
Senin-
Aku berjalan dengan langkah gontai menuju ruang kelasku yang berada pada lantai dua bangunan sekolah dengan airpod yang terpasang di kedua telingaku. Mendengarkan lagu dari playlist yang sengaja Saemi buat khusus untukku setelah beberapa hari ia tinggal dirumah. Meskipun tidak paham dengan arti dari lirik lagunya yang menggunakan bahasa Korea, namun aku sangat menikmati setiap nada yang mengalun dari airpod yang terhubung dengan ponsel yang berada dalam saku seragamku
Mataku terasa sangat berat karena kemarin malam aku harus bergadang untuk menuntaskan materi juga latihan soal yang diberikan pak Bagus untuk dipelajari secara mandiri di rumah selama akhir pekan. Meskipun begitu, aku tetap memaksa kedua mataku agar sebisa mungkin terus terbuka lebar supaya aku dapat berjalan dengan seimbang dan tidak menabrakkan tubuhku pada dinding ataupun menyandungkan kakiku pada undakan yang ada disetiap sisi bangunan sekolah
Setelah kejadian di kedai es krim pada hari sabtu sore kemarin, aku kembali mengundang Arka dan Alea untuk belajar bersama di rumah atas permintaan Saemi. Tentu saja hal itu membuatku merasa sangat senang, karena ternyata misi yang telah aku rencanakan serta jalankan dengan bantuan Arka dan Alea tidak berakhir sia-sia. Meskipun pada saat pertama kali menjalani misi tersebut, aku kembali membuat Saemi merasa ketakutan karena harus menghadapi rasa traumanya. Namun, pada akhirnya misi yang kurencanakan tersebut mampu membangkitkan tekad Saemi untuk tidak lagi terpuruk pada kenangan buruk masa lalu. Membangkitkan keberanian Saemi untuk menghadapi rasa traumanya dengan memintaku untuk kembali mengundang Arka juga Alea kerumah
Pada hari itu, aku dan Arka belajar dan berlatih mengerjakan latihan soal hingga jam makan siang tiba. Setelahnya, kami pergi ke taman mini yang ada di halaman belakang rumahku untuk bermain bersama. Sebenarnya aku berfikir bahwa keputusan untuk mengajak Saemi bermain bersama dengan Arka dan Alea di taman belakang adalah ide yang buruk. Mengingat pada pertemuan kami di kedai es krim beberapa hari yang lalu, Saemi terlihat masih canggung dan enggan untuk bertemu apalagi berbincang dengan kedua temanku itu. Tapi ternyata dugaanku salah besar, misi yang telah aku jalankan ternyata berjalam sukses lebih dari apa yang aku bayangkan. Karena ternyata hanya dengan memberikan waktu untuk Alea dan Saemi saling mengenal dan berbicara diruang tengah selama aku dan Arka belajar diruang belajar, Alea sudah dapat mengobrol akrab dengan Saemi
Sampai saat ini aku juga belum mengerti, bagaimana bisa siang itu Alea sudah dapat bergosip ria dengan Saemi membicarakan tentang salah satu karakter drama Korea yang baru saja ia tonton bersama diruang tengah selam aku dan Arka tengah sibuk belajar diruang belajar. Mungkin saja selama ini yang Saemi butuhkan untuk keluar dari rasa traumanya adalah dorongan dari orang terdekatnya yang dapat menunjukkan kepadanya bahwa dunia tidaklah semengerikan seperti apa yang ia kira selama tiga tahun terakhir ini. Dan manusia tidaklah sejahat seperti apa yang ia pikirkan selama ini
Setelah hampir setengah hari belajar dan melakukan simulasi mengerjakan soal, sama sekali tidak membuat Arka merasa cukup dan puas. Karena pada malam harinya, Arka kembali menghubungiku melalui panggilan video. Mengajakku untuk kembali berdiskusi membahas materi yang masih belum kita kuasai juga mengulas kembali beberapa butir soal jebakan yang selalu kita jawab salah baik itu karena salah meletakkan angka ataupun salah memasukkan rumus
Dan pada akhirnya, aku harus memaksa otakku untuk terus berputar semalaman. Memaksa mataku yang semakin memberat untuk terus terbuka, serta memaksa tanganku untuk terus menulis dan menghitung angka-angka. Bergadang untuk mencari bagaimana trik yang harus kita jalankan agar tidak kembali terjebak dan menjawab salah pada jenis soal yang sama sewaktu pengerjaan saat hari-H olimpiade nanti
