
Tak terasa sudah seminggu aku resmi menjadi siswa kelas 11 SMA. Tak terasa sudah seminggu pula aku berteman dengan Arka. Selama seminggu ini hubunganku dengan Arka juga semakin dekat dari hari ke hari. Kami sering pergi ke perpustakaan bersama saat jam istirahat atau pergi ke kantin bersama saat Arka tidak sempat sarapan pagi atau membawa bekal ke sekolah. Meskipun begitu, sampai saat ini aku masih belum bisa memastikan perasaanku apakah aku memang jatuh cinta atau sekedar mengagumi sosok Arka yang menurutku penuh dengan pesona.
Karena hari ini adalah hari senin, maka kami akan melakukan upacara bendera di lapangan sekolah. Masih ada waktu sepuluh menit sebelum upacara bendera dilakukan, namun guru-guru dan anggota osis yang bertanggung jawab terhadap kedisiplinan siswa sudah berkeliaran mengelilingi kelas untuk menyuruh para siswa agar segera meninggalkan kelas dan berbaris rapi di lapangan. Mengetahui hal itu, akupun segera mengambil topi dari dalam tasku dan memakainya. Sedangkan kulihat Alea sibuk mengoleskan sunscreen ditubuhnya.
“Alea, kamu mau upacara apa mau ke pantai sih ribet banget” tegur Arka saat melihat Alea tengah sibuk mengoleskan sunscreen keseluruh badannya. Akupun hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Arka, karena dipikir-pikir tingkah Alea lebih mirip seseorang yang tengah bersiap berjemur di pantai dibandingkan siswa yang akan mengikuti upacara
“Gini nih pemikiran orang primitive. Denger ya, walaupun kita cuma sebentar berada dibawah sinar matahari tapi kita juga tetep harus melindungi kulit kita biar nggak kebakar dan kusam” jelas Alea panjang lebar yang mengundang tawa Arka menjadi pecah. Ini adalah kali pertama Arka melihat rutinitas Alea sebelum upacara, jadi pantas saja jika dia keheranan. Kalau aku dan siswa lain yang sudah setahun lebih menjadi teman sekelasnya sudah sangat hafal dan tidak heran lagi dengan kelakuan Alea yang seperti ini
“Sekarang kan belum ada jam 07.00 Alea, mana ada sinar UV? yang ada pagi-pagi ini tuh sinar matahari bagus buat kesehatan kita” terang Arka sambil menyodorkan satu botol susu stoberi kepadaku. Sejak hari itu, Arka memang sering memberikanku susu stroberi dari berbagai merek kepadaku. Katanya sih supaya aku bisa membuat perbandingan susu stoberi merek mana yang paling enak. Entah apa tujuannya melakukan ini, yang jelas perlakuannya yang seperti ini semakin membuat diriku tertarik dan berharap lebih padanya
“Dih, sok tau banget sih kamu Ka. Kalau kamu nggak ngerti masalah kecantikan mending diem aja deh. Lagian kenapa sih kamu setiap hari cuma bawain susu buat Serina aja, pilih kasih banget jadi temen” ucap Alea sewot. Arka yang mendengar ucapan Alea pun hanya mengangkat kedua bahunya malas seolah tak peduli
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku keheranan melihat perdebatan Arka dan Alea pagi ini. Agar tidak semakin panjang, akupun menempelkan jari telunjukku keatas bibir untuk memberikan isyarat agar Arka berhenti mengganggu Alea. Namun tetap saja ia melanjutkan aktivitasnya itu, sepertinya sehari tidak mengganggu Alea akan membuat hari Arka menjadi tidak lengkap
“Udah ayok cepetan kita ke lapangan, nanti keburu diomelin sama guru piket. Kamu mau nanti disuruh berdiri di depan waktu upacara?” geram Arka sambil merampas botol sunscreen dari tangan Alea
“Ih, sabar kenapa sih. Kan kamu anak cowok, kenapa nggak duluan aja ke lapangan bareng yang lain. Kenapa malah nungguin dan ngerecokin aku sih” omel Alea dengan melayangkan tatapan tajam kepada Arka
“Udah-udah, kalian bisa nggak sih sehari aja nggak berantem? Nggak usah sehari deh, satu jam aja nggak berantem. Nggak bisa?” leraiku sambil meletakkan susu pemberian Arka kedalam laci untuk nanti akan kuminum saat jam istirahat
