
Seperti pagi sebelumnya, saat ini aku sedang duduk dengan rapi diatas mobil menuju bangunan sekolah yang selama seminggu terakhir menjadi tempat favoritku setelah kehadiran Arka.
Sepanjang perjalanan, mulutku tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman lebar mengingat dalam seminggu kedepan aku akan memiliki banyak waktu untuk berada di sekolah bersama Arka. Yah, walaupun itu artinya jam belajarku juga akan turut bertambah, tapi tidak apa-apa jika itu bersama Arka aku akan dengan senang hati melakukannya.
Karena telah menyelesaikan urusan pembukaan cabang perusahaan yang ada di luar kota, hari ini papa sedikit memiliki waktu longgar untuk mengantarku ke sekolah. Dan di sinilah aku sekarang, duduk berdampingan bersama papa di dalam mobil.
Jika bersama pak Amir, mungkin aku tidak akan memusingkan akan takut ketahuan saat sedang senyum-senyum memikirkan Arka sepanjang jalan menuju ke sekolah karena aku selalu duduk di jok belakang.
Namun, karena pagi ini papa yang mengantarku ke sekolah otomatis aku duduk disamping jok kemudi yang membuat semua gerak-gerik yang kulakukan akan langsung tertangkap pandangan mata papa.
Untuk mengantisipasi kecurigaan papa akan sikap ‘aneh’ ku yang selalu kutunjukan selama seminggu terakhir ini, aku sengaja membuka kaca jendela mobil untuk menikmati udara pagi kota yang sudah tercemar dengan polusi asap pabrik.
Entahlah, hanya dengan memikirkan Arka udara perkotaan yang tercemar terasa seperti udara sejuk khas pedesaan bagiku
Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang aku dan papa tumpangi telah mendekati bangunan sekolahku yang terkesan luas dan megah.
Dengan hati-hati, papa menepikan mobil tepat di depan gerbang sekolah. Akupun segera meraih tangan papa dan mencium punggung tangannya sebelum membuka pintu dan bergegas untuk turun dari mobil.
Saat akan kembali menutup pintu mobil, mataku tak sengaja menangkap seorang gadis memakai seragam sekolah yang sama persis dengan seragam yang aku kenakan saat ini.
Saat turun dari mobil, mataku mendapati seorang gadis memakai seragam sekolah yang sama persis dengan yang ku kenakan saat ini. Dan seperti apa yang kalian tebak, dia adalah Alea, yang juga baru saja turun dari dalam mobil sambil melambaikan tangan pada seseorang didalamnya melalui kaca jendela mobil yang sepenuhnya terbuka.
“Serina…………………….” Sapa Alea sedikit berteriak setelah menyadari keberadaanku yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Akupun hanya tersenyum sambil melambaikan tanganku membalas sapaan Alea
Selanjutnya, Alea berjalan menghampiriku mengabaikan teriakan seseorang dari dalam mobil yang tadi ia tumpangi. Mungkin itu suara mama Alea yang sedang menyuruhnya untuk bersungguh-sungguh saat belajar disekolah
“Morning Alea” sapaku pada Alea yang saat ini sudah berdiri dihadapanku dengan senyuman lebar andalannya sambil melambaikan tangannya membalas sapaanku
Menyadari keberadaan papa di dalam mobil yang masih belum beranjak dari tempatnya berhenti, Alea kembali melambaikan tangannya dan menyapa papaku dengan sopan
“Pagi om…..” sapanya masih dengan senyuman ceria yang setia bertengger diwajah mungilnya itu
Papapun hanya mengangguk dan melambaikan tangannya sebagai jawaban sebelum akhirnya kembali menyalakan mesin mobilnya dan melenggang meninggalkan halaman sekolah untuk kembali bergabung dengan puluhan kendaraan lain yang memenuhi jalanan kota
Melihat mobil papa yang sudah beranjak pergi, Alea langsung menggandeng tanganku dan mengajakku untuk masuk ke dalam sekolah dengan cengiran khas yang tidak pernah lepas dari wajahnya “Yuk Ser kita masuk!”
