
Tak seperti biasanya, hari ini aku bangun dua puluh menit lebih awal dan langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah. Tak ada hal yang spesial sebenarnya, selain fakta bahwa hari ini adalah hari kedua ku menyandang status sebagai siswa kelas 11SMA. Sejujurnya aku juga tidak mengerti apa yang membuatku sangat bersemangat untuk berangkat sekolah pagi ini. Padahal setelah makan malam kemarin malam, mama dan papa menyuruhku untuk izin sekolah karena om Gunhoo dan tante Lusi akan datang untuk pamitan sebelum berangkat ke Korea. Jadi aku dan mama harus menggantikan papa untuk menemani Saemi mengantar om Gunhoo dan tante Lusi ke bandara karena hari ini papa harus mengahadiri meeting dengan klien penting di kantor.
Apakah aku sangat bersemangat seperti ini karena masih dalam suasana minggu-minggu pertama kembali ke sekolah setelah libur panjang? Ataukah karena hari ini adalah hari pertama dimana aku akan mendapatkan pelajaran sebagai siswa kelas 11? Ataukah hari ini aku sangat bersemangat pergi ke sekolah untuk kembali bertemu Arka? Entahlah, setelah beberapa menit bergumul dengan pikiranku sendiri, kuputuskan untuk menjadikan alasan terakhir yang kusebutkan sebagai alasan paling masuk akal yang dapat menjelaskan tingkahku saat ini.
Dan jika benar alasan mengapa aku sangat bersemangat pergi kesekolah pagi ini sampai harus menolak permintaan mama dan papa untuk mengantar om Gunhoo dan tante Lusi ke bandara adalah untuk bertemu Arka, apakah ini artinya aku sudah benar-benar jatuh pada pesona Arka? Padahal jelas-jelas belum tepat dua puluh empat jam aku bertemu dan berkenalan dengan Arka. Kita bahkan juga belum sempat bertukaran nomor hp. Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri saat ini.
“Mama, Serina berangkat sekolah dulu ya” pamitku pada mama setelah menghabiskan dua lembar roti tawar dengan olesan selai coklat kacang diatasnya dan satu gelas penuh susu stoberi kesukaanku
“Kamu beneran nggak mau izin sekolah aja Ser? Kamu nggak mau nemenin Saemi nganterin om Gunhoo sama tante Lusi ke bandara? ” tanya mama dengan tangan yang sibuk mengupas apel untuk Saemi. Begitulah mamaku, dia sangat memanjakan Saemi tapi tak pernah berbuat hal yang serupa kepadaku
“Iya Ser, kamu juga udah lama nggak ketemu eomma sama appa. Kamu nggak mau izin aja hari ini? sekarang kan masih awal semester, pasti belum ada pelajaran juga disekolah” tanya Saemi memastikan. Setelah makan malam kemarin, Saemi sudah tidak marah lagi padaku. Bahkan sebelum tidur, kami sempat menonton drama bersama yang berhasil membuat kepalaku terasa sangat pusing hingga ingin pecah. Bagaimana tidak? Saemi mengajakku nonton drama Korea tanpa menggunakan subtitle. Wajar saja jika semalam aku hanya mengikuti ekspresi wajah Saemi yang tertawa atau menangis saat hanyut dalam cerita, karena aku benar-benar tidak paham apa yang mereka bicarakan atau ributkan
“Maaf ya Saem, hari ini aku bener-bener nggak bisa nemenin kamu ke bandara. Soalnya kemarin aku udah janji sama mbak Nadine mau bantuin ngasih label buku baru yang datang di perpustakaan hari ini” bohongku pada Saemi. Bagaimana bisa aku jujur kalau hari ini aku bersikeras untuk berangkat ke sekolah daripada mengantar om Gunhoo dan tante Lusi yang sudah lama tidak kutemui ke bandara hanya karena ingin bertemu Arka di sekolah? Bisa-bisa Saemi akan meledekku habis-habisan dan mengadukanku pada mama dan papa.
Aku memang tidak berniat untuk menyembunyikan perihal kisah cintaku dari Saemi, apalagi sejak dulu aku selalu menceritakan fantasiku yang sangat ingin menjalani kisah cinta bersama dengan pangeran kuda putih layaknya tokoh utama dalam cerita novel kepada Saemi. Hanya saja, saat ini aku belum bisa memastikan perasaanku. Apakah perasaan yang kurasakan pada Arka benar-benar cinta atau sebatas kekaguman belaka.
“Yaudah deh kalo gitu, nanti aku ke bandaranya sama imo aja” ucap Saemi dengan raut muka yang terlihat kecewa. Sejujurnya aku juga tidak tega jika sudah melihat wajah Saemi yang seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, aku juga tidak bisa untuk tidak bertemu Arka hari ini di sekolah. Entahlah, mungkin ini yang orang namai dengan rindu?