“Arka duluan nih Ser, ngerecokin aku terus” adu Alea sambil mempoutkan bibirnya. Aku yang melihat ekspresi Alea seperti itupun hanya bisa terkekeh geli sambil membantu merapikan ikatan dasi Alea yang sedikit longgar
“Loh kok aku sih? Jelas-jelas ini gara-gara kamu yang lemot” ucap Arka tak mau kalah. Entahlah, setelah mengenal beberapa hari aku jadi terbiasa melihat sikap Arka yang lucu seperti ini. Selain rajin belajar, Arka juga ternyata adalah tipe anak yang suka bicara dan menjahili temannya. Tapi justru karena ini aku jadi semakin tertarik padanya, ia bukan tipe siswa tampan nan pintar yang cuek atau dingin seperti tokoh novel yang sering aku baca, tetapi dia adalah tipe siswa tampan nan pintar yang perhatian dan pintar berkomunikasi serta menjalin pertemanan dengan siapapun. Buktinya, baru seminggu ia pindah kesini, tapi ia sudah bisa berteman akrab tidak hanya dengan aku dan Alea, tetapi juga pada hampir seluruh siswa dikelas ini
“Dih enak aja. Kamu tuh ya—aang…..” karena merasa pertengkaran antara Alea dan Arka tidak aka nada habisnya, akupun memutuskan untuk beranjak dari dudukku dan meninggalkan mereka berdua
“Udah deh kalo gitu aku pergi ke lapangan duluan, pusing dengerin kalian berantem mulu” ucapku yang lelah mendengar pertengkaran Alea dan Arka pagi ini sambil beranjak dari kursiku dan mulai berjalan keluar kelas
“Eh aku ikut Ser, biarin nih anak rempong sendirian di kelas” teriak Arka yang saat ini sedikit berlari keluar kelas untuk menyusulku
“Eh tungguin bentar, aku baru mau ambil topi ditas. Serina tungguin..! Arka awas aja ya kamu!”
***
Jam istirahat telah berbunyi sejak lima menit yang lalu, dan saat ini aku masih duduk manis di dalam kelas untuk menyantap bekal makanan yang dibawakan mamaku tadi pagi. Ada sedikit yang berbeda dari bekal makanku hari ini jika dibanding dengan bekal makanku pada hari-hari yang lalu. Karena hari ini mama membawakanku bekal dengan menu masakan Korea. Apalagi alasanya kalau bukan karena Saemi yang tidak terbiasa jika tidak makan dengan hidangan Korea?
“Wih, kamu dibawain bekal apa sama mama kamu Ser?” tanya Arka saat melihat menu makanan dalam kotak bekal yang sudah terbuka dan ku susun rapi diatas meja.
Setelah mengetahui kalau aku sangat jarang membeli makan di kantin, Arka mengikutiku untuk membawa bekal dan makan bersamaku saat jam istirahat dikelas. Dan seperti yang kalian duga, saat ini aku sedang duduk berhadapan dengan Arka yang juga sedang membuka kotak bekalnya. Awalnya aku memang sedikit canggung, tapi lama kelamaan aku jadi menyukainya
“Dibawain nasi dan banchan sama mama” jawabku singkat dengan tangan yang saat ini tengah sibuk meraih satu botol susu stoberi pemberian Raka pagi tadi dari dalam laci mejaku
“Ha?” ucap Arka kebingungan mendengar ucapanku dengan tangan yang sibuk membuka tutup botol air mineral dan menyodorkannya kepadaku. Ini juga adalah salah satu kebiasaan Arka yang sangat aku sukai, dia selalu menyuruhku untuk minum air satu teguk sebelum mulai makan. Katanya sih untuk membantu memperlancar pencernaan
“Banchan itu nama masakan Korea, kaya semacem lauk pauk khas Korea gitu deh” jawabku santai sambil menerima botol air mineral yang disodorkan Arka dan meneguknya
“Kamu suka masakan Korea?” tanyanya lagi saat melihatku telah selesai meneguk air mineral yang disodorkannya tadi
“Bukan aku yang suka, tapi sepupu aku” jelasku lagi menjawab pertanyaan Arka yang seakan tidak ada habisnya sambil menyodorkan botol air mineral yang telah selesai kuteguk kehadapannya
“Oh, sepupu kamu suka Korea?” tanyanya lagi sebelum meneguk air dari dalam botol yang tadi kuberikan