Aku hanya mengangguk menyetujui ajakan Alea dan mulai membalikkan badan untuk berjalan masuk ke dalam lingkuangan sekolah membiarkan Alea yang masih setia bergelayut manja pada lengan kiriku.
Baru saja beberapa langkah memasuki halaman sekolah, mataku menangkap punggung laki-laki yang tak asing bagiku.
Dan benar saja, setelah beberapa saat kuperhatikan itu adalah punggung milik siswa baru yang menjadi teman sekelasku selama seminggu terakhir ini serta siswa baru yang mungkin saja membuat impianku memiliki pangeran berkuda putih bak pemeran utama dalam novel romantis akan segera terwujud
“Arka?” panggilku pada laki-laki yang sedang berjalan tak jauh di depanku
Mendengar namanya terpanggil, laki-laki itupun menoleh dan memperlihatkan senyuman manis di wajahnya. Entahlah, selama seminggu belakangan ini nampaknya tubuhku akan menjadi sangat bugar. Bagaimana tidak? Jika setiap hari Arka selalu membuatku menjalani aktivitas senam jantung dengan memperlihatkan senyuman atau tingkah manis yang ia tujukan padaku.
“Serina, Alea kalian baru sampai?” tanyanya saat posisi kami telah berdampingan
“Nggak! Kita udah sampai dari kemarin, kamu nggak liat ada bekas api unggun di lapangan? Itu karena aku sama Serina nginep samaleman biar nggak telat masuk kelas” sarkas Alea panjang lebar sambil melayangkan tatapa sinis pada Arka. Aku yang mendengar bualan Aleapun hanya bisa menahan tawa sambil menutup mulutku menggunakan telapak tangan
Sedangankan Arka hanya beroh ria sambil menganggukkan kepalanya menyetujui bualan Alea. Nampaknya ucapan Alea tadi membuat Arka semakin bersemangat untuk menggodanya dengan melancarkan pertanyaan yang dapat menyulut emosi Alea “Oh, ngomong dong dari tadi. Kirain kalian baru dateng”
“Ya iyalah kita baru dateng Arka!” geram Alea yang semakin menjadi setelah mendengar ucapan Arka.
Jika aku tidak segera bertindak, mungkin perang mulut antara Alea dan Arka akan terus berlanjut dan semakin memanas. Untuk mencegah hal itu terjadi, akupun segera mencari topik lain untuk mengalihkan perdebatan mereka berdua
“Oh iya, kok tumben kamu berangkatnya agak siangan?” tanyaku keheranan melihat Arka yang setiap pagi selalu berangkat 50 menit sebelum bel masuk sekolah berbunyi tengah berjalan dengan tas ransel yang masih bertengger rapi di punggungnya tepat 15 menit sebelum bel masuk sekolah berbunyi
Mendengar pertanyaanku, ia tersenyum tipis sebelum mulai menjawab sambil menunjuk dengan matanya tumpukan buku tebal yang sedang didekapnya “Iya nih, soalnya tadi aku sambil nyari-nyari buku yang kiranya bisa kita pakai buat pembinaan nanti siang”
“Kita? Pembinaan? Tunggu, ini maksudnya apa?” tanya Alea kebingungan mencerna kalimat Arka sambil menatapku dan Arka secara bergantian. Wajar saja jika dia merasa kebingungan seperti ini, karena kemarin aku belum sempat menceritakan perihal lomba ini kepada Alea
“Oh iya aku belum bilang ke kamu ya Al, kalo mulai hari ini aku sama Arka ada pembinaan intensif setiap pulang sekolah untuk persiapan olimpiade sains minggu depan” ucapku merasa bersalah kepada Alea yang saat ini menyipitkan matanya dengan kedua Alis yang ditautkan mencoba untuk mencerna setiap kata yang ku ucapkan
