhawatiranku “Kamu juga selama beberapa hari ini udah berkali-kali cerita kan ke Saemi kalau bakal ada temen kamu yang dateng kerumah buat belajar dan temen kamu itu pengen banget kenalan sama Saemi karena kamu sering cerita soal Saemi sama temen kamu selama disekolah? Kamu juga beberapa hari ini sering kan ngomong sesuatu yang kamu harap bisa ngasih stimulus buat Saemi agar memiliki keberanian untuk menghadapi rasa traumanya dan nggak terus-terusan sembunyi kaya sekarang?”


Aku kembali terdiam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Arka. Kembali menganggukkan kepalaku karena memang apa yang diucapkan ada benarnya. Beberapa hari ini aku memang sering membahas rencana kedatangan temanku ke rumah untuk belajar mempersiapkan olimpide sains yang akan aku dan Arka ikuti beberapa hari lagi. Aku juga beberapa terkahir hari ini terus-terusan mendesak Saemi supaya mau menampakkan diri dan berkenalan dengan kedua temanku yang saat ini sudah berada dirumah karena mereka sangat ingin bertemu dan berkenalan dengan Saemi secara langsung. Dan selama beberapa hari terakhir ini aku juga sering membicarakan hal-hal yang kuharapkan dapat membuka hati Saemi agar agar ia tidak terus-menerus menyembunyikan dirinya dalam ketakutan dan mulai memberanikan diri untuk menghadapi traumanya


Sejenak aku menatap manik mata Arka yang terlihat tenang. Seakan mampu memberikan keteduhan bagi siapapun yang menatapnya. Senyuman manis yang saat ini ia tampilkan benar-benar membuat semua kekhawatiran yang sedari tadi memenuhi kepalaku lenyap dalam sekejap. Bahkan disaat-saat menegangkan seperti ini saja pesona Arka masih sempat menyita perhatianku meminta untuk dikagumi


Seolah merasa puas karena telah menikmati pesona memabukkan Arka selama beberapa detik, aku segera menggelengkan cepat kepalaku. Mengembalikan semua kesadaran dalam diriku yang sempat tersedot kedalam setiap pesona yang dimiliki oleh laki-laki dihadapanku ini


Kepalaku yang sempat ringan selama beberapa detik kembali penuh. Tersadar satu fakta yang akan membawa dampak buruk jika benar-benar terlupakan


“Arka, aku baru sadar kalau ruangan ini kedap suara. Kalau ternyata sekarang Alea udah masuk ke kamar Saemi dan langsung direspon dengan teriakan histeris Saemi gimana? Kita kan nggak bisa denger kalau terus-terusan disini” ucapku panik sambil mengacak kasar rambutku


“Arka, ini bukan saatnya buat bahas masalah ruangan ini kedap suara apa bukan. Sekarang tuh gimana caranya kita bisa keluar dan ngintipin Alea udah masuk apa belum ke kamarnya Saemi? Dan ngeliat gimana reaksi Saemi pas tau Alea salah masuk kamarnya?” aku memukul pelan lengan Arka yang berhasil membuatnya meringis kesakitan. Bagaimana bisa ia malah sibuk memikirkan kenyamanan ruang belajar Saemi yang sengaja papa lapisi peredam suara agar tidak terkontaminasi suara dari luar yang dapat mengganggu konsentrasi belajar selama homeshooling sedangkan daritadi aku kesulitan barang hanya untuk bernapas memikirkan kemungkinan trauma Saemi akan kembali kambuh setelah melihat keberadaan Alea yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya atas ide dan juga intruksiku?


Aku hendak kembali mengomeli Arka ketika ponsel yang berada pada saku celanaku bergetar. Layarnya menyala menampilkan nama Alea disana. Benar, Alea menelfonku. Segala bentuk kecemasan yang tadinya sempat hilang setelah mendapat kalimat penghibur dari Arka, kini kembali berlalu lalang memenuhi pikiranku. Kepalaku yang sejenak terasa ringan setelah menatap mata teduh Arka kini kembali terasa berat. Memikirkan kemungkinan buruk yang sedari tadi berkeliaran dibenakku benar-benar telah menimpa Saemi saat ini


Bagaimana jika aku mengangkat telfon dari Alea dan langsung disambut dengan suara teriakan histeris Saemi yang ketakutan karena tiba-tiba saja ada orang asing masuk kedalam kamarnya? Apalagi orang itu adalah anak perempuan yang seumuran dengannya. Tentu saja ingatan akan segala tindakan serta perlakuan kejam yang ia terima dari teman di sekolah barunya tiga tahun lalu akan kembali menghantui dirinya, menghadirkan kembali perasaan trauma yang membutuhkan waktu beberapa bulan untuk Saemi merasa ‘sembuh’ kembali mengusik dirinya dan siap mengganggu setiap detik dalam hidupnya


