
Wartel, Seledri, dan Sawi pergi ke sebuah taman Anggrek. Hari ini ingin menghirup udara segar, tanpa berdekatan dengan polusi asap pabrik. Meski pun ujungnya tetap pergi juga ke pabrik, karena itu merupakan pekerjaan tetap sekaligus penghasilannya, untuk menunjang kehidupan yang lebih baik.
"Wartel, apa kamu ingin menikah dengan Labu?" tanya Sawi.
"Iya aku ingin, tapi dia belum memiliki mahar. Kamu tahu sendiri 'kan, kalau dia sekarang lagi sakit-sakitan. Boro-boro mau mengurus acara ribet, memikirkan kondisinya saja sudah pusing." jawab Wartel.
"Sabar ya Wartel, nanti ada kok saat yang tepat. Mungkin sekarang belum saja, masih ujian untuk kalian berdua." ucap Seledri.
"Iya, tidak apa-apa. Aku juga tidak terlalu keberatan." jawab Wartel.
Kakak tua hinggap di jendela rumah, lalu berbunyi dengan lihai. Seledri dan Sawi refleks tertawa bersama, karena kakak tua sangat lucu.
"Aku ingin deh, masuk ke dalam rumah pohon itu. Kelihatannya enak, numpang foto-foto di sana." ucap Seledri.
"Iya, ayo ke sana. Mari kita membuat kenangan, yang tidak akan pernah terlupakan." Wartel tersenyum, ke arah mereka.
Mereka bertiga berlari, menuju ke rumah pohon. Langkah kaki menaiki tangga dengan perlahan, supaya tidak terpeleset. Wartel memasang berbagai gaya sebelum dibidik oleh kamera milik Sawi.
"Kamu terlihat cantik loh Wartel, apalagi kalau mengenakan baju berwarna jingga." puji Seledri.
Wartel melihat daun-daun yang berguguran. "Kamu terlihat cantik kalau mengenakan baju berwarna hijau." Giliran memuji balik.
"Ya, kita punya ciri khas masing-masing." ucap Seledri.
"Ya dong, kita 'kan manusia unik." jawab Wartel.
Kubis mencari keberadaan Wartel, yang dari tadi tidak ditemukan. Talas, Kentang, dan Ubi menghampiri Kubis, sambil tegak pinggang. Tidak ada Pare, namun mem-bully tetap menjadi prioritas utama. Tidak tahu mengapa, mereka merasa bahagia setelah melakukannya.
"Tidak penting untuk kamu tahu." jawab Kubis.
"Santai bro, aku hanya bertanya. Apa sangat sulit, untuk menjawab dengan santai." ucap Talas.
"Aku tidak akan pernah santai, bila berdekatan dengan tukang bully." Kubis menjawab, dengan raut wajah datar.
"Yaelah, jangan dimasukkan ke hati. Kami hanya bercanda kok, serius kali bro." Kentang tersenyum mengejek, sambil menepuk-nepuk pipi Kubis.
"Bercanda itu tidak perlu kasar seperti ini. Kalian seperti tidak ada kerjaan, sampai repot-repot menghujat aku." Kubis menatap sinis dengan sekilas, lalu membuang pandangan.
Wartel baru saja tiba ke pabrik, bersama Seledri dan juga Sawi. Wartel melihat ke arah mereka, yang bertengkar sengit. Dimulai dari Kubis, yang mencengkeram kerah Kentang. Ubi dan Talas menarik lengan Kubis, lalu mendorongnya yang menantang mereka.
"Eh, ada apa ini?" tanya Wartel.
"Tidak mengapa, hanya meladeni bocah ingusan." Kentang tertawa mengejek, sambil memukul tangan teman-temannya.
Ubi dan Talas mengusap punggung Kubis, sambil tertawa terbahak-bahak. Sementara Wartel dan yang lainnya. Kubis menonjok Ubi dan Talas, tidak peduli meski pun ada Wartel.
"Eh, jangan ribut dong." ujar Sawi.
"Diam, kalian tidak usah melerai aku." Kubis masih ingin meninjunya.
Seledri dan Wartel menarik tangan Kubis, melarangnya melakukan perlawanan. Kubis akhirnya mengalah, dan memilih pergi. Sawi berjalan terlebih dulu, disusul dengan langkah kaki Wartel dan Seledri. Sementara Kubis masuk toilet, hanya untuk menusuk boneka dengan paku.
"Aku tidak akan membiarkan Pare dan Labu sembuh." monolognya.