
Keesokkan harinya, Labu tidak pergi kerja. Tiba-tiba merasakan sakit pada perutnya, seperti ditusuk oleh benda tajam. Kakak laki-lakinya mendekat, sampai mengompres perut Labu dengan air hangat.
"Kamu kenapa?" tanya Pakis.
"Perutku sakit, aku juga tidak tahu sebabnya." jawab Labu.
"Kakak jadi curiga, bukankah Pare teman kamu sakit lama?" tanya Pakis, penuh selidik.
"Aku tidak tahu dia sakit apa. Aku pun tidak paham, apa sakit yang aku rasain sekarang." jawab Labu.
Kubis tertawa, sambil terus menusuk boneka dengan paku. Tindakan yang lebih parahnya lagi, sampai jungkir balik di atas ranjang tidur. Aliny menghampirinya, masuk tanpa diizinkan terlebih dulu.
Kubis menyembunyikan boneka, di belakang punggung. "Haduh Bu, mengapa masuk tidak mengetuk pintu dulu."
"Ibu sudah memanggil kamu dari tadi tapi tidak dijawab, malah kamu asik ketawa cekikikan sendiri." jawab Aliny.
Wartel mencari keberadaan Labu, ketika sampai di pabrik. Namun tidak melihatnya juga, kecuali Kubis yang sedang mengelola bagian produksi.
"Kamu ada lihat Labu tidak?" tanya Wartel.
"Tidak ada, aku sendirian di sini." jawab Kubis.
Tiba-tiba muncul Kentang. "Eh Wartel, aku ada dengar informasi penting, kalau Labu sedang sakit perut."
"Apa? Aku harus menjenguknya saat jam istirahat." jawab Wartel, yang tampak gelisah.
Labu masih saja guling-guling, padahal sudah diberi obat penghilang nyeri dari dokter. Pakis bingung dengan sakit yang diderita oleh adiknya.
"Kamu salah makan apa si Dik?" tanya Pakis.
"Aku tidak makan terlalu berlebihan, saat jalan bersama Wartel." jawab Labu.
"Aduh, duh, perutku sakit sekali. Tolongin aku Wartel, seperti ditusuk paku. Rasanya seperti pisau, yang tajam menusuk ginjal." keluh Labu.
"Aku panggil dokternya dulu." Talas berinisiatif sendiri.
Talas berlari keluar ruangan, untuk memanggil dokter yang sedang duduk. Baru saja meminum jamuan kopi, sudah lari terbirit-birit. Dokter tersebut memeriksa keadaan Labu, yang kejang-kejang.
"Kenapa, apa yang sakit lagi?" tanya dokter.
"Perutku sungguh sakit, aku tidak tahan." Labu meringis, seraya memegangi perutnya.
Kentang, Ubi, dan Talas berjoget heboh, untuk menghibur temannya yang sakit. Wartel memukul lengan mereka satu persatu. Labu terpaksa disuntik bius, supaya sakitnya mereda. Pakis sang kakak mengacak rambut frustasi, segera pergi keluar rumah untuk mencari pertolongan.
Pare tampak seperti mayat, padahal masih hidup. Sudah satu bulan Mbah Moleng berada di rumah sakit, hanya untuk memantau kondisinya. Berbagai mantra sakti telah dibacakan, masih saja penyakit itu kembali lagi pada Pare.
"Putraku, Ibu tidak ingin kamu mati. Semoga kamu lekas sembuh, karena uang tabungan sudah dipakai untuk berobat." Baidah melihat putranya, yang masih terbaring lemah di ranjang pasien.
"Ya doakan saja Bu, sambil terus berusaha." Wartel menyemangati Baidah.
Talas, Ubi, dan Kentang juga merasa iba dengan Pare, yang semakin hari tampak kurus. Selama ini Pare ceria, paling membuat heboh di tempat kerja.
"Pare, kami rindu dengan tingkah kamu yang suka menciptakan lawakan." ujar Talas.
"Iya Pare, mengapa kamu dan Labu harus mengalami sakit yang sama." timpal Ubi.
"Ini sudah takdir, kita hanya bisa mendoakan sembari menerima dengan hati yang lapang." jawab Wartel.
Wartel sebenarnya sedih, karena Labu mendadak sakit setelah menjadi pacarnya. Ada yang tidak beres, namun tidak tahu harus mencurigai objek yang mana.