SERINA: I'M AN EXTRA

SERINA: I'M AN EXTRA
MISI TIDAK GAGAL!



Alea dan Arka meminta izin untuk pamit pulang kepada mama setelah jarum jam berwarna putih yang tergantung pada dinding ruang tamu telah menunjukkan pukul satu lewat sepuluh menit. Tentu saja mereka mendapatkan izin untuk pulang dari mama setelah perut mereka terisi penuh karena mama terus memaksa Alea juga Arka untuk ikut makan siang bareng dirumah kami dengan ancaman bahwa mereka tidak akan diizinkan pulang kerumah sebelum menghabiskan nasi serta lauk pauk yang telah mama hidangkan diatas meja makan


Setelah mengantar Alea dan Arka hingga depan gerbang rumah, kini aku tengah sibuk membantu mama untuk membereskan sisa lauk yang masih ada di meja makan serta mencuci piring dan gelas kotor yang kami gunakan selama makan siang tadi


Kedua tangan mama dengan gesit mengoleskan busa tebal yang keluar dari spons cuci piring dan untuk menyapu setiap noda makanan yang menempel pada piring. Sedangkan tugasku adalah menjadi asisten mama, membilas perabot makan yang telah berhasil mama olesi sabun kemudian mengelapnya hingga kering dan mengkilap sebelum menatanya piring-piring serta gelas-gelas tersebut kembali ke dalam lemari


Disaat sedang bekerja seperti sekarang ini, hanya akan ada suara gemericik air mengalir dari lubang kran yang jatuh mengenai badan piring atau gelas yang terdengar. Karena memang mama sangat tidak suka juka harus membagi fokusnya bekerja dengan mengobrol. Menurut mama, pekerjaan yang sedang kita lakukan tidak akan pernah selesai jika kita mengerjakaannya dengan fokus yang terbelah antara bekerja dengan mengobrol. Untuk itu, mama selalu mengatakan padaku bahwa mengobrol merupakan larangan keras untuk dilakukan saat sedang bekerja. Dan karena mama selalu mengatakan hal itu kepadaku sedari kecil, maka saat ini aku sudah terbiasa dengan budaya yang mama ciptakan untuk tidak mengobrol sebelum pekerjaan yang sedang dikerjakan itu selesai


Mama mengambil piring kotor terakhir yang ada pada bak cucian, mengoleskan busa sabun ke setiap sisinya untuk memastikan tidak akan ada satu kotoranpun yang terlewat untuk dibersihkan sebelum menyerahkan piring yang penuh dengan busa itu kepadaku. Setelahnya, mama membilas busa yang menempel ditangannya menggunakan air kran yang sedaritadi tidak pernah berhenti mengalir. Mengeringkan tangannya yang basah menggunakan handuk kecil yang ada di pojok dapur karena memang papa belum membelikan mesin pengering tangan baru setelah mesin yang lama sudah rusak beberapa bulan yang lalu


Mama melangkahkan kakinya menuju meja makan yang terletak tepat disebelah dapur, mendudukkan tubuhnya pada salah satu kursi yang ada disana sebelum berbicara “Ser, kamu siapin makan siang buat Saemi gih. Karena tadi ada temen-temen kamu ikut makan siang dirumah, Saemi jadi nggak bisa ikutan makan siang bareng kita” ucapannya terjeda dengan aktivitasnya yang sedang meneguk air putih yang baru saja ia pindahkan dari teko kedalam gelas bersih dihadapannya


“Kalau nggak cepetan kamu bawain makan siang sekarang, mama takut penyakit lambungnya bakal kumat lagi” sambung mama lagi setelah meneguk habis satu gelas air putih dari dalam gelas


Aku hanya mengangguk, mengelap tanganku yang masih basah menggunakan handuk kecil yang ada disudut dapur persis seperti yang dilakukan oleh mama beberapa saat lalu. Mengambil satu piring lengkap dengan sendok dan garrpu dari dalam lemari. Membawanya menuju meja tempat mama menaruh rice cooker dan mengisinya dengan satu centong nasi yang masih mengepulkan uap panas. Mengambil dua potong daging rendang yang tadi sengaja mama sisihkan untuk Saemi dari dalam tudung saji yang ada di meja dapur. Terakhir, tak lupa aku mengeluarkan kimchi lobak yang mama buat khusus untuk Saemi dua hari yang lalu dari dalam kulkas untuk menyempurnakan hidangan makan siang Saemi