Dengan malas aku melangkahkan kakiku menaiki puluhan anak tangga yang menyambungkan lantai satu dengan lantai dua dimana kelasku berada. Sesekali aku menganggukkan kepalaku untuk menanggapi sapaan yang diberikan oleh beberapa teman atau kakak kelas yang mengenalku saat sedang berpapasan atau saat aku sedang melewati ruang kelasnya
Setelah berhasil melewati semua anak tangga yang ada, aku masih harus berjalan melewati beberapa ruang kelas sebelum akhirnya sampai pada ruangan dengan sebuah papan kayu yang menggantung rapi di atas daun pintunya yang bertuliskan XI MIPA4
Aku melepas airpodku sebelum melangkah masuk kedalam kelas. Masih sepi, hanya ada beberapa anak yang tengah sibuk menyalin tugas dari teman kelas sebelah yang harus dikumpulkan pada jam pertama nanti serta dua siswa perempuan yang sibuk menyapu lantai melakukan tugas piket mereka
Dan tentunya satu dari beberapa anak yang sudah hadir dikelas adalah Arka. Berbeda dari anak-anak lain yang tengah sibuk menyalin tugas, Arka saat ini tengah sibuk membaca bandel tebal berisikan kumpulan materi yang sengaja pak Bagus kumpulkan dan rangkum menjadi buku sakti yang dapat kami gunakan sebagai senjata untuk menghadapi soal-soal olimpiade dihari kamis nanti
Aku melangkah memasuki kelas, melambaikan tangan untuk menyapa beberapa teman kelasku yang menyempatkan diri menengok ke arah pintu kelas saat menyadari kehadiran seseorang ditengah kesibukannya menyalin jawaban. Sementara kulihat Arka masih sibuk membaca deretan kalimat yang tertulis dalam bandel tebal ditangannya itu tanpa terusik dengan suara ribut teman-teman dikelas yang sedang berebut untuk membalik lembar jawaban yang telah berhasil mereka salin
“Kamu berangkat jam berapa tadi?” tanyaku pada Arka sambil meletakkan bandel tebal yang sama persis dengan yang Arka pegang saat ini diatas meja sebelum menggantungkan tas punggung berwarna biru yang sudah kupakai dari hari pertama masuk SMA pada gantungan kecil yang ada dimeja
“Kurang tau persisnya sih, mungkin jam 06.15?” jawab Arka singkat dengan pandangan yang masih belum teralihkan dari lembaran kertas yang ada dihadapannya
“Kamu nggak ngantuk karena harus bangun pagi setelah semalaman begadang belajar?” tanyaku lagi dengan tangan yang saat ini sibuk meraih bendel tebal yang baru beberapa saat lalu aku letakkan diatas meja, membuka lembar halaman yang semalam sudah aku tandai menggunakan pembatas kertas karena tidak sempat aku tuntaskan
Dengan pandangan yang belum beralih dari bendel tebal dihadapannya, Arka kembali membuka suara untuk menjawab pertanyaanku “Agak pusing dikit sih, tapi setelah mandi dan sarapan udah nggak kerasa lagi”
Setelah menuntaskan kalimatnya, ia meletakkan bandel tebal yang ada ditangannya. Merenggangkan tangannya sebelum fokusnya beralih menatapku dengan dahi yang berkerut “Kamu masih ngantuk ya? Kantung mata kamu gede banget, kamu nggak biasa begadang?”
Aku hanya mengangguk kecil, sementara pandannganku fokus menatap gerakan lincah tanganku yang saat ini sedang mencoret-coret lembar latihan soal menggunakan pensil mekanik berwarna biru tua yang sudah terlihat usang
Melihat responku yang enggan membalas ucapannya dengan kata-kata, Arka kembali membuka suara “Harusnya semalem kamu bilang dong Ser kalau udah ngantuk, jadi aku nggak nerusin diskusi kita buat bahas soal sampai larut banget”
Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi menunduk mengamati setiap goresan angka yang dibentuk oleh pensil yang kupegang ditangan kiriku. Menatap Arka yang saat ini juga tengah mentapku dengan perasaan bersalah “Ya aku nggak enak lah Ka…Pas hari sabtu kemarin waktu belajar kita kan udah keganggu gara-gara aku. Masa waktu belajar semalem juga harus keganggu lagi cuma gara-gara aku ngantuk sih?”
