
Pare kesakitan lagi, karena ditusuk paku dengan boneka. Kubis terus melakukannya, agar Pare lebih tersiksa. Mbah Gondrong juga ikut-ikutan membacakan mantra, untuk memanggil iblis tanduk.
"Aku ingin dia sampai mati." ujar Kubis.
"Iya, aku akan mengusahakannya." jawab mbah Gondrong.
"Jangan mengusahakan, tapi langsung suruh iblis tanduk saja melakukannya." ucap Kubis.
"Baiklah, aku akan memberi titah padanya." jawabnya.
Baidah melihat Pare guling-guling, karena sakit yang dideritanya. Pare memegangi perutnya, dan beralih ke kepala. Lama-lama dia tidak tahan lagi, lalu mengambil pisau. Baidah melarang tangan Pare, yang hendak menusuk perutnya sendiri.
"Aku ingin bunuh diri." ucap Pare.
"Mengapa kamu ingin melakukan hal yang melanggar agama. Tidak baik Pare, jika kamu melakukan ini." Baidah menasehati putranya, yang merasa putus asa.
"Aku sudah lelah Bu, tidak sanggup lagi. Sudah berbulan-bulan, aku terbaring di dalam kamar. Aku sangat rindu dengan kegiatan luar rumah, sekarang aku seperti terkurung kesepian." ujar Pare.
"Sabar Nak, kamu harus bisa melewati ujian ini. Ibu yakin kok, kalau suatu hari nanti kamu mungkin akan sembuh." jawab Baidah, dengan lembut.
Keesokkan harinya, Wartel dan Seledri mencari Sawi. Sudah memeriksa semua tempat, tetap juga tidak ketemu. Entah di mana keberadaan Sawi, yang menjadi tanda tanya dalam hati mereka.
"Kok tumben ya, Sawi tidak kelihatan hari ini." ujar Wartel.
"Apa jangan-jangan dia lagi sakit." jawab Seledri.
"Kalau sakit mestinya dia memberi kabar. Ini malah tidak ada pemberitahuan apa pun di ponsel ku." ucap Wartel.
"Mungkin dia sedang tidak sempat untuk memberi kabar." jawab Seledri.
"Apa kamu melihat Sawi?" tanya Wartel.
"Tidak tahu, sejak tadi aku di sini sendirian." jawab Kubis.
"Iya sudah, kamu kabari kami saja jika melihatnya. Aku ingin segera kembali bekerja, sampai jumpa!" ujar Wartel, seraya berpamitan.
"Oh iya, aku juga ingin membuat produksi mie lagi." jawab Kubis.
Pare membawa pisau, untuk menusuk dirinya. Dia sudah tidak sabar, menahan seluruh rasa sakit. Pare sudah mengarahkan alat tajam tersebut, ke salah satu anggota tubuhnya. Baidah melarang Pare, ketika pisau hendak menusuk perutnya.
"Nak, apa yang kamu lakukan? Jangan mengakhiri hidup, dengan cara seperti ini." ujar Baidah.
"Bu, aku sudah tidak tahan lagi dengan sakitnya." jawab Pare.
Wartel dan Baidah melangkahkan kaki, mengejar tangan Pare yang sedang mengamuk. Pare tetap ingin mencobanya, meskipun mendapatkan larangan. Mereka sampai ditarik-tarik, karena ingin merebut senjata tajam.
"Bu, berikan senjatanya padaku. Aku mohon, rasanya sudah tidak sanggup lagi." Pare mengemis pada ibunya, agar memberikan pisau yang ada di tangannya.
Baidah menyembunyikan alat tajam tersebut, di belakang punggungnya. "Ibu tidak mau, kamu harus bertahan ya Nak!"
Pare menoleh ke arah Wartel, dengan wajah cemberut. "Lebih baik kamu pergi dari sini, jenguk saja pacarmu. Aku ingin mendapatkan senjata itu, jangan berusaha mencegahku."
"Aku tidak bisa membiarkan temanku bunuh diri." jawab Wartel.
Pare hampir melempar gelas ke arah Wartel, namun berusaha di tahan olehnya. Pare mencari cara, agar bisa menyuruh keduanya keluar ruangan. Pare pura-pura ingin mandi, hingga berhasil membuat mereka keluar.