“Sampein salam aku buat om sama tante ya Saem, sampein juga permintaan maaf aku ke mereka karena nggak bisa nganter ke bandara. Semoga nenek kamu cepet sembuh” ucapku sambil mengalungkan tas sekolah ke punggungku dan beranjak dari posisi dudukku diikuti dengan mama dan Saemi
“Serina berangkat dulu ya” pamitku lagi pada mama dan Saemi setelah berada di depan pintu utama rumah sambil mengecup punggung tangan mama dan menepuk pelan ujung kepala Saemi yang dibalas dengan tatapan tajam dari Saemi. Tentu saja hal ini membuatku gemas dan semakin ingin menggodanya sebelum mama menegur perbuatanku dan menyuruhku untuk segara masuk ke dalam mobil dan berangkat sekolah
“Serina, kamu kok suka banget sih isengin Saemi. Cepet masuk mobil sana, udah ditungguin pak Amir daritadi tuh!” omel mama saat aku baru saja berniat untuk mengacak-acak rambut Saemi. Aku pun hanya mengangguk pasrah dan langsung melangkahkan kakiku untuk menaiki mobil yang sejak lima menit lalu sudah bertengger manis didepan rumah menungguku
“Belajar yang bener disekolah. Kalau udah waktunya makan siang jangan lupa makan” tambah mama lagi dari luar jendela mobil saat aku sudah berhasil masuk dan duduk manis didalam mobil
“Pak Amir hati-hati ya nyetirnya, jangan ngebut” ucap Saemi sambil melambaikan tangan kearahku yang kubalas dengan lambaian tangan juga
Setelahnya, mobil yang aku dan pak Amir tumpangi pun mulai bergerak meninggalkan halaman rumah dan bergabung dengan puluhan kendaraan lain dijalan raya.
“Sampai bertemu di sekolah Arka” gumamku pelan sambil tersenyum melihat jalanan kota melalui jendela mobil. Entahlah, ada banyak sekali fantasi yang memenuhi pikiranku saat ini. Semoga saja wajahku tidak berubah menjadi merah hingga membuat pak Amir menjadi curiga dan meledekku.
...***...
“Makasih ya pak Amir udah anterin Serina ke sekolah” ucapku pada pak Amir saat mobil yang kami tumpangi sudah berhenti tepat di depan gerbang sekolah
“Iya neng sama-sama, udah tugas pak Amir juga buat nganterin neng Serina ke sekolah” jawab pak Amir dengan tersenyum tulus menatapku yang duduk di jok belakang dari kaca mobil
“Pak Amir pulangnya ati-ati ya, Serina masuk dulu” ucapku lagi pada pak Amir setelah berhasil turun dari mobil
“Iya neng. Neng Serina semangat sekolahnya ya, bapak pulang dulu mau siap-siap nganterin neng Saemi sama nyonya ke bandara” ucap pak Amir sebelum kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang untuk kembali ke rumah
Akupun mulai melangkahkan kakiku memasuki halaman sekolah setelah mobil pak Amir sudah tidak lagi terlihat oleh pandangan mataku. Dengan semangat, aku menaiki tangga yang menghubungkan gedung lantai satu dengan lantai dua dimana kelasku berada.
Masih sedikit sepi, karena memang jam masuk sekolah baru akan berbunyi sekitar empat puluh menit lagi. Hanya siswa dengan label teladan saja yang saat ini sudah berada di sekolah. Entahlah, apa Arka termasuk dalam kategori siswa teladan yang akan berangkat ke sekolah sepagi ini atau malah termasuk kedalam kategori badboy yang baru akan berangkat ke sekolah lima menit setelah bel masuk berbunyi?
Untuk mengatasi suasana sepi saat berjalan menyusuri lorong-lorong kelas, akupun mengeluarkan ponsel dan airpod dari dalam saku seragamku untuk memutar musik. Setelah berhasil menemukan lagu yang cocok untuk didengarkan dari playlistku, tanganku kemudian dengan gesit membuka kontak telepon untuk mecari nomor Alea dan mengiriminya pesan
^^^To: Alea^^^
^^^Alea, kamu udah siap-siap berangkat sekolah?^^^
From: Alea
Morning Ser, baru bangun mau mandi
Kamu udah nyampe sekolah?
^^^To: Alea^^^
^^^Udah Al tadi bangunnya kepagian. Kamu cepetan datang ya^^^
From: Alea
Rajin banget sih murid teladan
Tungguin aku Ser, 15 menit lagi nyampe sekolah, see u
Setelah mendapat balasan dari Alea, aku kembali memasukkan ponselku kedalam saku seragamku dan melanjutkan langkahku menuju ruang kelas ditemani dengan alunan musik dari ponselku.
