SERINA: I'M AN EXTRA

SERINA: I'M AN EXTRA
THE ORIGIN



Hari ini adalah hari pertama aku menjadi siswa kelas 11 SMA. Oleh karena itu, untuk menyambut hari pertama masuk ke sekolah setelah libur semester dua minggu lamanya aku memutuskan untuk bangun lebih awal dari hari biasanya.


Jam bergambar doraemon yang tergantung di dinding kamarku masih menunjukkan pukul 06.20 tapi aku sudah siap dengan seragam serta tas sekolahku dan bersiap untuk turun ke meja makan.


Kulihat mama masih belum selesai memasak karena masih sibuk berkutat dengan teflon berwarna biru laut yang baru minggu lalu dibelinya di toko online.


Sambil menunggu sarapan selesai dimasak, akupun mengeluarkan handphone bergambar buah apel berwarna warna merah dari dalam saku seragamku.


Kupasang airpods di kedua telingaku dan kuputar lagu yang entah kenapa selama seminggu ini menjadi lagu favorit yang sering kuputar di playlist. Mungkin karena lagu ini sangat enak didengarkan saat sedang membaca buku?


Kuberitahu saja, aku sangat senang membaca novel. Entah sejak kapan aku mulai tergila-gila dengan novel. Mungkin ketika aku duduk di bagku SMP dan mendapat tugas untuk membuat resensi novel.


Seingatku, saat itu adalah pertama kali bagiku membaca novel romance, dan aku sangat tertarik dengan kisah cinta manis yang disuguhkan oleh penulis. Mungkin sejak itulah aku memulai aksiku untuk mengoleksi novel romance dan berharap suatu saat nanti aku juga akan mengalami kisah cinta yang sama dengan para pemeran utama dalam novel yang aku baca.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mama keluar juga dari dapur dengan teflon berisi nasi goreng udang ditangannya tepat disaat lagu yang kuputar telah berhenti.


Dengan sigap, akupun langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil tiga buah piring lengkap dengan sendok beserta garpu dan kemudian menatanya di meja makan.


Dengan gesit mama mulai menyendokkan nasi goreng kedalam piring sembari berteriak memanggil papa yang entah kenapa setiap pagi selalu lebih sibuk berdandan melebihi mama dan aku.


“Serin, nanti papa nggak bisa jemput kamu ya pulang sekolah”


“Kenapa pa?” bukan aku yang menjawab perkataan papa, melainkan mama


“Papa harus ngecek perkembangan proyek yang ada diluar kota ma” jawab papa sambil menyuap nasi goreng kedalam mulut


“Iya pa, nanti Serin bisa pulang sendiri naik ojol kok” jawabku santai dengan tangan yang sibuk menuang jus jeruk kedalam gelas


“No! nanti mama minta tolong pak Amir aja buat jemput kamu” tolak mama protektif


“Nggak usah ma, kasian Pak Amir udah capek bersih-bersih taman masih disuruh jemput Serina. Serina bisa kok naik ojol” jawabku yang mulai lelah dengan sikap protektif mama


“No excuse! mama nggak suka ah kamu naik ojol gitu. Mama takut nanti kamu diculik lagi” ucap mama yang mulai melantur, yah beginilah nasib menjadi anak satu-satunya dalam keluarga


“Udah Ser, ikutin aja apa omongan mama. Nanti biar pak Amir yang jemput kamu pulang sekolah” Akupun hanya mengagguk pasrah sembail sibuk mengunyah nasi goreng dimulutku.


Setelah melahap habis sarapan buatan mama, papa langsung menuju garasi untuk mengecek keadaan mobil sebelum nanti akan dipakai pergi keluar kota. Tinggal aku dan mama di meja makan yang masih sibuk menghabiskan nasi goreng kami.


“Oh iya Ser mama lupa bilang”


“Apa ma?”


“Besok lusa tante Lusi sama om Gunhoo mau pindahan ke Korea”


“Mau liburan ma?”


“Bukan, pindahan untuk tinggal menetap disana”


“Loh emang kenapa ma? Terus kerjaan om Gunhoo gimana?”


