
Baidah meletakkan koper di dalam kamar, lalu merebahkan tubuh Pare di atas ranjang tidur. Pare merasakan sakit luar biasa pada perutnya, tanpa bisa dialihkan lagi.
"Sandarkan kepalamu, biar aku kompres dengan air hangat." ujar nyai Mardeh.
"Iya, aku menuruti ucapan Nyai." jawab Pare.
Pare memegangi perutnya, sambil bersandar di ranjang tidur. Pare menangis merasakan penderitaan yang tidak kunjung berhenti. Berbeda dengan yang mengirim santet, dia sangat bahagia di atas derita orang lain.
"Pare, kamu yang sabar ya Nak!" ucap Baidah.
"Iya, aku akan berusaha Bu." jawab Pare.
Sementara di sisi lain, Wartel sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Kubis tidak menyerah untuk mendekati Wartel, karena merasa tidak punya saingan lagi.
"Wartel, tidak bisakah menemani aku jalan?" tanya Kubis.
"Tidak bisa, pacarku sedang di rumah sakit, aku harus sering-sering menjenguknya." jawab Wartel.
"Sekali ini saja, tolong bersedia temani aku." pinta Kubis.
"Kamu 'kan bisa ajak teman laki-laki kamu, kenapa harus aku?" jawab Wartel, dengan datar.
"Kamu sampai bersikap seperti ini, demi menolak ku?" Kubis tercengang.
"Supaya kamu lebih peka, kalau aku ingin menghabiskan waktu bersama Labu." jawab Wartel.
Wartel dan Kubis saling mendiamkan, mulai canggung antara satu dengan yang lain. Wartel yang lebih dulu menjauh, sebelum dimulai oleh Kubis terlebih dulu.
"Wartel, beraninya kamu menolak aku seperti ini. Aku tidak akan segan-segan untuk berbuat macam-macam, jika kamu tetap memilih Labu." monolog Kubis.
"Kalian harus mencari, dari mana sumber pengirim santet pelebur nyawa ini." ujar pria paruh baya tersebut.
"Iya, aku akan mencarinya." jawab Pakis.
"Ini bukan kekuatan biasa, melainkan iblis tanduk sang penguasa. Dia yang membantu, dalam menjalankan kekuatan supranatural ini." Dukun memberitahu terlebih dulu, sebelum pakis bertindak dengan gegabah.
Keesokkan harinya, Wartel melangkahkan kakinya menunggu taksi. Tiba-tiba ada Kubis menghentikan motornya di pinggir jalan, lalu menawari wartel untuk pergi bersama ke pabrik. Wartel menolak ajakan dari Kubis, karena mulai tidak nyaman lagi. Sudah dua kali, Kubis mengajaknya untuk jalan bersama.
"Aku minta maaf Wartel. Aku tidak akan mengajak kamu jalan lagi." ucap Kubis.
"Baiklah, terima kasih untuk pengertiannya ya." jawab Wartel.
"Iya sudah, sekarang ayo pergi bersama ke pabrik." ajak Kubis.
Wartel tersenyum lega, karena Kubis mengerti kode darinya. "Kita berteman, namun harus tetap menjaga jarak." jawabnya.
Kubis mengikuti keinginan Wartel, meski rasanya sangat terpaksa. Kubis hanya mengacungkan dua jempolnya, yang terangkat tanpa semangat sedikit pun.
"Kubis, mengapa kamu tidak cari calon istri saja. Bukan bermaksud mengatur si, namun kamu bisa mengajaknya jalan. Nah, dengan seperti itu kamu tidak gelisah." ujar Wartel.
"Hanya karena aku mengajakmu jalan, kamu sampai berpikir sejauh ini." Kubis menjadi semakin malas, hilang minat untuk menjalani aktivitas.
"Maaf Kubis, aku tidak bermaksud ingin menyinggung kamu." Wartel menjadi tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, jangan sungkan lagi. Aku sudah tahu, dari caramu yang sering menolak. Mau bagaimana pun kamu berbicara, tidak merubah apa yang aku pikirkan tentang kamu." jelas Kubis, dengan nada suara lirih.