
Kubis ikut menjenguk Pare dan Labu, supaya tidak dicurigai oleh semua orang. Kubis melangkahkan kaki mengikuti Wartel, menuju ke ruangan Pare dirawat.
"Eh, mengapa kamu tidak mencoba berobat dengan ustadz." ujar Wartel.
"Iya, boleh juga dicoba saran dari kamu." jawab Pare.
"Iya Pare, nanti aku akan musyawarah dengan Tante Baidah." ucap Wartel, dengan tegas.
"Baiklah, aku tunggu secepatnya." jawab Pare, dengan tidak sabar.
Wartel keluar dari ruangan kamar, lalu menemui Baidah yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah.
"Tante, ada yang ingin aku bicarakan. Apa Tante ingin mendengarkan sebuah saran." ujar Wartel.
"Iya boleh, silakan bicara." jawab Baidah.
Wartel duduk di kursi teras, setelah Baidah mempersilakan. Wartel mengutarakan maksudnya, untuk mengobati Kubis. Baidah memikirkannya berulang kali, tampak menimang-nimang pembicaraan yang mereka ucapkan.
"Tante setuju dengan ide kamu ini." ucap Baidah.
"Baiklah Tante, aku pulang dulu ya." jawab Wartel.
Sawi nekat mengikuti Kubis, yang sedang mengendarai motor ke suatu tempat. Tapi tidak ingin diketahui oleh Kubis, jadi melakukannya dengan diam-diam.
"Bagaimana Mbah Gondrong, apa yang harus kita lakukan, mereka ingin memanggil ustadz." ujar Kubis.
"Kita siksa lebih menyakitkan lagi, agar mereka menyerah, sampai di titik yang lebih parah lagi." jawab Mbah Gondrong.
"Aku setuju, santet pelebur nyawa ini adalah mantra balas dendam paling ampuh." Kubis tersenyum jahat.
"Baiklah, kita tunggu apalagi." jawabnya.
Sawi memergoki pembicaraan Kubis dan Mbah Gondrong. Kakinya mundur tiga langkah, dan tidak sengaja menginjak ranting. Mbah Gondrong melihat ke arah Sawi, dan mengajak Kubis untuk mengejarnya.
"Sudahlah, kita bunuh diam-diam saja." jawab mbah Gondrong.
Sawi berlari tidak tentu arah, sampai kakinya menginjak lumpur. Sawi melihat ke arah sekeliling kanan dan kiri, tidak lepas dari kedua bola matanya.
"Aku harus sembunyi di mana ya?" Sawi bertanya-tanya pada diri sendiri.?
Sawi bersembunyi di balik pohon, lalu terkejut dengan rasa sakit mendadak. Kubis sudah dirasuki oleh iblis tanduk, sehingga tidak bisa mengendalikan rasa marahnya.
"Ngapain kamu ikut campur urusan aku." ucap Kubis.
"Karena kamu punya niat jahat, pada teman-teman aku." jawab Sawi.
"Aku akan membunuhmu, supaya tidak ad yang membongkar rahasia aku." Kubis menatap dengan tidak suka.
Sawi memegangi pundaknya, yang sudah terkena tusukan pisau kecil. "Aku tidak takut, karena kamu manusia zalim." jawabnya.
"Kamu pikir, Pare dan Labu dan tidak jahat? Mereka selalu berbuat seenaknya, memperlakukan aku bukan manusia. Aku kerja di pabrik, selalu ditindas dengan mereka." jelas Kubis.
"Tapi, kamu jangan sampai membunuh juga. Masih banyak cara yang lain, jika ingin memberikan pelajaran." ujar Sawi.
"Aku tidak peduli dengan saran yang kamu beri. Aku akan tetap melakukan hal yang aku inginkan." jawab Kubis, dengan yakin.
Kubis menusuk perut Sawi dengan brutal, hingga perempuan itu terjatuh ambruk ke tanah. Kubis tidak peduli, dia menendang Sawi hingga jatuh terkapar.
"Tolong!" Sawi berteriak, sambil menahan rasa sakit.
Tidak ada satupun orang yang menolongnya, karena tempat tersebut jarang dikunjungi banyak orang. Mbah Gondrong membantu proses penguburan jasad Sawi, meski dengan cara yang tidak dibenarkan dalam islam.
"Jangan sampai ada yang mengetahui hal ini." ucap Kubis, dengan panik.
"Aman, kamu tenang saja." jawab mbah Gondrong.