“Neneknya Saemi sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit. Jadi tante Lusi harus kesana untuk merawat neneknya Saemi dan om Gunhoo harus mengambil alih kepengurusan restoran neneknya Saemi. Soal kerjaan, om Gunhoo udah seminggu lalu resign dari kantor papa”


“Kok mama baru kasih aku sekarang sih? Padahal kan rencana pindahnya udah lama. Terus Saemi ikut ke Korea ma?”


“Nah itu yang mau mama sampein ke kamu, Saemi nggak mau ikut pindah ke Korea. Kamu pasti tau kan alasan Saemi? Jadi mulai besok Saemi akan tinggal bareng kita disini”


“Iyasih ma, kasian banget kalo Saemi ikut pindah kesana. Apaladi disana nggak ada orang yang Saemi kenal. Mendingan dia tinggal disini aja bareng kita”


...***...


“Aku masuk dulu ya pa” pamitku sambil mencium punggung tangan papa


“Oh iya, jangan lupa Ser nanti kalau udah selesai sekolah kabarin mama biar dijemput sama Pak Amir. Awas kalo kamu ngotot naik ojol, papa kurangin uang jajan kamu”


“Iya papa” jawabku singkat sembari membuka pintu dan bergegas turun dari mobil


“Hati-hati pa jangan ngebut” ujarku sambil melambaikan tangan ke arah mobil papa yang perlahan mulai berjalan meninggalkan gerbang sekolah


Setelah mobil papa hilang dari pandangan mata, akupun mulai melangkahkan kakiku memasuki gerbang sekolah. Masih sedikit anak yang datang kesekolah, wajar saja ini masih terlalu pagi. Kalau bukan hari pertama masuk setelah libur panjang semester, akupun tidak akan berangkat ke sekolah sepagi ini.


“Serina……..” teriak seorang perempuan saat aku baru akan melangkahkan kakiku menaiki tangga yang menghubungan lantai satu dengan lantai dua


“Alea, kamu bikin malu aja sih pagi-pagi. Nggak lihat kamu sekarang jadi pusat perhatian anak-anak?” ucapku panik sambil melotot kearah Alea yang malah nyengir dengan polosnya


Biar kuceritakan sedikit tentang diriku. Aku adalah anak yang cukup populer disekolah. Banyak dari teman atau guru yang memujiku entah karena parasku yang terbilang cantik atau prestasiku yang cukup bisa dibanggakan.


Meski begitu, aku adalah orang yang tertutup dengan orang lain. Selama sekolah disini aku hanya berteman dekat dengan Alea yang merupakan teman sebangku ku saat kelas 10 maupun saat ini.


Tak ada yang tau tentang sisi diriku yang tergila-gila dengan novel romance dan sisi diriku yang sangat mendambakan kehadiran sosok pangeran berkuda putih dalam hidupku, termasuk Alea.


Dimata semua orang, aku adalah Serina si bocah ambisius yang mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku diwaktu istirahat dan Serina si bocah yang selalu menolak puluhan cowok yang menyatakan perasaan kepadanya dengan dingin. Dari situlah muncul spekulasi bahwa aku adalah anak yang tidak tertarik dengan apapun kecuali pelajaran, termasuk cowok.


Padahal faktanya aku juga sangat mendambakan kehadiran sosok pangeran dalam hidupku. Aku juga ingin merasakan romansa anak SMA seperti yang selalu diceritakan di setiap novel yang aku baca. Tapi yang ku inginkan bukan laki-laki yang mendekatiku hanya untuk bisa terlihat keren karena berhasil mendapatkan gadis dingin sepertiku. Apalagi yang mendekatiku hanya untuk dijadikan bahan taruhan.


Aku tak butuh laki-laki seperti itu, yang kubutuhkan adalah laki-laki dengan pemikiran dewasa yang dapat kuajak berdiskusi dalam hal apapun. Laki-laki dengan sikap tanggung jawab tinggi yang mencintaiku bukan hanya karena kelebihan yang aku miliki. Tetapi lelaki yang juga mencintai setiap kekurangan dalam diriku untuk kemudian dapat membantuku menghapus kekurangan itu melalui kelebihan yang ada pada dirinya.


...***...