Aku sempat berfikir untuk pergi ke kantin sambil menunggu Alea sampai ke sekolah. Tapi memikirkan kejadian kemarin saat bertemu dengan Laura dikantin dan terpaksa harus mendengar ocehan yang tak kuketahui kemana arahnya hingga bel masuk berbunyi membuatku cepat-cepat membatalkan niatku dan berjaan dengan cepat menuju kelas.
Setelah sampai di depan ruang kelas akupun menghembuskan napas lega karena ternyata pintu kelasku masih tertutup rapat yang menandakan bahwa belum ada teman sekelasku yang datang dan masuk ke dalam kelas, termasuk Arka. Akupun dengan santai membuka pintu kelasku hingga kemudian mataku menangkap keberadaan seseorang yang sedang duduk santai dengan memegang sebuah buku ditangannya.
“Arka?” ucapku terkejut setelah berhasil mengenali seseorang tersebut yang ternyata adalah Arka. Entahlah, apakah saat ini aku harus bersyukur atau mengeluh bisa bertemu dengan Arka sepagi ini dikelas
“Eh Serina, selamat pagi. Ternyata kamu juga termasuk kategori siswa rajin yang berangkat pagi ke sekolah ya?” sapa Arka saat menyadari kedatanganku, lagi-lagi dengan senyuman manis yang berhasil mencuri perhatianku dihari pertama kita bertemu.
“Ah… Eh…itu, nggak juga sih tadi cuma bangun kepagian aja” ucapku gelagapan menjawab pertanyaan Arka. Hanya dengan melihat wajah dan mendengar suaranya saja bisa membuatku gelagapan seperti ini. Bukankah seharusnya aku senang karena keinginanku untuk bertemu Arka di sekolah hingga berani menolak permintaan papa untuk mengantar orangtua Saemi ke bandara dikabulkan seperti ini? Bahkan saat ini hanya ada aku dan Arka dikelas, tapi bagaimana bisa aku malah menjadi gugup dan gelagapan seperti ini?
“Kalau kamu sendiri? Kamu biasa berangkat sekolah sepagi ini?” tanyaku sambil meletakkan tas punggungku ke atas meja. Jujur saja saat ini aku sedang bersusah payah untuk bersikap normal dan tidak memperlihatkan rasa gugupku didepan Arka
“Kalo aku emang selalu berangkat jam segini ke sekolah” jawabnya singkat sambil menutup buku tebal yang sedari tadi dibacanya. Satu lagi pesona Arka yang kusadari hari ini, ternyata dia adalah tipe anak yang suka membaca buku
“Kenapa suka berangkat pagi? Biasanya anak cowok kan lebih suka berangkat kalo udah mepet bel masuk?” tanyaku lagi pada Arka
“Kenapa ya? Nggak ada alasan khusus sih sebenernya, aku cuma seneng aja menikmati suasana sepi sekolah pagi hari gini sambil belajar atau baca buku” jawabnya panjang lebar sambil sedikit menarik kursiku kebelakang untuk membantuku duduk. Aku benar-benar sudah menyerah saat ini, mana bisa aku tidak tersipu ketika mendapatkan perlakuan seperti ini dari Arka?
“Ohhh, yaudah kalo gitu dilanjut aja baca bukunya” entahlah, saking gugupnya mulutku sampai tidak mampu mengeluarkan kalimat yang lebih ramah dari ini untuk membalas perkataan Arka
“Eh Ser, kamu nggak pengen ke kantin?” tanya Arka tiba-tiba sesaat setelah aku mendudukkan badanku diatas kursi
“Nggak, kenapa emangnya? Kamu belum sarapan?”tanyaku balik dengan sedikit memutar badan agar bisa menatapnya
“Iya, hehehe. Bisa temenin aku ke kantin nggak?” jawabnya sambil terkekeh. Melihatnya dari dekat seperti sekarang membuatku menyadari bahwa saat terkekeh atau tersenyum, mata Arka akan hilang dan membentuk bulan sabit yang sangat lucu
“Eh, boleh sih. Tapi kalo nungguin Alea dulu gimana? Katanya dia bakal nyampe sekolah 15 menit lagi, takutnya pas dia nyampe aku nggak ada di kelas”
“Yah gimana dong? Aku udah laper banget Ser sekarang. Kita ke kantin dulu aja sekarang, nanti kamu kabarin Alea kalo udah nyampe sekolah suruh nyusulin kita di kantin” rengeknya dengan muka memelas yang berhasil membuat detak jantungku menjadi tidak karuan. Entahlah, saat ini aku juga tidak tau harus menanggapi hal ini sebagai berkah atau musibah bagi kesehatan jantungku.