“Bukan suka Korea, dia emang blesteran Korea. Dan karena setiap hari dia terbiasa makan masakan Korea, jadi mama aku sengaja siapin banchan buat dia” ucapku dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan yang terlontar dari mulut Arka sambil membantunya membuka bekal makanan yang dibawanya. Entahlah, selama ini aku tidak pernah berlaku manis kepada laki-laki seperti ini
“Sepupu kamu lagi main ke rumah kamu?” tanyanya lagi yang berhasil membuatku menghela nafas berat karena gemas. Setelah hampir seminggu mengenalnya aku jadi merasa kalau Arka lebih cerewet daripada Alea. Dan entah kenapa sisi Arka yang seperti itu malah terlihat lucu dimataku
“Nggak main lagi, mulai seminggu lalu dia tinggal sama aku. Neneknya di Korea lagi sakit keras, jadi terpaksa deh orang tuanya pindah ke Korea buat ngerawat neneknya Saemi dan ambil alih restoran keluarga Saemi di Korea” jelasku panjang lebar sambil menuang semua lauk yang dibawakan mama kedalam kotak nasi
“Kamu mau coba?” tanyaku sambil menyodorkan satu sendok nasi lengkap dengan lauk tepat didepan mulut Arka. Kalau tidak begini mungkin akan muncul ribuan pertanyaan lagi yang akan keluar dari mulut Arka
Tanpa menjawab, Arka langsung melahap sendok berisi nasi lengkap dengan lauk yang kusodorkan dan mengunyahnya. Sedetik kemudian, ia mengernyitkan dahinya dan menatapku dengan ekspresi yang tidak dapat kutebak
Mendengar pertanyaanku, ia kemudian berfikir keras selama beberapa detik sebelum menjawabnya. Lagi-lagi dia memperlihatkan ekspresi wajah yang membuatku gemas dan ingin mencubit keras kedua pipinya. Tidakkah dia memikirkan aku yang selalu kesulitan menggontrol ekspresi wajahku jika melihat tingkahnya yang seperti ini?
“Hmmmm enak sih, tapi kurang cocok di lidahku. Emangnya ini apa?” jawabnya sambil menunjuk salah satu lauk yang tadi kusuapkan kepadanya
“Yang ini namanya gyeran jjim, kalo yang ini namul” jelasku antusias yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Arka. Melihat responnya yang lucu, akupun semakin bersemangat untuk kembali menyuapinya
“Mau lagi?” tanyaku yang dijawab dengan gelengan keras Arka, dengan cepat ia memasukkan bekal sandwich kedalam mulutnya. Entahlah, dia benar-benar sangat menggemaskan. Kelakuannya kali ini benar-benar membuatku tidak bisa untuk tidak terseyum gemas saat melihatnya
Saat tengah asyik memeperhatikan Arka, tiba-tiba saja kudengar ada sebuah suara memanggilku dari arah pintu masuk kelas yang mau tidak mau membuatku harus mengakhiri kegiatanku memandangi wajah menggemaskan Arka
“Serina” mendengar namaku dipanggil, akupun sontak menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seseorang tengah berjalan ke arahku
“Eh Nadia, ada apa? Tumben main ke kelas?” tanyaku pada pemilik suara tadi yang ternayata adalah Nadia, salah satu anggota osis
“Aku dapet pesen dari pan Bagus, kalau nanti sepulang sekolah kamu sama Arka disuruh menemui beliau di ruang guru” jelas Nadia saat sudah berdiri dihadapanku dan Arka
“Kita berdua? Ada apa?” kali ini bukan aku yang bertanya, melainkan Arka. Mungkin dia juga sepertiku yang penasaran kenapa kita disuruh untuk menemui pak Bagus sepulang sekolah nanti
“Iya kalian berdua, nggak tau deh kalau ada apanya. Yang pasti ada yang perlu disampein kata pak Bagus”
“Okedeh nanti aku sama Serina langsung ke ruangan pak Bagus setelah bel pulang sekolah”
***
Aku, Alea dan Arka tengah berjalan beriringan menuruni anak tangga untuk menuju lantai satu. Alea akan menuju parkiran untuk mengambil motor dan pulang kerumahnya, sementara aku dan Arka akan pergi ke ruang guru untuk menemui pak Bagus seperti yang diberitahukan Nadia tadi siang. Seperti hari-hari sebelumnya, sepanjang perjalanan Alea dan Arka tengah sibuk memperdebatkan sesuatu yang sama sekali tidak aku mengerti. Sementara aku memilih untuk mendengarkan musik dengan kedua airpod yang terpasang di kedua telingaku.
