
Nyai Mardeh menyambut kedatangan Wartel, bibi Timun, Labu, dan Pakis. Labu masih kesakitan, sampai masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian, sakit yang menyiksanya sembuh.
"Nah, kalian pasti teman Pare." ujar nyai Mardeh.
"Benar Nyai, kami datang ke sini untuk mengobati satu orang lagi." jawab Wartel, sambil melirik ke arah Labu.
Labu merasa heran, karena sakitnya berangsur membaik. "Kok aneh sekali, tiba-tiba tubuhku pulih."
"Rumah ini dikasih penangkal air Bidara. Jadi, untuk sementara waktu di sini terlebih dulu. Mengusir makhluk halus itu sangat sulit, karena dia kiriman dari seseorang. Yang bisa kita lakukan adalah, dengan mencegah masuk ke dalam rumah.'' jawab Wartel.
Nyai Mardeh berpamitan untuk pergi ke toko yang menjual sayur. Menyambut mereka, tentu harus dengan masakan yang sesuai. Di dalam perjalanan Kubis menabrak nyai Mardeh, dengan mobil tronton yang besar. Darah keluar dari mulut dan hidung nyai Mardeh, hingga membuat iblis tanduk tepuk tangan. Kubis telah memberikan tumbal yang sangat berharga. Nyai Mardeh dilarikan ke rumah sakit, meski keadaannya sedang koma.
"Gawat, pasien di ruangan 311 mengalami kecelakaan yang parah. Dari ruang IGD ke ruang ICU." ucap seorang suster perempuan.
"Iya, dokter sedang menanganinya." jawab orang di sebelahnya.
Preman datang ke rumah nyai Mardeh, dengan mengobrak-abrik isi rumah. Mereka memaksa untuk diberitahu keberadaan mantra air daun Bidara. Baidah dan Pare tetap bungkam mulut, karena itu merupakan mantra yang telah diucapkan oleh nyai Mardeh.
"Cepat beritahu di mana! Kalau kalian tetap diam, aku akan membunuh satu persatu." ancam laki-laki botak.
Baidah dengan raut wajah takut, memberanikan diri menjawab. "Kami benar-benar tidak tahu, di mana Nyai Mardeh menyembunyikan air Bidara."
"Kami tidak percaya, pasti anda berbohong." jawab pria berkalung rantai.
Mereka menggeledah semua tempat, sambil menyodorkan senjata tajam. semua orang ketakutan dan terdiam, tanpa ada yang mengeluarkan satu patah kata pun.
"Bu, mereka sebenarnya siapa?" tanya Pare.
Talas, Kentang, dan Ubi mengajari Sawi dan Seledri. Mereka karyawati baru, harap maklum bila belum terbiasa. Perlu diajarkan beberapa hari terlebih dahulu, baru mereka bisa melakukannya sendiri.
"Kalian sebelumnya kerja di mana?" tanya Ubi.
"Aku kerja di Pertamina, pada bagian pengisian ulang." jawab Seledri.
"Pantas saja, kalau kalian tidak paham akan hal ini." ujar Talas.
"Iya, baru pertama kali juga ke pabrik mie. Biasanya cuma tahu makan doang." jawab Seledri, dengan ramah.
Kubis beristirahat dengan tenang, di sebuah penginapan. Kubis dengan santai mengabaikan panggilan dari Wartel, karena tahu dirinya akan bertanya mengenai kehadirannya di pabrik.
"Mengganggu saja Wartel ini, padahal hatinya tidak pernah untukku. Lebih baik aku tidur saja, mengabaikannya sesekali juga baik."
Baidah dan Wartel melihat keadaan nyai Mardeh di rumah sakit. Kondisinya masih tidak sadarkan diri juga.
"Tante, bagaimana iya kalau nyai Mardeh koma lebih lama." Wartel sudah terlihat bingung.
"Tante juga tidak tahu, padahal kondisi Pare belum pulih." jawab Baidah.
Beberapa hari kemudian, Kubis sudah pulang ke rumah. Aliny heran dengan Kubis, yang sudah tiga hari tidak pulang.
"Kamu kemana saja si Nak?" tanya Aliny.
"Aku pergi ada urusan pekerjaan Bu. Mengapa si selalu banyak tanya, seperti melakukan hal di luar batas." jawab Kubis, dengan sedikit ketus.