...***...
“Makanan yang paling enak disini apa Ser?” tanya Arka saat kami sudah sampai dikantin. Begitulah, setelah melihat muka memelas Arka aku memilih merelakan kesehatan jantungku untuk pergi berdua dengan Arka ke kantin
“Aku juga kurang tau sih Ka, soalnya aku jarang banget pergi ke kantin. Tapi kayanya batagor mang Ayus enak deh, soalnya Alea sering banget beli batagor mang Ayus” jawabku jujur pada Arka. Selama setahun sekolah disini, aku memang sangat jarang pergi ke kantin karena mamaku selalu membawakan bekal untukku
“Uuuuu, kamu tipe anak rajin yang lebih milih pergi ke perpustakaan daripada ke kantin pas jam istirahat ya?” ledeknya sambil mengacak pelan rambutku. Apakah dia benar-benar tidak sadar jika dari tadi sikapnya telah berhasil membuat jantungku tak karuan?
“Nggak juga sih, soalnya mamaku suka marah kalo aku jajan sembarangan. Jadi lebih sering dibawain bekal” jawabku dengan mengatur suara senormal mungkin
“Oh gitu, jadi anak mama nih…” godanya lagi sambil sedikit membungkukan badannya agar bisa dengan leluasa menatap wajahku dan menggodaku. Entahlah, aku sudah pasrah jika saat ini Arka melihat wajahku yang sudah berubah menjadi kepiting rebus
“Kamu kesini mau makan apa mau ledekin aku sih? Kalo kamu emang mau ledekin aku mendingan aku balik aja deh ke kelas” ucapku ketus pada Arka. Meskipun aku berkata ketus, tapi didalam hatiku tetap saja berdebar-debar menanggapi perlakuan Arka kepadaku
“Hahahaha, ternyata bener ya kata Alea kalo kamu galak banget. Iya iya aku pesen batagor dulu, kamu mau makan apa? biar sekalian aku pesenin?” jawabnya sambil tertawa puas seihngga membuat dua buah bulan sabit kembali menghiasi wajah tampannya. Entah kenapa dibandingkan dengan lesung pipi yang ada di pipi kirinya, aku lebih suka melihat bulan sabit yang terbentuk dari kedua matanya saat sedang tertawa lepas
“Kamu aja yang pesen makan, aku tadi udah sarapan” jawabku sambil berlalu menuju salah satu meja yang tersedia di kantin
“Okedeh kalo gitu, aku pesen dulu ya. Kamu diem-diem disana dulu” ucapnya dengan berlalu menuju kedai batagor mang Ayus
Lima menit berlalu sejak aku duduk sambil mengedarkan pandangan keseluruh bangunan kantin untuk menunggu Arka. Saat menatap kedai mang Ayus, kulihat Arka sedang berjalan ke arahku dengan semangku batagor ditangannya. Setelah sampai dan meletakkan mangkuk batagor diatas meja, ia kembali berlalu menuju salah satu kedai yang ada dikantin. Mungkin dia tadi lupa beli minum?
Tak!
Tak lama, Arka kembali dengan meletakkan sebotol air mineral dan susu stroberi diatas meja yang membuatku sontak mengangkat kepala dan menatapnya penuh tanya.
“Buat kamu” ucap Arka seakan bisa mengerti arti tatapanku
“Hah? Kan aku nggak pesen” balasku bingung saat menerima sebotol susu stoberi dari Arka
“Mama kamu cuma larang kamu jajan sembarangan. Jadi kalo minum susu boleh kan?” jawabnya singkat sambil menyuap potongan batagor kedalam mulutnya
“Tapi kok kamu tau aku suka susu stroberi?” tanyaku penasaran. Mana mungkin kebetulan bisa memihakku seperti ini?
“Hmmm, sebenernya aku cuma nebak aja sih. Setauku kebanyakan anak normal suka minum susu coklat, tapi karena kamu beda dari mereka jadi kutebak kamu lebih suka susu stroberi daripada susu coklat. Ternyata tebakanku bener kan?” jawabnya sambil terkekeh melihat ekspresi bingungku saat mencerna penjelasannya
“Maksud kamu aku nggak normal?” tanyaku dengan bersungut-sungut. Meskipun yang dikatakan Arka adalah sebuah ledekan, entah kenapa aku tetap merasa berdebar mendengarnya. Entahlah, mungkin saat ini aku sudah benar-benar jatuh dalam pesona Arka. Atau bisa jadi saat ini aku sudah jatuh cinta?