Santet Pelebur Nyawa

Santet Pelebur Nyawa
Boneka Santet Dibakar



Boneka dipegang dan dipandang oleh Aliny, tampak sangat mengerikan, padahal hanya diperhatikan detail dari wajahnya. Bhargi sampai mengelus dada berkali-kali, karena mengenali itu boneka santet.


"Pasti anak kita telah berbuat musyrik, karena telah menduakan Allah." ucap Bhargi.


"Ya sudah, kalau begitu kita bakar saja bonekanya." jawab Aliny, yang mengusulkan idenya.


Aliny dan Bhargi melangkahkan kaki keluar dari kamar. Boneka sudah dibawa keluar, berjalan menuju ke halaman rumah. Bhargi menyalakan korek api, untuk membakar boneka. Kubis marah, saat memergoki bonekanya dibakar oleh Bhargi.


"Mengapa boneka milikku dibakar. Aku tidak terima, kalian memasuki kamarku tanpa izin." ujar Kubis, dengan murka.


"Maafkan Ibu Nak, tapi kami merasa bahwa kamu telah berbuat curang." jawab Aliny.


"Tidak Bu, sungguh itu hanya boneka biasa." ucap Kubis.


"Jangan bohong, Ibu tahu itu boneka santet." jawab Aliny, dengan suara lirih.


Aliny melihat Kubis yang mencari kayu, untuk memadamkan api yang membakar bonekanya. Meski pun dia menyiram air sekarang, boneka tidak akan bisa utuh kembali. Sudah terlanjur terbakar, jadi sulit untuk kembali seperti semula. Kubis langsung pergi, untuk menemui mbah gondrong.


"Aku akan pergi malam ini, untuk mencari pengganti bonekanya. Hari selanjutnya, kalian jangan masuk ke kamar lagi tanpa izin." ucap Kubis.


Bhargi melihat Kubis, yang sudah menyalakan mesin motor. "Tunggu Kubis, Ayah belum selesai berbicara."


Ayahnya tetap melihat Kubis, yang sudah berbelok. Kendaraannya sampai tidak terlihat lagi, terbawa oleh angin terbang. Aliny merasa sedikit kesal, melihat anaknya yang jadi durhaka. Hanya karena dendam menguasai hatinya, dia tidak enggan menyakiti hati orangtuanya.


Mbah Gondrong membacakan mantra pada boneka lagi, lalu memberikannya pada Kubis. Seolah, dia penyelamat yang kekal untuk manusia. Kubis percaya begitu saja, bahwa dendamnya akan membuat hati lega. Kubis menusuk boneka itu lagi, dan bersamaan dengan itu Labu berteriak.


"Aduh, perutku sangat sakit. Aku mohon bantu aku, supaya bisa sembuh." ujar Labu.


"Nyai Mardeh sedang koma di rumah sakit. Kami tidak kuasa, menyembuhkan rasa sakit yang kamu alami. Kami hanya bisa membantu, lewat doa saja. Kakak sudah berikhtiar, dengan membawa kamu ke luar kota." jelas Pakis.


"Aku rindu pabrik, dan juga aktivitas bersama teman-teman. Aku ingin hal itu kembali lagi dalam hidupku." ucap Labu, dengan jujur dari hati terdalam.


"Besok kalau semuanya sudah kembali, kamu harus lebih bersyukur. Jangan pernah menginginkan, hal yang lebih." jawab Pakis.


Kubis baru pulang ke rumah, pada pagi harinya. Bhargi menegur Kubis, sambil menasehatinya tentang agama. Kubis langsung membentak ayahnya dengan kasar.


Aliny menegur Kubis, karena suaranya meninggi. "Tidak baik seperti itu, cepat minta maaf sama Ayah kamu."


"Aku tidak mau, karena Ayah yang sudah memasuki kamarku diam-diam." Kubis keras kepala.


Kubis pergi begitu saja dengan dibisiki oleh iblis tanduk. Dia masih menyimpan dendam, karena terus menerus di-bully. Kubis membersihkan diri di kamar mandi, siap-siap untuk pergi ke pabrik lagi.


”Bagaimana pun caranya, Labu tidak boleh sembuh. wortel harus menjadi milik aku, lalu kami hidup bersama." monolog Kubis.