“What??? Kalian mau ikut olimpiade? Kok kalian nggak ada bilang sih sama aku? Kalian udah nggak nganggep aku temen lagi?” pekiknya keras yang membuatku dan Arka sontak menutup kedua telinga kita menggunakan tangan. Bukannya merasa bersalah karena telah membuat gendang telinga temannya bekerja keras dipagi hari seperti ini, Alea malah memukul pelan kepala Arka dan menatapku dengan tatapan mematikan
“Maaf Al, soalnya pak Bagus juga baru ngasih tau kita kemarin pas pulang sekolah” ucapku merasa bersalah pada Alea
“Kenapa cuma kalian berdua yang diajak? Kenapa aku nggak? Nggak adil banget sih pak Bagus, pasti ini gara-gara Arka deh” tanya Alea lagi sambil menunjuk dan menatap tajam pada Arka
“Lah kok jadi aku? aku diem aja loh ini” ucap Arka tak terima dengan tuduhan yang diberikan Alea kepadanya
“Iya lah, pasti kamu kan yang ngompor-ngomporin pak Bagus supaya nggak usah ngajak aku buat ikut lomba? Secara kamu kan pengen monopoli Serina dari aku” ucap Alea dengan berkacak pinggang menanggapi ucapan Arka
Arka menggeleng-gelengkan kepalanya sambil membuas napas kesal sebelum akhirnya ia kembali berbicara dan menyentil pelan dahi Alea “Astaga, harusnya kamu tuh sadar Alea kenapa pak Bagus nggak ngajak kamu buat ikut lomba”
“Emangnya kenapa? Jelas-jelas aku cantik, modis, populer, murah senyum, ramah kurang apalagi?” ucap Alea dengan percaya diri sambil mengibaskan rambutnya. Tentu saja hal ini langsung mengundang gelak tawa Arka menjadi pecah
“Kamu pikir ini kontes gadis sampul? Kalo beneran pengen diajak buat ikut lomba, belajar yang bener! jangan suka ngoceh pas jam pelajaran ” ucap Arka yang langsung dihadiahi bogeman keras Alea pada pada perutnya
“Kamu pikir selama ini aku--”
Karena merasa perdebatan antara dua makhluk dihadapanku ini tidak akan pernah berakhir, akupun memutuskan menyela ucapan Alea dan mulai melangkahkan kakiku untuk beranjak dari tempat kami berdiri saat ini “Stop!!! Kalo kalian masih pengen berantem disini silahkan, aku mau naik ke kelas duluan bye!”
“Tuh kan Serina marah lagi, pokoknya semua ini gara-gara kamu!” geram Alea pada Arka saat aku sudah beberapa langkah meninggalkan mereka
Aku memilih untuk terus berjalan dan tidak memperdulikan Alea dan Arka yang memanggilku sambil sedikit berlari untuk mengejarku “Serina tungguin…………….”
***
“Oh iya Ka, ngomong-ngomong pelaksanaan olimpiadenya itu kamis minggu depan kan ya?” tanyaku pada Arka yang saat ini tengah fokus membaca buku tebal di hadapannya
Bel pulang sekolah telah berbunyi lima belas menit yang lalu, dan seperti yang telah aku dan Arka sepakti bersama pak Bagus kemarin saat ini kita sedang berada di ruang perpustakaan untuk mendapat pembinaan eksklusif pertama kami.
Karena hanya ada satu tim yang akan mengikuti perlombaan ditambah pak Bagus yang sejak lima menit lalu pergi untuk mengcopy kertas latihan soal, maka disinilah aku dan Arka duduk berduaan di ruang perpustakaan yang cukup sepi.
“Kalau baca dari surat yang dikasih pak Bagus kemarin sih bener Ser hari kamis depan, emangnya kenapa?” mendengar pertanyaan yang aku lontarakan, Arka sejenak menghentikan aktivitasnya dan mengalihkan pandangannya dari buku menjadi menatap kearahku
“Berarti kita cuma punya waktu sekitar 8 hari buat persiapan?” tanyaku lagi sambil mengetuk-ngetukkan bolpoin berwarna kuning ditanganku pada meja
Arka berfikir sebentar sambil mencoba menghitung dalam ingatannya “Hmmmmm… kurang lebih segitu sih, kenapa?”
