Santet Pelebur Nyawa

Santet Pelebur Nyawa
Wartel Mendapat Pertolongan



Pakis memeluk Labu, yang akhirnya bebas dari santet. Dia bersyukur adiknya bisa sembuh, setelah berbulan-bulan terbaring di atas ranjang tidur.


"Ingat kata Pak ustadz, kamu harus lebih mendekatkan diri pada Allah." Pakis menasehati nya.


"Ya Kak, aku akan mendengarkan nasehat dengan baik." jawab Labu.


Wartel menunggu di rumah bersama bibi Timun, sambil menyusun sebuah rencana. Keduanya juga sudah meminta tolong ustadz, untuk mengatasi hal musyrik yang dilakukan oleh Kubis.


Pukul 20.00 Kubis datang ke rumah Wartel, dengan membawa kendaraan roda dua setianya. Wartel menyalami tangan bibi Timun, sebelum pergi dengan Kubis.


"Hati-hati di jalan, kalau pulang jangan kemalaman ya." ujar bibi Timun.


"Ya Bi, aku akan mengingat nasehat Bibi." jawab Wartel.


"Bi, aku bawa Wartel pergi dulu. Tenang saja, aku jaga dengan baik ponakan mu." ucap Kubis.


"Baiklah, silakan pergi. Aku pegang ucapan kamu." jawab bibi Timun.


Wartel mulai duduk di boncengan, saat Kubis menyalakan mesin motornya. Kubis membunyikan klakson, agar terlihat lebih sopan depan bibi Timun.


"Jangan kamu kira, aku membiarkan Wartel ponakan ku dibawa olehmu begitu saja. Aku harus mengikuti kalian, apalagi aku tidak tahu kemana tujuan hatimu." monolog bibi Timun.


Motor berbelok ke sebuah tempat sepi, membuat tubuh Wartel merinding. Ditambah suara burung hantu, membuat bulu kuduk semakin berdiri.


"Kamu mau tahu 'kan rahasia aku, sebenarnya aku punya sahabat ghaib. Meski tidak ada boneka santet, aku punya iblis tanduk." ujar Kubis.


"Oh gitu, sungguh? Aku jadi penasaran, ingin juga mengikuti jejakmu." jawab Wartel, dengan berpura-pura tanpa niat.


"Boleh, ayo ikuti langkah kakiku sekarang." Kubis mengayunkan tangannya.


Wartel sengaja memperlambat waktu, dengan banyak bicara. Matanya menoleh ke arah lain, memastikan bibi Timun telah mengikuti. Selain itu juga ada ustadz yang melangkahkan kakinya, bersama beberapa orang warga.


"Shht…! Jangan sampai Kubis tahu, bahwa kita mengikutinya." ujar seorang ketua RT.


"Ya Pak!" jawab seluruh warga serentak.


Tiba-tiba, muncul makhluk tinggi besar. Iblis tanduk memperlihatkan dirinya, supaya Wartel mengakui kehebatannya. Wartel hanya terdiam, untuk menenangkan diri. Paling tidak bisa berlari, jika hal darurat terjadi padanya.


"Wartel, kamu mau 'kan jadi pacarku?" tanya Kubis.


"Ya, tentu saja aku mau!" jawab Wartel, dengan suara yang lirih.


"Jika kamu mau, mari ikut aku ke tempat abadi. Aku akan memperlihatkan sesuatu hal yang menakjubkan." Kubis sengaja waspada, takut Wartel kabur.


"Aku ikut karena masih penasaran, dengan keajaiban yang kamu miliki." jawab Wartel.


Wartel terkejut, saat Kubis menyayat telapak tangannya. Darah Wartel menetes, tepat di sebuah akar pohon besar. Wartel hendak melarikan diri, namun Kubis memaksanya. Kubis berhasil membuat Wartel berbalik arah, lalu bibi Timun memukul punggung Kubis dari belakang.


"Kamu bilang ingin menjaga ponakan ku, tapi nyatanya malah kamu jadikan persembahan!" ujar bibi Timun.


"Bibi, ponakan kamu ini yang diinginkan, oleh makhluk yang aku puja. Daripada aku mengorbankan diri, lebih baik orang lain saja yang dikorbankan." jawab Kubis.


"Aku tidak akan membiarkan kamu melakukannya." Bibi Timun hendak memukul Kubis, lalu iblis tanduk menyerangnya.


"Rasakan kamu Bibi Timun!" Kubis tersenyum mengejek.


Keluar darah dari mulutnya, lalu memberi isyarat agar Wartel melarikan diri. Wartel berlari tidak tentu arah, sampai pada akhirnya bertemu dengan ustadz.