
Hanya helaan nafas berat yang keluar dari hidung mancung Rafa. Tampak begitu melelahkan hari ini. Ditambah teror dari Gieta dan Fitri yang seharian ini hampir menyulut emosi dalam dirinya. Belum lagi ia harus mengecek dua ruko cabang secara langsung, memeriksa barang dan beberapa laporan.
Setibanya dirumah malam hari pun menjelang, Rafa melangkahkan kedua kakinya berjalan gontai menuju lantai atas, tempat kamarnya dan Khalid berada. Rumah yang lumayan besar dengan 5 kamar tidur, tampak begitu hening seperti tak berpenghuni. Kemana orang-orang pergi? Kenapa rumah sepi? Batin Rafa.
Dikamar, Rafa mulai menyalakan lampu, meraih handuk yang tergantung disamping pintu kamar mandi dan bergegas membersihkan diri.
Sebelum melangkah keluar, Rafa mematut diri dihadapan cermin yang ada didalam kamar mandi kemudian beranjak keluar.
Rafa menghela nafas perlahan menikmati udara kamar, seketika rasa lelah menguap begitu saja setelah ia mandi.
Tok tok tok
Pintu kamar Rafa berbunyi saat ia memilih pakaian ganti didalam lemari.
"siapa?" tanya Rafa.
"bang, ada tamu tuh dibawah," teriak khalid dari luar pintu.
"iya, sebentar. Abang pake baju dulu. Habis mandi nih"
Dengan cepat Rafa mengenakan pakaian dan mengeringkan rambutnya yang tampak basah. Tak butuh alat bantu untuk merapikan rambut, hanya tangan yang ia gunakan untuk menata rambutnya yang masih setengah basah.
Bergegas Rafa turun menyusuri tiap tangga dengan bersenandung kecil. "wah, bro ada angin apa lo kesini?" ucap Rafa begitu tiba ditanggapi akhir dan menatap temannya yang terlihat sedang duduk di ruang tamu.
"kangen nih sama lo. Ada yang cemburu gak kalo gue maen kesini? Jawab sang pria dengan tersenyum jahil.
"kagak ada yang mau sama gue, kecuali lo." jawab Rafa di iringi tawa lepas terdengar memenuhi ruang tamu.
"Sorry, bro. Gue masih normal," kedua tangan sang pria bergerak mengayun tanda tak setuju.
"gimana kerjaan lo, lancar?"
"ya gitu-gitu aja sih. Lancar, bebas hambatan." pria tersebut membuka tas nya dan mengambil sebuah kertas yang bersampul cantik. "nih, gue kesini mau anter ini doang," terangnya sembari menyerahkan sebuah undangan.
"undangan siapa nih?"
"minggu depan gue nikah dan lo wajib datang. Awas kalo gak datang, gue sabotase ruko, lo" ancaman sang pria.
"gilaaaaaaaa... Lo nikah, ky? Wah wah wah... Tega lo ninggalin gue." pria yang disebut Rafa namanya Lucky, teman Rafa semasa SMA dulu. Bisa dikatakan mereka bersahabat sangat dekat dari dulu hingga kini.
"kalo nungguin lo, bisa-bisa nanti gue karatan, bro. Hahahaha" canda Lucky.
"seru banget kayaknya. Diminum dulu ya, ky. Maaf dirumah bunda cuma ada ini aja," bunda datang ditengah obrolan mereka yang terdengar seru dengan membawakan minuman dan snack di atas baki, meletakkan di meja untuk Lucky.
"gak usah repot-repot bunda, semua isi dapur disuguhin juga boleh"
"jangan laaa.. Masa gue dikatain tempat sampah," bela Lucky.
"kalian nih, ada-ada aja. Eh tadi bunda dengar ada yang mau nikah ya, Siapa?" tanya bunda sambil meraih undangan yang masih di genggam Rafa.
