Santet Pelebur Nyawa

Santet Pelebur Nyawa
Kematian Pare



Pare masuk ke kamar mandi, membuka setengah pintunya. Lalu Pare diam-diam mengintip ke arah luar, untuk memastikan Wartel dan ibunya tidak melihat, hal yang akan dilakukannya.


"Yes, mereka tidak ada." monolognya.


Pare berniat melompat dari jendela kamar, namun malah celananya tersangkut. Pare marah-marah, karena dia ingin segera mengakhiri hidupnya. Mungkin dengan cara seperti ini, dia tidak akan lagi merasakan sakit.


Bruk!


Akhirnya Pare berhasil melompat ke bawah, lalu menabrak beton keras. Darah bercucuran dari kepala Pare, karena tulang kepalanya sempat retak. Baidah berteriak histeris, saat melihat darah pada dahi Pare. Putranya sudah kejang-kejang, hendak menghembuskan nafas terakhir.


"Ibu, maafin aku yang berputus asa. Sebagai anak, aku belum bisa membahagiakan Ibu. Maafkan aku, dan selamat tinggal."


"Ya Pare, Ibu sudah memaafkan kesalahan kamu kok." Baidah melihat ibunya, yang menghembuskan nafas terakhir.


Baidah melihat Pare, yang sedang tergeletak. Wajahnya pucat pasi, mulai dimandikan untuk segera dikafankan. Semua orang turut berdukacita, saat mengantar jenazahnya ke pemakaman umum.


"Aku tidak menyangka, kalau hal ini akan terjadi pada Pare." ujar Wartel.


"Ini sudah bagian dari takdir." jawab Seledri.


"Oh ya, teman kita Sawi entah hilang kemana." ucap Wartel.


"Aku juga masih bingung, karena mencarinya tidak tahu harus di mana." jawab Seledri, dengan tertunduk lesu.


Bibi Timun meletakkan mangkuk besar di atas meja, lalu menawarkan pada Wartel dengan lirih.


"Ini apa Bibi?" tanya Wartel.


"Ini adalah sup ayam." Bibi Timun melihat, ke arah ponakannya.


"Kalau gitu, aku cobain ya." ucap Wartel.


"Iya, silakan makan sekarang." Bibi Timun menawarkan.


"Sudah dibawa berobat kemana-mana, tetap juga seperti itu. Memang susah kalau sudah takdir Wartel, kita tidak dapat mengelak. Walau pun sakit yang diderita oleh Pare adalah kiriman dari seseorang." jawabnya.


Keesokkan harinya, Wartel melihat Kubis yang memukul-mukul tangannya sendiri. Wartel mengira Kubis sedang kesakitan, namun ternyata di luar dugaan. Dia malah tertawa, dengan raut wajah meringis.


"Kamu kenapa, kok kelihatan senang sekali?" tanya Wartel.


"Aku hanya tertawa dengan apa yang menjadi ekspektasi dalam kepala." jawab Kubis.


Wartel melihat wajah Kubis dengan detail. "Kamu sangat aneh, di mana boneka kamu?"


"Boneka apa si, aku tidak mengerti dengan hal yang kamu tanyakan." jawab Kubis datar.


"Jangan mengelak, aku pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri." Wartel sibuk ingin menggeledah tasnya.


Kubis menghalangi yang dilakukan Wartel. "Kamu jangan kurang ajar, ingin menggeledah tas tanpa izin."


"Aku ingin membuktikan, apa yang ada dalam tas kamu." Wartel mengotot dengan tindakannya.


Kubis mendorong tubuh Wartel, lalu menangkap tas yang melayang ke atas udara. "Hmm... jangan memancing emosiku, karena aku tidak segan berbuat macam-macam."


Kubis pergi begitu saja, sedangkan Seledri menolong Wartel yang sedang berdiri di sudut tembok. Wartel mengedipkan mata berulang kali, terlihat tampak panik.


"Ada apa? Apa kamu sedang diancam?" tanya Seledri.


"Iya, Kubis melarang aku melihat bonekanya." jawab Wartel.


"Kamu terus terang sekali, lebih baik mendekatinya secara halus saja." Seledri memberikan saran.


"Baiklah, aku akan minta maaf dengannya." Wartel menyetujui hal yang diucapkan Seledri, lalu berpikir untuk menyusun rencana.