Santet Pelebur Nyawa

Santet Pelebur Nyawa
Mengancam



Wartel dan Kubis sudah sampai ke pabrik. Kubis meletakkan motornya di parkiran, dan Wartel pergi dari hadapannya. Kubis hanya bisa tercengang, melihat perlakuan Wartel yang terlihat lain. Tiba-tiba Kubis dilempar kepalanya dengan sepatu.


"Kamu jangan seenaknya iya, mentang-mentang Labu sedang sakit." ujar Kentang.


Talas juga menyudutkannya. "Bisa iya, kamu menyempatkan diri mendekat. Pakai acara boncengan bersama lagi."


"Janur kuning belum melengkung, artinya dia milik siapa pun." jawab Kubis, dengan santai.


"Wah, berani mencari masalah dia." Ubi tegak pinggang separuh.


"Kalian tidak takut, bakalan sakit seperti Pare dan Labu? Hati-hati loh sistem bully, bisa membuat kalian mendapat balasan." Kubis tersenyum jahat.


"Widih, berani mengancam dia. Seakan dia manusia ajaib, yang bisa merencanakan rasa sakit.


"Terserah kalian mau bicara apa, suatu hari nanti kalian akan menyesal." jawab Wartel, dengan tatapan yang menusuk.


Iblis tanduk tidak bisa memasuki rumah, yang telah diberi penangkal air Bidara. Akhirnya dia kembali pada Mbah Gondrong.


"Kali ini, orang yang menolong Pare lebih kuat." ujar iblis tanduk.


"Hahah... kamu tenang saja, aku akan membantumu." Mbah Gondrong teringat dengan Kubis, yang bisa dimintai tolong.


Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Kubis. Dibaca dengan perlahan, namun sebenarnya terkejut. Tidak biasanya Mbah Gondrong meminta tolong padanya.


"Dia menyuruh aku ke sana seorang diri, sungguh menyebalkan." Kubis melihat cuaca sudah larut malam.


Baru saja keluar kamar, memasang jas tebal. Meraih gagang pintu, lalu melihat Aliny berdiri di sana. Kubis sampai mengelus dada, karena terkejut. Kehadiran ibunya sungguh mendadak, sampai keliru hampir melompat.


"Kamu sudah salat belum?" tanya Aliny.


"Tidak baik seperti itu, cepat salat sana. Tuhan itu yang paling utama, tidak boleh meninggalkannya dalam keadaan apa pun." jelas Aliny.


"Iya Bu, aku akan melakukannya." Kubis menuruti nasehatnya.


Kubis menutup pintu, dengan perasaan jengkel. Sebenarnya hanya pura-pura, namun tidak serius melaksanakan. Melihat jendela ada pikiran ingin kabur, namun memilih lewat pintu depan.


"Bu, aku pergi dulu iya." ucap Kubis.


"Iya Nak, hati-hati di jalan." jawab Aliny.


Mbah Gondrong membuka pintu, saat melihat kedatangan Kubis. Mbah Gondrong mengutarakan maksudnya, mengapa memanggil Kubis jauh-jauh.


"Kubis, aku ingin kamu membunuh Nyai Mardeh. Jika tidak, lama kelamaan Pare akan pulih. Iblis tanduk tidak bisa masuk ke dalam rumah itu, karena ada mantra air daun Bidara." jelas Mbah Gondrong.


"Sekarang Pare di luar kota, mana mungkin aku ikut ke sana. Aku kerja di pabrik dari pagi sampai sore, jika ada tambahan lembur sampai malam." jawab Kubis.


"Kamu ikut saja, bila temanmu bernama Labu itu berobat." ujar Mbah Gondrong, yang antusias memberikan saran.


"Baiklah Mbah, terima kasih." Kubis lega.


Sawi dan Seledri melihat Wartel, yang sedang membuat mie goreng instan Cihuy. Wartel menyuruh Kubis mendekat, untuk bertanya apa Kubis sedang senggang.


"Kubis, aku mau ke luar kota menemani Labu berobat. Aku dengar kondisi Pare semakin membaik, jadi kamu yang melanjutkan produksi. Ini ada dua temanku, yang akan membantu dalam pembuatannya." ujar Wartel.


"Iya, serahkan saja padaku." jawab Kubis.


Pulang dari pabrik, Kubis masuk ke dalam bagasi mobil. Dia sengaja menyembunyikan diri, di tengah tumpukan barang-barang.