Namun, saat aku sedang terhanyut dalam lirik lagu tiba-tiba saja kurasakan ada tangan yang mengambil airpod dari telinga kiriku. Dan ketika kutengok, benar saja itu adalah perbuatan Arka yang saat ini malah nyengir kuda sambil memasang airpodku pada telinganya. Entahlah, mungkin dia sudah bosan beradu mulut dengan Alea. Mendapati hal itu, aku hanya menghela napas pelan dan melanjutkan langkahku untuk menuruni anak tangga.
Tidak sampai lima menit kami telah berada pada bangunan lantai satu sekolah. Alea langsung pamit padaku dan Arka untuk langsung pulang kerumah. Setelahnya, aku dan Arka kembali berjalan menuju ruang guru untuk menemui pak Bagus.
Sesampainya di depan ruang guru, Arka langsung membuka gagang pintu dan menyuruhku untuk masuk. Hanya ada beberapa guru di dalam, karena memang saat ini sudah jam pulang sekolah. Setelah beberapa detik mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, akhirnya mataku menangkap keberadaan pak Bagus yang tengah sibuk mengetikan sesuatu pada keyboard komputernya sehingga tidak menyadari kedatangan kami.
Akupun langsung menarik tangan Arka yang sedari tadi berdiri dalam diam disampingku dan berjalan mendekat ke meja pak Bagus. Maklum saja, Arka baru seminggu sekolah disini sehingga dia belum tau rupa pak Bagus karena memang pak Bagus tidak mengajar kelas kami.
“Permisi pak Bagus, apa benar tadi siang pak Bagus memanggil saya dan Arka untuk menemui pak Bagus setelah pulang sekolah?” tanyaku sopan pada pak Bagus yang saat ini masih fokus menatap layar komputer dihadapannya
“Eh Serina, Arka. Iya ada yang perlu bapak sampein ke kalian. Ayo duduk dulu” ucap pak Bagus saat telah menyadari keberadaan kami sambil menunjuk ke arah sofa yang ada di dalam ruangan
Aku dan Arka hanya mengangguk patuh dan bergegas menuju sofa yang disebutkan pak Bagus tadi. Sementara pak Bagus sekarang tengah sibuk mencari sesuatu dari dalam laci mejanya sebelum beranjak dari duduknya dan menyusul kami yang saat ini sudah duduk dengan nyaman di sofa
“Jadi gini, minggu lalu bapak mendapat surat undangan dari universitas negri untuk mengikuti event perlombaan yang akan diadakan bulan depan” ucap pak Bagus sambil meletakkan amplop berwarna coklat diatas meja
“Karena ini adalah perlombaan tim, maka sejak seminggu lalu bapak sudah memperhatikan beberapa siswa yang sekiranya mampu mewakili sekolah kita untuk mengikuti perlombaan ini” jelasnya lagi sambil menatapku dan Arka secara bergantian
“Dan kamu Serina, tahun lalu kamu kan pernah mengikuti olimpiade biologi dan berhasil menjadi juara tiga. Dikelas kamu juga jago dalam semua mata pelajaran, terutama dalam pelajaran peminatan MIPA”
Aku hanya mengangguk membenarkan ucapan Pak Bagus, karena memang benar bahwa tahun lalu aku telah menjuarai olimpiade biologi tingkat nasional dan menjadi peringkat pertama parallel jurusan Mipa disekolahku
“Sedangkan kamu Arka, dari berkas yang kamu lampirkan saat mengurus perpindahan ternyata kamu pernah menjuarai salah satu olimpiade tunggal MIPA tingkat internasional” gantian Arka yang saat ini mengangguk membenarkan ucapan pak Bagus
Karena baru mengetahui fakta tersebut, akupun reflek menoleh kepada Arka. Semenjak pindah ke sekolah ini dan menjadi teman sekelasku, aku memang menyadari bahwa Arka memang pintar. Tapi aku tidak menyangka dia sejenius itu
“Maka dari itu, bapak merasa kalian adalah pasangan yang tepat untuk dapat mewakili sekolah ini. Lagian bapak denger dari teman-teman kalian dan guru yang mengajar kelas kalian kalau kalian adalah teman dekat. Jadi bapak semakin yakin kalau kalian mampu menjadi tim yang kompak dan kuat untuk memenangkan kompetisi ini”
Mendengar penjelasan yang disampaikan secara panjang lebar sontak membuatku dan Arka saling bertatapan untuk beberapa saat, sampai kemudian suara pak Bagus kembali menyadarkan kami
“Bagaimana? Kalian bersedia kan mewakili sekolah kita untuk mengikuti kompetisi ini?”