Santet Pelebur Nyawa

Santet Pelebur Nyawa
Mengeluarkan Darah Dari Telinga



Saat Wartel sedang mengemasi produk mie baru, Kubis mendekatinya untuk memulai pembicaraan. Wartel tersenyum ke arahnya, karena sudah dianggap teman sendiri.


"Eh, kamu mau tidak jalan nanti malam." ujar Kubis.


"Maaf tidak bisa, aku mau menjenguk Labu di rumah sakit." jawab Wartel.


"Labu terlihat penting sekali ya di mata kamu." Kubis menahan jengkel.


"Iyalah, soalnya kami sudah pacaran." Wartel jujur saat menjawab.


Malam harinya, Kubis memulai aksi kejahatannya. Dia lebih gila lagi dalam mengerjai musuhnya, tidak sungkan menusuk telinga boneka dengan paku. Kubis tertawa cekikikan sendiri, seperti orang gila yang kehabisan obat.


"Hahah... tahu rasa kamu Labu. Mampus sekalian, tidak perlu bangun lagi."


Aliny masih masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Kubis benar-benar murka, lalu mendorong ibunya hingga tubuhnya jatuh ke lantai.


"Kubis, apa salah Ibu sama kamu Nak?" tanya Aliny.


"Ibu masuk ke kamar tanpa izin lagi." jawab Kubis.


"Maafin Ibu, karena dari tadi kamu tidak menyahuti panggilan. Ibu akhirnya masuk, karena pintu tidak dikunci." Aliny sedikit menyesal.


Kubis segera membantu ibunya berdiri, lalu minta maaf atas perbuatannya. Aliny heran dengan Kubis, karena sering termenung lalu tertawa sendiri. Tingkahnya seperti orang sudah tidak waras lagi.


"Kamu hati-hati kalau sedang sendiri. Jangan lupa cerita, kalau punya masalah." ujar Aliny.


"Jika hal tersebut bukan rahasia, aku akan beritahu Ibu lebih dulu." jawab Kubis.


Pakis mondar-mandir kebingungan dengan kondisi Labu, yang malah semakin memburuk. Telinga yang mendadak mengeluarkan darah, membuat dokter berlari terbirit-birit untuk memeriksa.


"Mengapa kondisinya bisa separah ini, padahal saat diperiksa tidak ada penyakit apapun." Dokter tersebut merasa heran.


Pakis melangkahkan kaki mendekati dokter, untuk menanyakan kabar adiknya. Dokter yang baru keluar dari ruangan, langsung memberikan jawaban dengan lirih.


"Adik kamu sudah diperiksa, namun tidak ada gejala sakit kanker apa pun." ucapnya, dengan jujur.


"Dok, berbicara sesuai realita saja. Jelas-jelas, telinganya mengeluarkan darah." jawab Pakis.


"Barangkali, dia bukan sakit medis." ujar dokter.


"Mungkin sakit kiriman dari orang lain." Pakis tiba-tiba terpikir dengan Pare, temannya Labu yang sudah lama sakit.


Hari-hari terus berlalu, Pakis banyak mengundang orang pintar. Para dukun, tabib, dan paranormal telah dikerahkan. Namun hasilnya tetap nihil, membuatnya hampir putus asa.


"Kadang Kakak ingin menyerah, melihat kondisi Labu yang seperti ini." Pakis curhat pada Wartel.


"Iya Kak, memang kondisinya sungguh memperihatinkan. Banyak yang tidak tahu, bagaimana. mengatasi sakit yang dialami Labu." jawab Wartel.


"Bagaimana dengan Pare temannya, apa dia sudah sembuh?" Pakis merasa penasaran.


"Pare masih sakit, dan dibawa Tante Baidah berobat." jawab Wartel, sambil mengingat kunjungan terakhirnya.


Baidah sudah sampai di kota Bandung, membawa Pare yang lemah tak berdaya. Baidah rela melakukan apa saja, supaya anaknya bisa kembali seperti semula. Meski harus menjual lokasi rumah tempat tinggalnya, karena diperlukan untuk pengobatan yang tak kunjung ada akhirnya.


"Nyai Mardeh, anakku ini terkena santet." ucap Baidah, dengan terus terang.


"Ayo bawa ke dalam, akan aku buatkan ramuan Bidara penangkal iblis." jawab nyai Mardeh.


"Baik Nyai, aku akan menginap di sini untuk sementara waktu." ujar Baidah.


"Boleh, boleh, ada ruang khusus penginapan." jawabnya.