Santet Pelebur Nyawa

Santet Pelebur Nyawa
Mencuri Boneka Santet



Wartel diam-diam ingin mengelabuhi Kubis, untuk mengetahui yang sebenarnya. Kubis melihat kedatangan Wartel, yang tampak menundukkan kepalanya.


"Aku minta maaf ya Kubis, karena sudah menaruh rasa curiga sama kamu." ucap Wartel.


"Iya, tidak apa-apa Wartel." jawab Kubis santai, tanpa merasa curiga sedikit pun. 


Wartel tersenyum dalam hati, karena berhasil mengambil hatinya. Wartel berusaha bersikap seramah mungkin, agar tidak menimbulkan kecurigaan pada lawan bicaranya.


"Nanti mau aku buatkan kopi tidak?" tawar Wartel.


"Boleh, kalau kamu tidak keberatan." jawabnya.


"Kalau keberatan, sejak awal tidak perlu aku tawarkan." Wartel tersenyum manis.


"Baiklah, terima kasih ya." jawab Kubis.


Wartel menuangkan air hangat pada gelas, lalu memberi obat tidur. Sengaja dilarutkan dalam gelas, supaya Kubis tidak mengetahui hal yang akan dilakukannya.


"Ini untuk kamu!" Wartel tersenyum. 


Kubis melihat kepulan asap, yang naik ke atas udara. "Terima kasih, hasil tanganmu pasti enak."


Kubis mulai menyeduh perlahan-lahan, lalu menjulurkan lidah berulang kali. Kubis merasakan kepanasan, sampai menggigit pelan lidahnya sendiri.


"Pelan-pelan dong, jangan buru-buru. Aku menemani, santai saja." Wartel masih setia menemani di sampingnya.


Kubis meletakkan gelas, kembali melanjutkan packing mie ke dalam kardus. "Ya Wartel, tapi kepala ku tiba-tiba sakit."


Sementara di sisi lain, ada Pakis yang menyuapi adiknya makan. Labu tidak mau memasukkan makanan meski sedikit, jika tidak karena paksaan.


"Kamu harus yakin, kalau kamu akan segera sembuh." ujar Pakis. 


"Pare saja sudah mati mengenaskan, mungkin aku pun akan mengalaminya." jawab Labu, yang sudah putus asa.


Wartel buru- buru pergi menuju rumah Labu, untuk memperlihatkan boneka santet. Labu melihat Wartel yang sedang membawa boneka aneh dalam genggaman tangannnya.


Wartel menjenguk pacarnya, yang masih belum sembuh. Bagaimana pun juga, Wartel ingin pergi bekerja bersama kembali. Dia merindukan kenangan dulu, sebelum akhirnya menjadi seperti sekarang. 


"Belum, namun secepatnya aku akan mendapatkan informasi hal ini. Kesembuhan kamu adalah hal penting, yang tidak bisa ditunda." jawab Wartel.


Wartel menoleh ke arah Pakis, yang duduk tidak jauh dari Labu. Dia tampak setia menemani, karena khawatir akan terjadi sesuatu hal buruk pada Labu.


"Kak, aku menemukan ini di dalam tas tekan kerjaku." ujar Wartel.


"Mengapa tega melakukan ini pada adikku? Meski punya masalah pun, dapat dibicarakan baik-baik." jawab Pakis.


"Pasti dia yang telah membuatku sengsara." sahut Labu, dengan tersulut emosi.


"Tenang dulu, kita harus menyelidiki darimana boneka ini berasal. Sekaligus mencari tahu, siapa orang yang dia tuju." jawab Wartel.


"Sudahlah, tidak perlu terlalu ribet. Katakan, milik siapa barang ini?" Labu sudah tidak sabar lagi.


"Ini milik Kubis, aku sengaja menggeledah tasnya." jelas Wartel.


Ustadz yang ada di ruangan itu sengaja mendekat, melihat boneka santet tersebut. Dibacakannya ayat Alquran, lalu menyuruh Pakis membakarnya.


"Cepat, jangan sampai lewat dari pukul 24.00 malam." ujar ustadz.


"Baik Pak." jawab Pakis.


Pakis berlari ke arah halaman rumah, lalu sebuah serangan tinju melayang mengenai pipi kanannya. Tanpa aba-aba, Pakis menerima pukulan dari Kubis.


"Beraninya kamu mengambil boneka milikku." ujar Kubis.


"Kamu yang kurang ajar, beraninya membahayakan adikku dengan santet." Pakis berbicara spontan, sudah tak terbendung lagi amarahnya.


"Adik kamu itu tidak tahu diri, sudah melakukan bullying setiap hari. Lama-lama aku makan hati, dengan tindakannya yang semena-mena." Kubis berbicara sampai matanya melotot, seakan ingin loncat dari tempat asalnya.


"Aku mewakilinya meminta maaf padamu." Pakis dengan rendah hati mengatakannya.


"Sudah terlambat, terima saja konsekuensinya." Kubis mengeluarkan gunting, dari saku celananya.


Wartel yang berada di belakang dadakan, memukul Kubis menggunakan sapu ijuk. Pakis segera berdiri membawa adiknya pergi, dengan menggunakan mobil sedan.