"kamu, ky yang mau nikah? Kapan nikahnya? Terus sama siapa? Eh eh... Calon istrimu punya adik perempuan atau sodara perempuan gitu, buat Rafa nih. Takut karatan dia," bunda Hana mencecar Lucky tiada henti dengan pertanyaan yang masih memancing Rafa untuk segera menikah.
Apa-apaan sih bunda ini, malu-maluin aku aja. Mau ditaro dimana muka aku kalo bunda kayak gini? Batin Rafa.
Lucky yang mendengar pertanyaan berondongan dari bunda tak dapat menahan tawa yang lepas begitu saja.
"bunda nih kalo nanya, ya tentang Lucky aja. Gak usah bawa-bawa aku. Lo juga ngapain nganterin undangan malem-malem gini, kenapa gak ke toko aja. Udah tau emak gue ribet gini"
"waktu luang gue cuma malam bro. Maklum sibuk." Lucky mengalihkan pandangan ke bunda Hana, "masih sama yang dulu kok bunda. Nanti bunda datang bareng Rafa ya. Ditunggu ni," pinta Lucky.
"masya Allah nak, setianya dirimu. Coba dari dulu Rafa punya pasangan, pasti bunda udah punya cucu dua, nih" goda bunda
Ehem ehem ehem... Rafa mulai berdehem mengalihkan arah pembicaraan. "diminum dulu, ky, kasian ntar haus lagi. Udah makan belum? Makan bareng gue yuk. Kebetulan gue belum makan nih" ucap Rafa sambil menemukan sedikit perutnya.
"makasih, gue buru-buru nih. Soalnya masih banyak undangan yang belum dibagiin. Gue pamit dulu ya. Maaf bunda gak bisa lama-lama karna dikejar deadline ni, hehehehe... "
"ya udah. Hati-hati lo, calon manten jangan kecapean" Rafa pun perlahan menepuk pundak Lucky dan berjabat tangan ketika bangkit dari duduknya, mencium tangan bunda dan pamit untuk pulang.
Rafa pun melangkahkan kakinya menuju ruang makan, mengingat ia belum makan malam dan perutnya mulai terasa lapar. Ketika Rafa duduk dan menyentuh piring hendak mengambil nasi, bunda pun datang menyusul ke dapur.
"Lucky nikah, kamu gak mau nyusul?"
"ngapain? Nikahkan bukan ajang balapan," terang Rafa yang sudah mengambil lauk dan sayur. Makan malam kali ini tersedia ayam goreng balado dan capcay, begitu menggoda saat Rafa melihat makanan tersebut.
"maksud bunda, kamu kapan nikah? Jangan kelamaan mikir, nak. Ingat umur dan ingat bunda" tiba-tiba bunda menunduk menahan rasa panas di matanya. Apa Rafa tahu, seberapa besar harapan bunda padanya? Bukan harta yang diharapkan bunda tapi keluarga yang bahagia menjadi pintanya kepada anak-anaknya.
"bunda udah makan?" Rafa berusaha mengalihkan pembicaraan agar bunda tak terus menuntutnya. Ia tahu betul bagaimana bunda, tak perlu melihat lebih dekat, namun Rafa tak suka bunda nya bersedih.
"bunda udah makan. Yang lain juga udah. Jadi kamu makan sendirian ya" ucap bunda sambil meninggalkan ruang makan.
Sejenak Rafa termenung memikirkan semua tuntutan keluarganya selama setahun ini. Haruskah ia menikah? Haruskah ia memiliki keluarga?
Apa mereka tahu, sedalam apa rasa sakit Rafa karena masa lalu yang masih terbayang?
Apa mereka tahu, masa lalu itu membuat Rafa menjadi benci? Benci dengan rasa yang disebut CINTA dan KASIH SAYANG
Ketika tuntutan itu datang, akan membuat rasa itu kembali menghantui dirinya. Kejadian masa lalu yang benar-benar membuat Rafa marah dan benci teramat dalam.