Arka menghembuskan napasnya kasar, melipat kedua tangannya dan meletakkannya diatas meja. Memajukan sedikit tubuhnya, menjadikan jarak diantara kita menjadi semakin sempit. Pandangan matanya masih fokus menatap mataku yang tentu saja langsung direspon dengan degupan jantungku yang menjadi tidak karuan karena harus ditatap dengan tatapan intens dari jarak sedekat ini “Ya ampun Ser, kok kamu ngungkit masalah itu lagi sih? Kan kemarin aku udah bilang, aku sama Alea dateng kerumahmu karena kita juga setuju buat bantuin kamu ngejalanin misi itu” Arka kembali memundurkan badannya, memberikanku ruang untuk kembali bernapas sebelum ia melanjutkan kalimatnya “Lagian pas hari sabtu kita nggak sepenuhnya gagal belajar bareng kan? Kita ngejalanin misi juga setelah selesai belajar, jadi santai aja Ser”
Aku hanya mengangguk, mengembalikan fokus atas diriku sendiri yang sedari tadi sibuk menatap mata indah milik Arka untuk kembali melanjutkan aktivitasku memasukkan setiap angka yang ada pada soal kedalam rumus yang telah aku tulis sebelumnya
Merasa bosan dengan bandel tebal yang kembali ia pegang menggunakan kedua tangannya, Arka kembali membuka suara. Menayakan hal yang tentu saja ia sudah ketahui jawabannya untuk sekedar mencairkan suasana “Oh iya, Alea belum berangkat Ser?”
Tanpa kembali menghentikan aktivitas dan mengalihkan pandanganku dari selembar kertas yang telah penuh dengan coretan angka-angka aku menjawab pertanyaan Arka dengan santai “Bukannya yang harusnya nanya itu aku? Kamu kan udah dulu sampai dikelas, kok malah nanya aku yang baru aja banget dateng sih?”
Arka hanya terkekeh, menyadari bahwa pertanyaan yang baru saja ia lontarkan terlihat sangat basa-basi dan bodoh “Bener juga sih. Tapi Ser, kalau nggak ada Alea tuh kerasa sepi banget nggak sih? Kaya nggak ada yang bisa dijadiin hiburan saat ngerasa lagi capek belajar gini”
Aku ikut terkekeh mendengar ucapan Arka. Di dalam hati aku sangat menyetujui ucapannya itu, karena memang kehadiran Alea yang heboh dan berisik selalu mampu memberikan hiburan tersendiri bagiku yang kadang merasa jenuh dan lelah saat belajar di sekolah. Bahkan Arka yang baru seminggu lebih mengenal Alea saja mengakuinya “Memang sih, Alea tuh bikin mood naik banget kalau lagi jenuh belajar dikelas, walaupun kadang bikin darah jadi naik juga karena selalu ngajakin ngomong pas jam pelajaran”
“Tapi gitu-gitu dia adalah satu-satunya temen baik aku selama ini disekolah. Jadi kalau kamu terus-terusan gangguin Alea, nanti aku yang bakal turun tangan langsung buat balas dendam sama kamu” aku melanjurkan kalimatku menjadi candaan dengan melempar tatapan tajam pada Arka
Mendengar nada bicara juga tatapanku yang berubah saat mengucapkan kalimat terakhirku, Arka memeluk tubuhnya sendiri. Memperlihatkan raut muka ketakutan yang sengaja dibuat-buat “Duh takut banget emaknya marah karena anaknya sering aku gangguin”
Aku kembali terkekeh, merasa geli sekaligus gemas melihat tingkah Arka yang dibuat-buat “Udah-udah geli banger lihat kamu begitu. Lagian kenapa malah jadi bahas Alea sih, kalau Alea lagi sarapan gimana? Nanti dia malah keselek lagi”
Arka tertawa lebar menanggapi candaanku, menampilkan deretan giginya yang putih juga dua bulan sabit indah yang terbentuk dari matanya yang menyipit karena tertawa lengkap dengan dimple manis yang bertengger pada pipi kirinya. Benar-benar sempurna!
Tak mau terlalu lama terhanyut dalam pesona Arka yang selalu menjadi candu dan memabukkan, aku segera mencari topik lain yang dapat mengambil alih fokusku “Oh iya, buat soal yang kemarin gimana? Udah nemu solusinya biar kita nggak kejebak lagi pas nanti ngerjain di hari-H nya?”
