
Aliny keluar dari kamar Kubis, membiarkannya tertinggal sendiri. Kubis menyuapi dirinya sendiri, sambil melamun. Kubis sedang memikirkan Labu dan Pare, dengan menahan kepala nyut-nyutan.
"Mereka harus terus menderita, agar tidak bisa kembali lagi ke pabrik." monolog Kubis.
Kubis mengambil nasi dan lauk pauk dengan sendok, lalu makan dengan perlahan-lahan. Terasa nyeri kepala, membuat nafsu makannya berkurang. Dia tidak lagi dapat memikirkan rasa sakit orang lain. Kubis hanya bisa fokus ke dirinya, sambil terus menggerutu menahan rasa sakit.
"Mbah Gondrong katanya hebat, apa dia bisa menyembuhkan rasa sakit ini." monolog Kubis.
Kubis sudah tidak sabar, untuk menyantet Labu dan Pare lagi. Meski pun, sekarang mereka masih sakit. Mbah Gondrong terus saja mengerjainya, dengan menyuruh iblis tanduk. Tidak tahu bagaimana keadaan kubis sekarang, yang penting melakukan yang diinginkan olehnya.
"Aduh, kapan aku sembuh dari sakit ini." monolog Kubis.
Bibi Timun dan Wartel duduk bersama di ruang keluarga. keduanya memperhatikan layar televisi, yang menampilkan acara film santet. Wartel sampai bergidik ngeri, tatkala korban sampai bocor kepalanya.
"Apa sampai sekejam itu pelaku santet?" tanya Wartel.
"Memang seperti itu Wartel, di desa saja banyak kejadian. Pokoknya ngeri orang zaman sekarang, kalau dendam pada sadis." jawab bibi Timun.
"Tergantung orangnya juga sih, tidak semuanya setega itu. Hanya orang-orang tertentu saja, yang tidak ada perasaan lagi. Mungkin sudah beku hatinya, tidak dapat mengingat Allah lagi." ucap Wartel.
"Iya Wartel, tapi kebanyakan orang itu menyimpan dendam." jawab bibi Timun.
"Kita 'kan masih bisa menggunakan cara halus, bukan dengan cara-cara yang menyimpang." ujar Wartel.
"Iya Wartel, itu 'kan menurutmu. Semua orang punya argumen masing-masing." jawab bibi Timun, dengan lembut.
Pakis datang menjenguk adiknya, yang berada di kamar sendiri. Tidak lupa pula membawa makanan, dalam piring berukuran sedang. Ada ayam goreng, tempe, tahu, dan sayur brokoli.
"Aku Tidak selera makan Kak, tubuhku terasa sakit semua." jawab Labu, yang terlihat hampir menyerah.
"Harus semangat dong, jangan putus asa gitu. Tidak baik loh, karena Allah benci sifat tersebut." ujar Pakis, dengan sumringah.
"Iya Kak, aku paksain deh." Labu hendak duduk, dengan dibantu oleh kakaknya.
Sudah berhasil juga, meski duduk dengan posisi sedikit membungkuk. Menahan rasa sakit, membuatnya susah untuk duduk tegap. Labu disuapi oleh tangan Pakis, karena tidak dapat makan sendiri. Menahan rasa sakit sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, apalagi untuk banyak bergerak.
Keesokkan paginya, Wartel dan teman-teman mengintip tempat Kubis biasa beristirahat. Tidak terlihat juga batang hidungnya, itu yang membuat mereka heran.
"Eh, kok Kubis tidak ada?" tanya Wartel.
"Tidak tahu, padahal aku ingin menyelidiki boneka itu." jawab Seledri.
"Memang terlihat seram si." sahut Sawi.
"Kalau gitu, kapan-kapan saja. Menunggu Kubis masuk ke pabrik lagi." Wartel mengusulkan idenya.
Tiba-tiba ada Kentang, Talas, dan Ubi yang menghampiri mereka. Wajah mereka yang dingin, membuat semua orang terkejut. Wartel sampai mengelus dada berkali-kali, dengan suara Kentang yang lantang.
"Harus sampai segitunya kalian bereaksi? Padahal aku cuma menyapa saja, kok seperti orang melihat setan." ucap Kentang.
"Iya kamu si, ngapain mendadak bersuara." jawab Wartel.