Santet Pelebur Nyawa

Santet Pelebur Nyawa
Wartel Mendekati Kubis



Wartel memberanikan diri, untuk menenangkan amarah Kubis. Sebenarnya takut, namun memilih ditinggal sendiri. Tidak berniat kabur sedikit pun, seakan dia tidak berbuat hal keliru.


"Kamu perempuan sialan, beraninya berpura-pura baik padaku." ucap Kubis.


"Aku tidak pura-pura padamu, aku hanya refleks melihat kamu ingin membunuh Kak Pakis." jawab Wartel, dengan gugup.


"Dia mengambil boneka milikku, hal wajar bila aku emosi. Kamu harusnya tidak memukul punggungku hingga merasa remuk." Kubis mengacak rambutnya frustasi, setelah sebelumnya menatap lawan bicara.


"Maafkan aku ya, harusnya tadi aku cegah dia." Wartel masih berpura-pura baik, demi menggali informasi lebih jauh.


"Ya sudah, lain kali bangunkan aku." ujar Kubis.


"Kamu tadi sudah aku bangunin, tapi tetap saja tidak bangun." jawab Wartel.


Wartel menuntun Kubis, sampai berada di atas motor. Kemudian kendaraan roda dua tersebut melaju kencang, menuju ke rumahnya. Aliny dan Bhargi melihat Kubis yang sudah pulang.


"Nak, kamu kok sudah pulang?" tanya Aliny.


"Pulang dan istirahat tanpa disuruh lebih seru Bu." jawab Kubis.


"Nanti orang-orang di perusahaan mencari kamu, karena tidak kelihatan." ujar Aliny.


"Biarkan saja, mereka tidak akan berani mengadu juga." jawab Kubis, dengan santai.


"Bekerja harus tanggungjawab, jangan sesuka hati bolos." ujar Bhargi.


"Sudahlah Ayah, jangan ikut campur urusanku. Aku sedang malas untuk berdebat, karena ingin istirahat." jawabnya.


Santet disembuhkan dengan pak ustadz, dan mantra sudah berhasil terlepas. Iblis tanduk menyerang Mbah Gondrong, lalu masuk ke kamar Kubis. Iblis hendak membunuh Kubis, namun sebuah kalimat permohonan terlepas begitu saja.


"Jangan bunuh aku, nanti aku akan berikan kamu tumbal."


"Apakah ucapanmu bisa dipegang?" Iblis tanduk melihat ke arah Kubis, dengan suara yang menggelegar.


"Baiklah, aku tidak akan membunuhmu. Awas saja kalau kamu berani membohongiku."


Bibi Timun melihat Wartel yang datang, dengan raut wajah bingung. Bibi Timun menyuapi Wartel, dengan gorengan jagung.


"Bibi, aku sedang tidak lapar. Tapi aku mikir, apa Labu bisa sembuh?" tanya Wartel.


"Atas izin Allah bisa, kamu hanya harus terus berdoa. Jangan lupa yakin, kalau semua akan baik-baik saja." jawab bibi Timun.


"Ya Bi, aku mau istirahat dulu." ujar Wartel.


"Jangan lupa makan malam." Bibi Timun mengingatkan.


Keesokan harinya, Kubis sengaja menyatakan perasaan. Wartel melihat Kubis yang bertindak memaksa, tidak sungkan mengemis agar Wartel menjadi pacarnya. Wartel pura-pura baik terlebih dulu, seolah tidak tahu kejahatan yang dilakukan oleh Kubis.


"Aku yakin, selama ini kamu mendekatiku karena suka 'kan?" tanya Kubis.


"Asal kamu bersedia memberitahu aku, pasti aku menerima kamu jadi pacarku." jawab Wartel.


”Ayo dong, bongkar rahasia santet pelebur nyawa milikmu. Aku harus segera menolong Labu, karena aku ingin dia segera sembuh.” batin Wartel.


Kubis juga berbicara di dalam batin. ”Ayo terima dong, supaya kamu bisa menjadi tumbal iblis tanduk. Aku tidak ada pilihan lain, daripada harus mati di tangannya.”


"Aku bersedia memberitahu rahasia terbesarku, ayo ikut denganku nanti malam." ajak Kubis.


"Baiklah, sekitar pukul 20.00 malam aku akan pergi ke rumahmu." jawab Wartel.


"Jangan, lebih baik aku yang ke rumahmu. Tidak pantas saja, bila perempuan yang mendatangi laki-laki duluan." Kubis menyesuaikan umumnya saja.


"Baiklah, aku tunggu di rumah." jawab Wartel, dengan suara lembut.