“Kita duduk didepan aja ya Al, kayak tahun kemaren”


“Boleh sih, tapi jangan didepan meja guru ya Ser. Kamu mah enak kalo ditunjuk guru untuk ngerjain soal bisa langsung jawab, lah aku?”


“Hahaha, iya-iya kamu aja yang pilih bangku yang penting masih diurutan depan ya Al”


“Ah! deket jendela sini aja ya Ser, jadi enak kalo bosen bisa lihat pemandangan diiluar”


“Boleh”


Karena merasa bosan menunggu jam pertama dimulai, aku dan Alea memilih untuk pergi ke kantin untuk membeli camilan. Sesampainya dikantin, akupun terkejut karena sepagi ini bangku kantin sudah dipenuhi oleh anak-anak yang mungkin tidak sempat sarapan di rumah. Wajar saja jika aku merasa heran melihat pemandangan ini, karena ini adalah kali pertama bagiku pergi ke kantin sepagi ini.


“Mbak Yati aku beli keripik kentangnya satu ya, sama air mineral satu” ucapku kepada salah satu pedagang kantin


“Ini neng, totalnya sepuluh ribu ya” terang mbak Yati sembari mengulurkan bungkusan kresek berwarna hitam kepadaku


Setelah memberikan uang ke mbak Yati, aku memutuskan untuk duduk disalah satu bangku kantin yang kosong karena harus menunggu Alea yang saat ini masih sibuk mengantri untuk membeli seporsi batagor mang Ayus. Entahlah aku juga merasa heran pada Alea, bisa-bisanya dia membeli batagor sepagi ini.


“Eh Serina, tumben udah kekantin pagi-pagi gini” tanya salah seorang temanku keheranan. Wajar saja, siapa yang tidak heran melihat seorang Serina berada di kantin sepagi ini.


“Eh iya nih Lau, daripada bosen nungguin bel masuk. Jadi kekantin aja deh sekalian beli ciki” jelasku singkat pada Laura yang ikut duduk disampingku


“Oh iya Ser, kamu udah denger belum kalau kita bakal kedatangan murid baru?”


“Murid baru? Iya kan tahun ini ada murid kelas 10 baru” tanyaku keheranan. Aku benar-benar bersumpah aku tidak sedang berlagak bodoh kali ini


“Aduh, emang ya tuhan itu maha adil. Kamu cepet nyambung kalo masalah pelajaran, tapi masalah ginian remidi parah”


“Eh emang murid baru gimana?”


“Itu, jadi tadi si Reno kan lewat ruang guru sebelum masuk kelas. Nah nggak sengaja dia liat tuh ada murid yang pake seragam dari sekolah lain. Pasti itu murid baru kan?”


“Oh, murid pindahan maksud kamu? Bilang dong dari awal aku kan jadi bingung”


Akhirnya akupun terpaksa mendengarkan ocehan Laura yang entah menceritakan perihal apa saja sejak duduk tadi. Aku hanya mengangguk sambil sesekali menyahuti pertanyaannya, jika aku tulis semua yang diceritakan mungkin saja aku bisa menerbitkan sebuah novel. Hingga kehadiran Alea dengan bungkusan batagor ditangannya dan suara bel masuk menyelamatkanku dari pidato panjang Laura pagi ini.


...***...


“Ser, kira-kira wali kelas kita kali ini siapa ya?” tanya Alea penasaran sambil celingak celinguk menatap ke arah pintu kelas


“Kurang tau juga sih Al, yang jelas bukan Pak Kasim. Kan Pak Kasim udah jadi wali kelas kita pas kelas 10 kemaren” ucapku santai sambil mengeluarkan buku catatan dari dalam tas. Yah ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur semester, tentu saja aku belum memiliki buku pelajaran untuk disiapkan. Jadi sambil menunggu wali kelas masuk, aku mengeluarkan buku catatan dan kotak pensil dari dalam tasku untuk nanti akan kupakai mencatat jadwal pelajaran


“Semoga wali kelas kita kali ini Bu Diyan deh” ucap Alea sambil melenguh panjang


Lima belas menit berlalu semenjak bel masuk berbunyi. Tapi tak ada tanda-tanda akan ada wali kelas yang masuk. Kelas yang sedari tadi tenang pun akhirnya perlahan mulai menjadi gaduh.