Arka menggelengkan kepalanya lemas, menghembuskan napas pasrah sebelum menjawab pertanyaanku “Aku udah nyerah deh Ser kalau buat soal yang itu, pusing banget dari semalem mikirin gimana triknya supaya kita nggak kejebak waktu ngerjain. Kayanya emang solusinya cuma ada satu. Kita langsung konsultasi aja sama pak Bagus pas nanti pembinaan, biar sekalian dikasih saran dan bimbingan gimana triknya buat ngerjain tipe soal kaya gitu” aku mengangguk, menyetujui perkataan Arka. Karena biar bagaimanapun kami sudah beberapa kali mencoba untuk menemukan solusinya dan tetap tidak berhasil
Baru saja kami akan melanjutkan aktivitas belajar kami hingga telingaku menangkap suara perempuan yang terdengar sangat nyaring dari arah pintu masuk kelas. Aku dan Arka serempak menoleh kearah sumber suara, mendapati Alea yang sedang berjalan mendekat kearah kami
“Annyeong haseyo yeorobun, Alea wasseubnida!” ucap Alea penuh ceria dengan senyuman lebar yang mengembang diwajah manisnya
Aku hanya menahan tawa mendengar ucapan Alea. Mungkin setelah kemarin bertukar nomor telepon dengan Saemi sebelum pamit dari rumahku, Alea terus menghubungi Saemi untuk mengajarinya berbahasa Korea seperti yang telah Saemi janjikan pada Alea saat sedang bermain bersama ditaman belakang rumah
Sementara aku melihat Arka sedang mengerutkan darinya, mengangkat tangan kanannya dan menempelkannya pada dahi Alea sebelum mulai berbicara “Nggak panas kok, normal suhunya” Arka melepaskan tangannya dari dahi Saemi, kembali memundurkan badannya dan menyandarkan punggungnya pada kursi “Kamu ngomong apa sih Al? Masih pagi loh ini, udah ketempelan aja”
Masih dengan menahan tawaku yang tinggal menunggu waktu untuk meledak, aku menyenggol lengan Arka. Menyuruhnya untuk diam dan berhenti mengganggu Alea yang saat ini terlihat sangat antusias
Alea hanya mendecih menanggapi ucapaan Arka. Kemudian ia bergegas mendudukkan tubuhnya pada bangku yang ada disampingku, melemparkan tasnya dengan sembarang diatas meja. Sedikit memutar kursi yang sedang ia duduki menghadap kearahku sebelum mulai membuka mulutnya dan bicara “Oh iya Ser kamu tau nggak? Aku semalem chattingan sama Saemi sampai malem banget loh. Terus dia ngajarin aku beberapa kosa kata basic bahasa Korea” Alea menjeda kalimatnya. Menarik napasnya selama beberapa detik sebelum kembali bercerita dengan penih antusias “Semalem aku udah apalin beberapa kalimat sebelum tidur, kamu mau denger nggak?”
“Ser, lebih baik kamu suruh Saemi ganti nomor aja deh. Kasian banget kalau dia setiap hari harus bergadang karena ngajarin anak yang ulangan harian bahasa Indonesia nya aja dapet 45” bukan aku yang menanggapi ucapan Alea, melainkan Arka yang langsung dihadiahi bogeman oleh Alea. Sementara aku hanya tersenyum melihat pertikaian antar kedua makhluk dihadapanku itu sambil menusukkan sedotan kecil pada lubang kecil yang ada pada ujung kotak susu stoberi pemberian Arka
“Dih, bilang aja kalau kamu iri karena kemarin Saemi nggak ngasih nomornya ke kamu” “Oh iya Ser aku juga mau ngomong nih sama kamu, lebih baik kamu suruh Saemi hati-hati deh kalau ketemu sama Arka” aku menaikkan kedua alisku, tidak paham dengan ucapan Alea
“Dia tuh dari kemarin aku perhatiin selalu natap Saemi terus, aku takutnya dia suka sama Saemi dan godain Saemi” aku terdiam beberapa saat, menatap kearah Arka yang sedang gelapan menanggapi ucapan Alea. Telinganya terlihat memerah, sementara matanya mengedip beberapa kali sebelum kembali membuka suara untuk merespon ucapan Alea
“Sotoy banget jadi orang! Udah mana tunjukin, katanya udah hafal beberapa kosakata bahasa Korea?” ucap Arka yang masih terlihat gelagapan yang langsung dibalas dengan antusias oleh Alea yang saat ini tengah mengucapkan satu kalimat panjang menggunakan bahasa Korea
Sementara aku kembali tersenyum tipis menanggapi tingkah keduanya. Bukan, tepatnya memaksakan diri untuk tersenyum. Entah kenapa ucapan tak berdasar yang Alea ucapkan beberapa detik yang lalu membuat sesuatu didalam dadaku terasa nyeri?