Raffa in Love

Raffa in Love
Pernikahan



Suasana tampak begitu ramai di aula salah satu mesjid terbesar di wilayah tersebut. Orang-orang sibuk berlalu-lalang mengecek beberapa pekerjaan yang menjadi tugas mereka.


Memeriksa bangku yang tertata rapi untuk para tamu. Tenda yang terpasang pun tak luput dari pantauan panitia. Altar tempat melakukan akad, telah di hias dengan elegan sesuai permintaan keluarga mempelai. Jajaran bunga-bunga cantik menghiasi sekelilingnya.


Salah satu sudut ruangan terdapat beberapa orang perempuan dan laki-laki yang rias layaknya para pengiring pengantin. Semua tampak begitu tampan cantik dengan riasan yang natural.


Sementara dalam ruangan khusus yang telah disekat sebagai pembatas antara pengantin laki-laki dan perempuan, tengah mempersiapkan diri untuk menjadi raja dan ratu sehari.


Rafa yang dengan gagahnya berdiri tanpa memperlihatkan rasa gugup, terlihat begitu santai. Seakan ini bukanlah hal yang berat baginya. Tak ada yang ditakutinya seperti yang orang lain alami. Baginya ini adalah pernikahan tanpa cinta. Jadi tak perlu gugup. Semua biasa saja.


Sedangkan Shasa yang berada di sebelahnya pun sama. Tak ada tanda-tanda kegugupan yang ia perlihatkan. Seolah pernikahan ini bukanlah hal yang harus di takutkan ataupun hal yang di khawatirkan. Tak seperti pengantin wanita pada layaknya yang selalu deg-degan menjelang akad, semua itu tak terlihat di wajah Shasa. Baginya pernikahan ini adalah simbol kebebasan yang akan ia raih.


"Duh, wajahnya enak banget di riasnya. Masih alami lagi" ucap perias yang mendandani Shasa.


"kalo masih alami, enak banget molesinnya ya. Gak susah" ujar pendamping periasnya.


"cantik"


Shasa tersenyum sekilas menanggapi pujian periasnya.


Udah cantik dari sananya, ya gak perlu di poles lagi dong. Sayang duit. Batin Shasa.


Perias tersebut mulai melukis diatas wajah Shasa. Mengenakan blush on, maskara, eyeliner, bulu mata, namun Shasa meminta untuk tidak mencukur alisnya. Ia ingin semua yang ada diwajahnya tetap seperti dia sebelum menikah.


Disaat polesan terakhir pada bibir, Shasa tampak takjub melihat penampilan dirinya di dalam cermin. Seakan semua yang di tempel pada wajahnya bukanlah wajah aslinya.


Namun, ia tidak memungkiri bahwa dirinya memang benar-benar cantik dan ini perdana bagi dirinya merias wajah secantik mungkin.


"sudah selesai mbak. Sekarang kita pakai bajunya, ya. Biar gak telat saat keluar. Soalnya setengah jam lagi acara akad akan segera dimulai" ujar perias yang selesai memoleskan lipstik di bibir Shasa.


Shasa pun beranjak untuk memakai baju yang sudah ia coba beberapa minggu lalu. Dua orang perias pun sibuk memakaikan pakaian yang dikenakan Shasa dan merapikannya. Kemudian mereka memasangkan hijab sebagai riasan terakhir sebelum keluar dari ruangan menuju altar tempat akad berlangsung.


*****


Rafa telah siap dengan pakaian akadnya. Kini ia berdiri mematut diri di depan cermin. Disampingnya tampak sang bunda yang tengah mengagumi dirinya. Sekilas penampilan Rafa mirip seperti ayahnya saat nikah dulu.


"bunda kenapa?" tanya Rafa yang tertegun melihat bunda dengan mata yang berkaca.