Setelahnya, aku mengambil nampan kecil dari dalam lemari. Menata piring yang sudah terisi penuh dengan nasi lengkap beserta lauk daging dan kimchi lobak diatasnya. Meraih gelas bersih yang ada diatas meja dapur kemudian mengisinya dengan air putih hingga penuh sebelum memindahkan gelas tersebut ke atas nampan berwarna coklat tua dihadapanku untuk menemani sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk dengan garpu serta sendok berada pada sisi kanan dan kirinya yang sudah terlebih dahulu aku siapkan


Sesampainya di depan pintu kamar Saemi, aku menghentikan langkahku selama beberapa saat, menatap pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. Kelepaskan salah sat pegangan tanganku pada nampan berisi makanan untuk mengetuk daun pintu dihadapanku “Saem…Ini Serina, aku bawain makan siang buat kamu. Aku masuk ya”


Tidak ada jawaban apapun yang terdengar dari dalam kamar Saemi. Mungkin saja saat ini Saemi masih tertidur pulas karena letih terlalu banyak menangis ketakukan akibat ulahku beberapa saat lalu. untuk itu, aku memutuskan langsung memutar gagang pintu kamar Saemi dan masuk kedalamnya tanpa harus mendapatkan izin dari Saemi


Tebakanku seratus persen tepat. Karena setelah berhasil membuka pintu kamar Saemi, pemandangan pertama yang tertangkap oleh kedua mataku adalah Saemi yang sedang tertidur pulas dengan selimut berbulu tebal yang hampir menyelimuti seluruh tubuhnya kecuali kepalanya. Posisinya masih sama persis saat aku keluar dari kamar ini dan meninggalkannya beberapa saat lalu. Mungkin saat ini badannya terlalu lelah barang hanya digunakan untuk merubah posisi tidurnya


Aku menutup kembali pintu kamar Saemi. Melangkahkan kakiku untuk semakin mendekat kearahnya. Meletakkan nampan berwarna coklat yang sedari tadi kupegang menggunakan kedua tanganku ke atas nakas yang ada disamping kanan tempat tidur Saemi


Saat ini wajahnya benar-benar terlihat sangat kelelahan. Aku menundudukkan tubuhku diatas kasur Saemi, mengelus pelan rambut hitamnya yang terlihat berantakan. Merapikan anak rambut yang menghalangi wajah menggemaskannya dan menyelipkannya pada daun telingannya. Aku kembali membisikkan kata maaf. Meskipun tau bahwa kata maaf itu tidak akan pernah sampai pada Saemi karena saat ini ia masih tertidur sangat pulas


Aku menghembuskan napasku berat, merasa tega tidak tega untuk membangunkannya dari dunia mimpi yang mungkin saja terasa beribu kali lebih membahagiakan juga menyenangkan bagi Saemi. Namun, mengingat penyakit lambung Saemi yang bisa saja kumat karena telat makan siang aku segera menyingkirkan rasa tidak tega dalam diriku dan bergegas menggerakkan tanganku menepuk pelan keuda pipinya. Mencoba membangukan Saemi dari perjalanan panjangnya di alam mimpi


“Saemi bangun…” ucapku dengan suara lirih sambil menepuk pelan kedua pipinya menggunakan telapak tanganku. Tidak ada respon apapun yang ditunjukkan oleh Saemi. Matanya masih terpejam, mulutnya yang sedikit terbuka sesekali mengeluarkan dengkuran yang terdengar samar


“Saemi ayo bangun sebentar…. Ini aku bawain makan siang buat kamu” bukan hanya menepuk pelan pipinya menggunakan telapak tanganku, kali ini aku mencoba cara yang lebih ekstrim dengan membuka selimut yang masih setia membungkus tubuhnya untuk memberikan kehangatan kemudian menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ada pada kedua tanganku


Saemi hanya melenguh panjang, sebelum akhirnya mengganti posisi tidurnya menjadi miring kesamping kiri dan membelakangiku. Sementara tangannya dengan cekataan menarik kembali selimut yang baru saja aku singkap untuk kembali membungkus serta memberikan kehangatan pada tubuh berisinya