“Dikurangi weekend berarti kita cuma punya 6 kali jadwal pembinaan intensif?” tanyaku lagi dengan menatap Arka serius
Karena pertanyaannya tak kunjung kujawab Arka menghembuskan napas jengah sambil menatapku penuh tanda tanya “Iya bener Serina, kenapa sih?”
“Menurut kamu sayang banget nggak sih kalau selama weekend kita belajarnya kepisah? Soalnya kita kan juga harus latihan kekompakan tim dalam menjawab soal nanti” sumpah, aku mengatakan ini karena aku memang ingin mempersiapkan lomba dengan baik, bukan ingin untuk modus pada Arka atau semacamnya
“Iya juga sih, tapi kita juga nggak bisa minta pak Bagus buat ngasih bimbingan eksklusif selama weekend kan? Apalagi yang mau lomba cuma satu tim, nggak bakal diijinin juga sama kepala sekolah buat pinjem ruangan pas weekend”
Akupun kembali berpikir sambil mengetuk-ngetukkan bolpoin ditanganku pada meja, mencoba untuk mencari solusi terbaik agar kita tetap bisa belajar bersama sewaktu weekend “Kalau kita belajar bareng di luar gimana?”
Mendengar usulanku, Arka nampak menimbang-nimbang selama beberapa saat “Boleh aja sih Ser, tapi kita mau belajar dimana? Kalau ke café udah pasti berisik, malah nanti kita nggak fokus belajarnya”
“Kalau mau ke perpustakaan umum juga nggak bisa, weekend ini kan ada perayaan hari besar pasti perpustakaannya tutup” tambah Arka lagi yang membuatku kembali berpikir untuk menemukan solusi terbaik yang dapat kita ambil
Setelah beberapa saat berpikir keras, akhirnya terlintas dikepalaku suatu ide yang membuatku menjadi bersemangat “Ah, kalo belajar bareng di rumahku gimana? Nanti sekalian ngajak Alea juga, biar Alea bisa nemenin Saemi main pas kita belajar”
“Boleh sih Ser, tapi emang nggak apa-apa? Kata kamu Saemi anaknya pemalu banget dan nggak nyaman kalau ketemu sama orang asing”ucap Arka sambil menopang dagunya menggunakan sebelah tangan. Memang beberapa waktu lalu aku sempat kelepasan menceritakan perihal Saemi kepada Arka. Bukan semua, hanya fakta bahwa selama beberapa tahun belakangan ini Saemi kehilangan rasa percaya diri dan selalu menyembunyikan dirinya dari dunia luar
“Kalau itu sih nanti bisa aku diskusiin sama Saemi pas pulang sekolah, lagian kalian kan nggak sepenuhnya orang asing. Kalian temen sekolah aku, pasti nanti Saemi ngerti kok. Apalagi kalau dia udah liat kelakuan Alea” jelasku panjang lebar dengan sedikit memajukan wajahku agar Arka dapat mendengar setiap ucapanku dengan baik
“Hahaha bener juga sih, aku juga bisa cepet akrab sama kamu dan anak-anak dikelas kan juga gara-gara Alea”
“Nah kan… sekalian aku juga pengen banget liat Saemi berinteraksi lagi sama orang lain selain sama aku atau keluarga besar” ucapku sambil menatap dalam manik mata indah Arka. Entah kenapa jika bersama Arka aku selalu ingin membahas Saemi yang selama ini belum pernah aku ceritakan kepada teman-temanku termasuk Alea
“Aku sedih kalau harus lihat Saemi tiap hari hanya menghabiskan waktunya dirumah untuk homeschooling dan belajar” ucapku lagi sambil menunduk menatap sepatu hitamku yang sedikit kotor terkena debu
Melihat perubahan sikapku, Arkapun mengulurkan tangannya dan mengelus pelan pucuk kepalaku “Semoga dengan bertemu Alea Saemi bisa sedikit membuka diri kepada dunia luar ya Ser”
Aku hanya mengangguk sambil mengangkat kembali wajahku untuk menatap Arka “Yaudah berarti weekend ini kita belajar di rumah aku ya, biar nanti aku siapin tempat buat belajar”