Teman-teman sekelasku sibuk bercerita pengalaman mereka saat liburan semester. Ada yang menyombong mereka liburan keluar negri lah, ada yang pergi ke acara konser idol favoritnya atau keluhan karena tidak diajak pergi liburan orangtuanya.


Mendengar kebisingan kelas yang membuat kepalaku pusing, akupun mengeluarkan airpod dan hp dari saku seragamku. Baru saja aku selesai mengaitkan airpod ke kedua telingaku dan berniat untuk memutar lagu dari playlistku, kudengar samar-samar suara derap langkah kaki berjalan menuju arah kelasku yang kemudian menggagalkan aksiku untuk


mendengarkan lagu.


“Morning anak-anak” sapa pemilik suara derap langkah kaki itu saat memasuki ruang kelas


“Maaf ya ibu sedikit telat masuk kelas. Karena tadi pagi ibu harus membantu menyelesaikan proses administrasi murid baru” ucapnya dengan suara yang khas dan berhasil membuat seisi kelas bersorak kegirangan.


Entahlah apa yang membuat mereka bersorak kegirangan. Apakah karena wali kelas kita kali ini Bu Diyan- guru muda yang cantik dan baik bak bidadari- ataukah perkataan bu Diyan yang menyebut akan ada murid baru di sekolah ini.


Ngomong-ngomong soal murid baru, aku jadi teringat salah satu celotehan Laura tadi pagi dikantin yang membahas soal murid baru. Hebat juga dia bisa tau segala informasi terbaru di sekolah ini.


“Wah, murid barunya cowok bu? Kelas 11 apa kelas 12 bu?” tanya Alea heboh tepat ditelingaku. Entah apa yang membuat dia seheboh ini, kalau saja dia bukan teman baikku sudah ku bungkam mulutnya pakai kaos kaki


“Tenang-tenang, karena itulah ibu jadi telat masuk kelas pagi ini. Karena murid baru itu akan bergabung bersama kita dikelas ini” ucap bu Diyan yang berhasil membuat kelas menjadi riuh untuk yang kedua kalinya pagi ini


“Ayo silahkan masuk” ajak Bu Diyan kepada anak yang mungkin sedari tadi telah berdiri didepan pintu kelas tanpa sepengetahuan kami


Suara derap langkah mulai terdengar disambut dengan munculnya sosok pria tampan berkulit putih cerah dengan postur badan tegap didepan ruang kelas. Entah pemandangan apa yang kulihat saat ini. Apakah dia benar seorang manusia, ataukah seorang malaikat yang sedang menyamar ke bumi seperti yang sering aku tonton di drama.


Entahlah, yang jelas kehadiran sosok itu didepan kelas berhasil membuat seluruh siswa perempuan dikelasku berteriak kegirangan. Tentu saja suara ternyaring masih dipegang oleh Alea. Saat ini aku benar-benar terganggu karena tidak bisa menikmati pemandangan didepan kelas akibat suara nyaring Alea.


“Tenang, anak-anak. Jangan terlalu berisik. Kalian mau didatangi kepala sekolah?”


“Oke, silahkan perkenalkan dirimu”


Hening


“Arka, silahkan” ucap bu Diyan lagi sambil menyenggol bahu anak baru tersebut yang mungkin tadi sedikit melamun atau gugup sehingga tidak mendengar ucapan bu Diyan untuk memperkenalkan diri


“Oh, Hallo temen-temen perkenalkan nama saya Arka Giandra Putra, kalian bisa panggil aku Arka. Aku murid pindahan dari SMA Nusa Bangsa. Salam kenal semuanya, semoga kita bisa berteman baik selama satu tahun kedepan”


Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku setelah melihat dan mendengar suara anak yang ternyata bernama Arka itu. Entahlah, apa karena dia merupakan siswa tertampan yang pernah aku temui. Ataukah ia masuk kedalam kriteria kandidat pangeran berkuda putih yang selama ini aku idam-idamkan? Entahlah, tapi yang pasti dia telah berhasil menarik perhatianku dihari pertama kita bertemu.