Merasa kehabisan akal, aku memutuskan untuk menggunakan senjata terakhirku yang tidak pernah sekalipun gagal saat membangunkan Saemi dari tidur pulasnya. Tanganku dengan gesit mengambil piring yang berada diatas nakas. Menghirup aroma nikmat dari kepulan nasi panas juga potongan daging rendang dan kimchi lobak yang tersaji diatasnya


Sekilas aku menatap punggung Saemi yang membelakangiku. Menyunggingkan smirk yang jarang sekali aku perlihatkan pada siapapun. Aku berdiri dari dudukku, berjalan memutari tempat tidur Saemi agar dapat kemabli melihat wajahnya yang masih tertidur pulas. Mendekatkan piring berisi nasi lengkap dengan lauk pauk yang ada dihadapanku pada lubang hidung Saemi


“Nghhhhh……” lenguhan panjang kembali terdengar dari mulut Saemi tak lama setelah dengan sengaja aku meletakkan piring yang saat ini aku pegang menggunakan satu tangan kea rah lubang hidungnya


Saemi kembali membalikkan badannya. Matanya yang sedari tadi terpejam mulai terbuka dengan perlahan. Ia mengucek kedua matanya pelan, masih merasa asing dengan cahaya yang kembali masuk ke dalam matanya


“Aku bawain makan siang buat kamu” ucapku sambil membalas tatapan Saemi sambil meraih sendok beserta garpu yang masih berada diatas nampan dan meletakkan kedalam piring


Aku mengambil segelas air yang juga masih berada diatas nakas, menyerahkannya pada Saemi dan menyuruhnya untuk meminum beberapa teguk air yang ada didalam gelas tersebut “Kamu makan siang dulu ya biar lambungnya nggak kumat, habis itu baru tidur lagi”


Saemi mengangguk, meraih segelas air dari tanganku dan meneguknya hingga tersisa setengah. Tapa perlu menunggu dua kali aba-aba ataupun perintahku untuk makan, tangan Saemi sudah dengan gesit merampas piring yang ada ditanganku. Menyendokkan nasi dengan kimchi lobak yang ada didalamnya dan segera memasukkannya ke dalam mulut


Aku tersenyum, menatap Saemi yang dengan lahap mengunyah setiap bulir nasi di piringnya. Menaikkan kakiku keatas kasur dan ikut merebahkan punggungku pada sandaran yang ada di ujung tempat tidur Saemi


“Saem…” aku memanggil namanya pelan, pandangan mataku menatap kosong kedepan tanpa menoleh kearahnya


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Saemi, karena memang saat ini mulutnya masih penuh dengan nasi dan giginya sedang sibuk menghaluskan makanan yang ada di dalam mulutnya


Aku kembali membuka suara, sedikit menoleh pada Saemi yang berada disampingku


“Maafin aku ya Saem” ucapku lirih penuh penyesalan pada Saemi karena membuat Saemi harus kembali menghadapi rasa traumanya beberapa saat lalu


Saemi masih terdiam menyimak setiap kata yang keluar dari mulutku. Pandangannya fokus menatap nasi juga lauk yang ada diatas piring, sementara tangannya sibuk menyendok isi piring sebelum memasukkannya kedalam mulut untuk dikunyah


Aku mengambil napas dalam, menundukkan pandanganku menatap selimut berbulu yang saat ini hanya menutupi ujung kaki Saemi sebelum mulai kembali bicara “Gara-gara aku ngajakin temen-temen aku buat belajar bareng di rumah, kamu jadi harus ngalamin trauma kamu lagi kaya tadi” aku memberikan jeda pada kalimatku, mengangkat sedikit kepalaku untuk menatap mata Saemi yang saat ini sudah menghentikan aktivitas makannya “Aku janji, setelah ini aku nggak bakal lagi ngajakin orang asing buat main ke rumah. Jadi kamu mau kan Saem maafin aku?”


