Santet Pelebur Nyawa

Santet Pelebur Nyawa
Boneka Santet



Mie Cihuy dijual di pasaran, sangat laku keras. Sudah dipromosikan pada berbagai postingan media sosial, dan juga banyak kumpulan ibu-ibu yang melihat. Mereka tertarik untuk membeli, dalam jumlah yang banyak. Wartel tersenyum, saat menerima informasi dari karyawati yang mengikuti meeting.


"Jika penjualan berjalan lancar, maka gaji seluruh karyawati pabrik juga berjalan lancar." ujar Wartel.


"Ya Wartel alhamdullillah, memang tidak mudah untuk sampai ke tahap ini." jawab Sawi.


Pare dan Labu merasa kesakitan secara bersamaan, seiring tangan Kubis yang lincah menusuk boneka santet. Kubis sangat bersemangat ingin menghancurkan lawan-lawannya, yang telah berperilaku tidak baik selama dia kerja di pabrik. Sudah tidak peduli lagi dengan nasehat orangtuanya, bahwa melakukan hal tersebut termasuk sebuah dosa.


Kubis tertawa sendiri, saat baru keluar dari toilet. Sawi dan Seledri melihatnya tanpa sengaja, lalu dengan nekat keduanya bersembunyi di balik pot besar. Mereka ingin menguping pembicaraan Kubis, yang tidak tentu arah seperti orang gila.


"Haduh, mengapa Mbah Gondrong pintar sekali si. Bisa-bisanya dia membantu masalahku sejauh ini. Aku sampai bahagia sekali, tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.


"Dia bilang siapa? Mbah Gondrong hebat? Dih, lebih hebat lagi Allah Swt." ucap Sawi.


"Sepertinya, dia menganut iblis untuk pesugihan." Seledri berpikir negatif, bahkan terlalu jauh lagi.


Sawi menepis lengannya, yang bergerak tidak tentu arah. "Hih, kamu ini asal bicara saja."


"Mungkin saja, siapa yang tahu. Kita ini manusia biasa, banyak hal yang tidak bisa dijangkau oleh nalar." jawab Seledri.


"Dia tertawa tanpa teman, seperti orang gila. Bukan berarti bersekutu dengan iblis, makanya kamu lihat dengan detail dulu." Sawi menoleh ke arahnya.


Seledri menoleh ke arah lawan bicaranya juga. "Tetap saja, intinya dia tidak beres."


Seledri kembali menatap tempat, yang menjadi objek fokusnya. Keduanya terkejut, karena Kubis hilang dari pandangan mata. Saat menoleh ke belakang, sudah ada orang yang dicari. Kubis berdiri tegap, sambil berpangku tangan.


"Kalian sedang apa?" tanyanya, dengan raut wajah datar.


Wartel melihat Sawi dan Seledri lari terburu-buru, mereka mengadu tentang yang dilakukan oleh Kubis. Wartel kebingungan mendengar penjelasan mereka, yang terlalu cepat untuk ditangkap oleh kepala.


"Hah? Dia bermain tusuk boneka?" tanya Wartel.


"Iya, kelihatannya bukan sembarang boneka." jawab Sawi.


Pulang ke rumah setelah dari perjalanan luar kota, Labu dan Pare sakit bersamaan. Kubis terus menusuk perut boneka, sekaligus kepala dan lehernya. Lagi enak-enak tertawa di atas penderitaan orang lain, dia malah merasa sakit perut secara dadakan.


Kubis berjalan dengan terseok-seok, perlahan memasuki rumah. Kubis sudah merasa pusing, sejak dalam perjalanan.


"Kamu kenapa?" tanya Aliny.


"Tidak tahu Bu, tiba-tiba kepalaku pusing." jawab Kubis.


"Mungkin, kamu sedang kecapekan saja." Aliny menduganya.


"Bukan karena kecapekan, aku rasa dari cuaca yang sering hujan panas." Kubis tidak nyaman dengan cuaca.


Kubis merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidur sambil memijat pelipisnya. Kubis masih merasa pusing, tidak melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Aliny di dalam kamar membawa obat dan juga makanan.


"Kamu konsumsi ini dulu, Ibu akan menyuapi kamu." tawar Aliny.


"Tidak perlu Bu, aku bisa sendiri. Lebih baik Ibu keluar saja, tinggalkan aku sendiri." Kubis menjawab ketus, karena masih marah.