Santet Pelebur Nyawa

Santet Pelebur Nyawa
Diserang Boneka Santet



Ada rasa rindu di dalam hati, saat sudah lama tidak melihat Wartel. Kubis kembali bekerja ke pabrik, saat sakitnya sudah membaik. Dia melihat Sawi dan Seledri yang menunduk, tanpa mau menoleh sedikit pun.


"Kubis, aku dengar kamu sakit." ujar Wartel.


Kubis tersenyum. "Iya, tapi kamu tidak menjenguk."


"Aku masih khawatir dengan keadaan Labu." ucap Wartel, dengan jujur.


"Iya, aku paham kok. Kamu selalu saja memikirkan pacar kamu itu." jawab Kubis, dengan sedikit ketus.


"Eh, mengapa kamu jadi marah tidak jelas padaku?" Wartel merasa heran.


"Tidak, aku hanya terbiasa dengan sikap kamu. Jadi, sudah mengerti harus seperti apa bila di hadapanmu." Kubis melangkahkan kakinya duluan, untuk kembali bekerja.


Sawi dan Seledri sibuk menyenggol temannya, mengatakan bahwa wajah Kubis seram. Hanya sebuah isyarat, memberi kode dengan gerak tangan.


"Dia terlihat sangat membenci sesuatu. Jangan-jangan, memiliki dendam pada seseorang." ujar Seledri.


"Mungkin saja, siapa yang bisa mengetahui hati manusia seperti apa." jawab Wartel.


"Ingat kita harus menyelidiki boneka, yang sering dipegang olehnya." ucap Seledri


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang. Kita harus menangkap basah perbuatan Kubis, menegur sambil memberi peringatan." jawab Sawi, dengan semangat.


Aliny dan Bhargi melangkahkan kakinya menuju kamar Kubis. Tidak ditemukan boneka biasanya, yang tampak mencurigakan. Tidak ada apa pun juga, termasuk paku yang biasanya digunakan untuk ritual santet.


"Di mana iya bonekanya?" tanya Aliny, pada pria di sebelahnya.


"Mana aku tahu, kita 'kan sudah membakarnya. Kalau ada lagi, berarti dia beli atau mengambil di suatu tempat." jawab Bhargi.


"Kita akan menyelidikinya, kalau dia sudah pulang nanti." Bhargi mengusulkan idenya.


Bibi Timun mendengar pembicaraan ibu-ibu komplek, saat membeli sayur. Mereka sibuk bicara mengenai ilmu spiritual, yang sedang populer. Tujuannya hanya satu, yaitu balas dendam, dengan menggunakan boneka santet.


Saat Kubis baru pulang, Aliny meminta tolong padanya. Bhargi segera meminta tas Kubis, dengan alasan ingin meletakkannya ke kamar.


"Sudahlah, kamu cepat tolong ibumu memasang gas di dapur. Tumben tidak cocok dengan karet mana pun." titah Bhargi.


"Baiklah Ayah." Kubis menurut saja, kali ini malas berdebat.


Bhargi masuk ke kamar Kubis, lalu membuka resleting tasnya. Sungguh terkejut ketika melihat isi di dalam tas, boneka santet itu lagi pikirnya.


"Mengapa boneka ini ada lagi? Pasti Kubis melakukan hal yang melanggar agama." Bhargi melempar boneka ke lantai, lalu menginjaknya dengan kaki.


Tiba-tiba kakinya kesakitan, karena diserang dengan boneka. Tidak segan juga memukul kepala Bhargi, dengan tubuhnya yang terbuat dari kayu.


"Tolong! Tolong!"


Suara teriakan Bhargi terdengar sampai ke dapur, membuat Aliny dan kubis segera berlari menghampirinya. Boneka terus menyerang Bhargi tanpa henti, lalu Aliny mengambil sapu ijuk.


"Kamu buang boneka ini Kubis, dia adalah jelmaan iblis." ujar Aliny.


"Bu, boneka ini teman bermainku saat merasa jenuh. Tolong jangan singkirkan yang ini, cukup yang pertama kalian bakar." jawab Kubis.


Kubis segera menangkap bonekanya, yang melayang di atas udara. Kubis menyuruh mereka keluar dari kamar, karena merasa terusik dalam melakukan ritual.