Setelah menyelesaikan kalimatku, aku mendengar suara hembusan napas kasar Saemi yang saat ini telah sepenuhnya mengalihkan pandangannya dari piring yang ada ditangannya menatapku “Ser, udah kamu nggak usah terus-terusan ngerasa bersalah sama aku. Aku sebenernya tau kalau tadi temen kamu tiba-tiba masuk ke kamar bukan karena bingung dan salah masuk kamar. Karena sebenarnya semua itu adalah misi yang udah kamu rencanain kan? karena selama ini kamu pengen banget aku ketemu sama temen-temen kamu, kenal sama mereka agar perlahan dapat melepaskan rasa trauma aku” aku tersentak mendengar kalimat yang keluar dari mulut Saemi. Bagaimana bisa dia menjadi sepeka itu dan menyadari bahwa kejadian yang baru saja terjadi beberapa saat lalu adalah misi yang telah aku rencanakan dengan teman-temanku? Namun sebisa mungkin aku mengontrol ekspresi mukaku agar terlihat seakan tidak memahami apa yang baru saja Saemi katakan


“Tadi aku emang kaget banget karena tiba-tiba ada orang asing yang masuk ke dalam kamarku. Ingatan burukku beberapa tahun lalu kembali melintas di dalam kepalaku dan membuatku takut setengah mati karena berfikir kejadian mengerikan itu akan kembali menimpa diriku” Saemi memberikan jeda. Mengambil napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya “Tapi kamu lihat kan? sekarang aku udah nggak apa-apa Ser, aku udah nggak takut lagi karena tadi kamu langsung masuk dan meluk aku. Sekarangpun kamu masih ada disamping aku, nemenin aku dan nggak akan biarin aku ngerasa ketakukan lagi kaya tadi”


Saemi mengalihkan pandangannya, menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong “Setelah kejadian tadi aku jadi mikir untuk mempertimbangkan kembali ucapan kamu waktu itu Ser. Saat kamu ngomong apapun pilihan yang akan aku buat, kamu bakal selalu ada disamping aku untuk terus ngelindungin aku dari orang-orang jahat. Omongan yang udah kamu buktiin beberapa saat lalu”


Pandanganku semakin lekat menatap manik mata Saemi. Merasa bersalah sekaligus senang karena pada akhirnya Saemi melihat niat baik yang aku lakukan untuknya. Sementara kedua telingaku terus terbuka lebar, bersiap untuk kembali mendengarkan kalimat yang akan keluar dari mulut Saemi “Untuk sekarang aku memang belum siap kalau kamu paksa buat sepenuhnya lepas dari rasatrauma aku Ser. Tapi seperti apa yang selalu kamu bilang akhir-akhir ini bahwa aku nggak bisa terus-terusan lari dan sembunyi dari rasa sesuatu yang membuatku trauma seperti sekarang ini”


“Aku harus mulai berani untuk bangkit dari rasa takut ini. mulai kembali membuka diir untuk menunjukkan diri pada dunia karena aku sadar nggak selamanya orang tua aku, orang tua kamu dan juga kamu bakal selamanya ulur tangan buat bantuin atau ngelindungin aku”


“Seperti yang pernah kamu bilang juga waktu itu kalau nggak semua manusia di dunia ini jahat kaya mereka. Buktinya masih ada orang baik kaya kamu, imo, samchon, eomma, appa yang selalu ada di samping aku, juga temen-temen kamu tadi yang mau bantuin kamu buat ngejalanin misi yang udah kamu susun demi bisa membutku lepas dari rasa traumaku”


“Jadi setelah beberapa hari terakhir ini aku pertimbangin matang-matang, kayanya aku bakal terus ngerepotin kamu juga temen-temen kamu buat bantuin aku Ser”


“Mulai dari orang terdekat kamu, aku pengen perlahan-lahan kembali membuka diri”


“Dan kalau bantuan yang pernah kamu tawarin ke aku beberapa lalu masih berlaku, aku pengen ambil kesempatan itu sebagai pijakan untuk kembali bangkit. Aku mau ketemu dan kenalan sama mereka, bahkan kalau mereka bersedia dan kamu izinin aku mau berteman sama mereka Ser”


Aku tersenyum lebar mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Saemi, menghamburkan diriku kedalam pelukannya yang selalu terasa hangat dan nyaman. Dalam hati aku terus-menerus berteriak kegirangan. Bahagia karena misi yang beberapa saat lalu aku anggap gagal ternyata malah berjalan semulus dan seberhasil ini