Tak tahan melihat diriku yang malah sibuk tenggelam dalam kacaunya isi kepalaku, tangan Arka dengan sigap merebut ponsel dari genggaman tanganku. Jarinya dengan gesit memencet tombol berwarna hijau yang tertera pada layar agar bisa terhubung dengan suara Alea diseberang sana. Tombol selesai ditekan, panggilan telah terhubung dengan Alea yang mungkin saja saat ini sudah berada di dalam ruangan yang hanya disekat oleh dinding dari tempatku duduk saat ini. jari Arka kembali sibuk menekan salah satu ikon yang tertera pada layar. Speaker , Arka mengaktifkan mode loss speaker pada panggilan yang telah terhubung agar aku yang saat ini masih diam terlarut dalam rumitnya isi kepalaku bisa turut mendengar apapun yang akan Alea sampaikan


“Halo Al” ucap Arka singkat pada Alea untuk memberikan kode bahwa panggilan mereka kini telah terhubung


Hening, tidak ada jawaban apapun dari seberang sana. Aku sama sekali tidak mendengar suara Alea, apalagi suara teriakan histeris Saemi seperti apa yang aku khawatirkan dan bayangkan. Benar-benar hening, hanya sesekali terdengar suara hembusan napas Alea yang sedikit memburu


Merasa tidak segera mendapat respon dari Alea, Arka kembali membuka suara. Nada bicaranya mungkin terdengar sangat tenang, tapi tidak dengan raut wajahnya yang menyiratkan sedikit rasa khawatir disana. Mungkin saat ini dia juga merasa takut kalau-kalau sesuatu yang sedari tadi aku khawatirkan akan benar-benar terjadi terjadi menimpa Saemi. Karena biar bagaimanapun dia juga terlibat dalam misi yang telah aku buat ini dan turut bertanggung jawab apabila sesuatu yang buruk memang terjadi “Halo Alea? Masih nyambung kan ini panggilannya? Disana aman kan? Nggak terjadi hal yang buruk kan?”


Masih hening, hanya hembusan napas berat Alea yang sesekali terdengar. Arka memutuskan untuk ikut terdiam, menunggu Alea siap untuk membuka suara dan merespon segala pertanyaan yang telah ia lontarkan tadi


Beberapa saat saling terdiam, dari seberang mulai terdengar suara Alea dengan nada yang amat lirih “Hmmm Arka….”


Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Alea dengan nada lirih setelah beberapa saat hanya terdiam, raut wajah Arka terlihat semakin panik. Begitupun dengan diriku yang sedari tadi hanya bisa terdiam sambil menggigit kuku yang membungkus rapi ujung jari telunjukku, setengah panik menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut Alea saat ini


Arka kembali membuka suaranya, menyerang Alea dengan rentetan pertanyaan yang hampir sama dengan pertanyaa yang sudah ia tanyakan beberapa detik lalu “Iya, gimana Al? Disana aman kan? Nggak terjadi sesuatu yang buruk kan Al? Saemi nggak langsung teriak-teriak kan pas liat kamu tiba-tiba masuk kamarnya?”


Bukannya menjawab rentetan pertanyaan yang dilontrakan Arka, Alea malah balik bertanya. Mencari keberadaanku yang saat ini hanya bisa terdiam menyimak setiap pertanyaan yang Arka lontarkan, juga setiap kalimat yang Alea ucapkan tanpa memiliki tenaga untuk sekedar meresponnya “Serina mana Ka?”


Aku kembali merebut ponselku dari tangan Arka, mendekatkan benda pipih itu tepat disebelah telinga kiriku sebelum merespon pertanyaan Alea yang sedang mencariku. Padahal saat ini aku juga tau bahwa ponsel yang berada digenggamanku sedang dalam mode loss speaker sehingga tanpa harus kembali merebutnya dari tangan Arka dan mendekatkannya ke telingaku, aku akan dapat dengan jelas mendengar suara Alea begitupun sebaliknya


“Iya Al ini aku, gimana Saemi? Dia baik-baik aja kan? Trauma dia nggak kambuh kan?” seakan menggantikan tugas Arka, saat ini aku kembali menyerang Alea dengan rentetan pertanyaan yang mungkin sudah ketiga kalinya Alea dengar hari ini


Alea kembali menghembuskan napasnya kasar. Membuat pikiranku yang sedari tadi kalut bertambah semakin kalut karena ia tak kunjung membuka suara dan menjelaskan situasi yang sebenarnya sedang terjadi


“Serina, maafin aku ya. Kayanya sekarang traumanya Saemi beneran kambuh deh” ucap Alea diujung telepon yang membuatku langsung bergegas lari menuju kamar Saemi yang hanya berbatasan dinding dengan ruangan tempat dimana aku dan Arka sedang duduk sambil menerima telfon dari Alea saat ini