Santet Pelebur Nyawa

Santet Pelebur Nyawa
Ayah Kubis Pulang



Kubis masuk ke dalam kamar, lalu membersihkan diri di kamar mandi. Kubis melangkahkan kaki ke dapur, setelah usai berganti baju.


"Eh Bu, apa Ayah jadi pulang hari ini?" tanya Kubis.


"Iya, dia sedang dalam perjalanan." jawab Aliny.


"Memangnya sudah beri kabar sama Ibu?" tanya Kubis.


"Belum si, tapi kemarin juga telepon." Aliny mengelap piring basah.


Kubis memperhatikan lengan ibunya. "Bu, aku mau pergi ke pabrik dulu."


"Bawa bekal yang sudah Ibu siapkan. Jangan lupa sarapan pagi." jawab Aliny.


Kubis segera menyalakan mesin motor, setelah dari tadi menghidupkan starter. Kendaraan roda dua itu melaju ke pabrik, seperti biasa diletakkan di parkiran. Wartel melihat kubis, yang baru saja sampai ke pabrik. Dia menegur Kubis terlebih dulu, untuk menanyakan perihal pekerjaan yang ditinggalkan begitu saja. Padahal Wartel memberikan amanat, agar Kubis mengajari teman-temannya.


"Eh Kubis, kamu kemana saja?" tanya Wartel.


"Aku pergi ke luar kota, karena ada urusan mendesak." jawab Kubis datar.


"Mengapa kamu tidak bilang sama aku, setidaknya aku bisa ganti dengan orang lain. dua temanku itu masih karyawati baru loh." Wartel tidak terima, dengan kepergian Kubis tanpa sepengetahuannya.


"Maaf deh Wartel, kalau aku tidak bilang lagi sama kamu." Kubis menjadi sedikit tidak enak.


Kubis melanjutkan pekerjaannya, yaitu membantu produksi mie goreng Cihuy keluaran terbaru. Meski pikirannya sedang tidak fokus, terpikir akan sebuah kejadian yang tidak enak.


”Mengapa hatiku menjadi tidak tenang, padahal aku sudah berhasil menang. Nyai Mardeh sudah tergeletak dan koma di rumah sakit, namun hatiku malah gelisah dan merasa bersalah. Aku selalu saja memikirkan hal ini, apalagi jika kedua orangtuaku tahu.” Kubis bekerja sambil melamun.


"Ayah kemana saja, mengapa baru pulang sekarang?" tanya Kubis.


"Ayah banyak pekerjaan di pelabuhan, menangkap ikan sekarang sangat sulit. Banyak persaingan harga di mana-mana, jadi penuh perjuangan supaya bisa mendapat penghasilan yang halal." jelas Bhargi.


"Semoga Ayah lancar terus iya dalam bekerja." Kubis mendoakannya.


"Iya Bhargi, doa yang sama untuk kamu." Bhargi tersenyum, sambil melirik telapak tangan Kubis yang disembunyikan di belakang punggung.


"Nak, di tangan kamu itu ada apa?" tanya Bhargi, dengan penasaran.


"Bukan apa-apa Ayah, hanya barang pribadi." jawab Kubis datar.


Bhargi keluar dari kamar, Kubis lalu menemui Aliny yang sedang melihat pakaian di dalam kamar. Bhargi menepuk pundak Aliny, lalu pandangan wajah serius.


"Mengapa aku lihat Kubis sekarang berubah. Dia sering tertawa sendiri, namun entah apa yang disembunyikan oleh tangannya." ucap Bhargi.


Aliny mencurigai boneka santet, yang dipegang Kubis. "Aku heran dia anak laki-laki, tapi suka dengan boneka. Akhir-akhir ini, aku sering memergokinya bermain boneka."


"Mungkin, boneka pemberian dari pacarnya." Bhargi hanya asal tebak.


"Bukan, aku rasa ada sesuatu yang tidak beres. Kita harus diam-diam memeriksa, supaya mengetahui boneka apa yang sering dipegangnya." jawab Aliny.


Ayahnya diam-diam masuk kamar Kubis, saat dia sedang tidur dengan nyenyak. Aliny menunduk di bawah kolong ranjang tidur, saat melihat tubuh Kubis bergerak. Tidak sengaja kepalanya terbentur dengan papan.