"kamu mirip sama ayahmu. Dulu ayahmu persis kayak kamu saat nikah sekarang"


"ya miriplah bunda. Kan, aku anak ayah" Rafa berusaha menghibur bunda yang tampak terharu.


"andai ayahmu bisa menyaksikan pernikahanmu, nak. Mungkin dia akan bangga padamu. Kamu sudah berhasil. Dan selalu menjaga bunda serta adik-adikmu" sekilas bulir bening mengalir di ujung mata sang bunda.


"bunda jangan sedih. Ayah lihat kita semua. Dia ada disini. Dihati kita" ujar Rafa seraya mengangkat jarinya menunjuk hatinya.


Bunda tersenyum sedih.


"bunda jangan nangis dong" Gieta datang menghampiri. "kalau bunda nangis, nanti ayah kecewa sama kita semua"


"kan ayah selalu ada dimanapun kita berada" Fitri menimpali sambil menghampiri bunda dan memeluknya.


Merekapun saling berpelukan satu sama lain. Saling menguatkan, mengaliri semangat dan kebahagiaan. Tak ada yang lebih bahagia selain saling menguatkan satu sama lain.


Bertahun-tahun mereka berlima melewati hidup tanpa kepala keluarga yang selalu mengayomi. Kepala keluarga yang selalu terdepan mengatasi segala masalah. Namun, kini telah tenang dengan keberhasilan yang diraih oleh anak-anaknya.


Bunda masih tak henti meneteskan air mata. Kenangannya semasa ayah Rafa masih hidup kembali terngiang dalam hati dan pikirannya.


"sekarang bunda harus bahagia, karena sebentar lagi bang Rafa nikah. Dan keluarga kita bertambah satu orang lagi" terang Fitri.


Gieta melirik Fitri, melihat raut wajahnya yang tampak serius berbicara. Gieta tak menyangka adiknya akan sedewasa itu dalam menenangkan bunda.


"ini, hapus dulu air mata bunda. Nanti make up nya luntur," Fitri menyodorkan tisu ke arah bunda yang telah menghentikan tangisannya.


Bunda tersenyum, merasa terharu menyaksikan anak-anaknya yang beranjak dewasa. Uda andai kamu ada disini, mungkin saat ini akan terlihat begitu indah. Lihatlah anak-anak kita sudah besar dan saling menguatkan. Bisik bunda dalam hati.


"pengantin pria dan keluarga siap-siap ya. Kita mau mulai acara akadnya." panitia yang mengurusi acara datang menghampiri memberitahu untuk segera keluar dari ruangan menuju tempat akad.


Rafa pun merapikan penampilannya begitu bunda selesai menghapus air matanya.


"sekarang kita keluar. Hari bahagia abangmu akan segera dimulai" senyum kembali terbit diwajah bunda.


"gak nyangka akhirnya abangku melepas masa lajangnya" ujar Fitri yang mengandeng tangan Rafa.


"yang akur, ya bang sama kakak ipar" Gieta menyunggingkan senyuman jahil pada Rafa.


"setelah ini, kamu yang akan abang teror" ancam Rafa pada Gieta.


"dengan senang hati, abangku sayang."


Gieta dan Fitri saling tertawa.


Merekapun pergi keluar beriringan mengantarkan Rafa ke altar akad nikah. Disana telah duduk papa Shasa, penghulu dan dua saksi dari masing-masing keluarga.


Diatas meja tertata cantik mas kawin seperangkat perhiasan yang di bingkai cantik dengan taburan bunga. Disebelahnya, ada pajangan uang koin seribuan yang membentuk gambar sebuah mesjid.


Semua mas kawin tersebut dipersiapkan oleh bunda dan adik-adiknya. Terima kasih untuk mereka karena Rafa tak perlu repot melakukan itu semua.


Selama keluarganya bahagia, maka ia pun akan bahagia. Walau keinginan keluarganya tersebut tak sesuai dengan keinginannya.


Rafa pun berjalan perlahan menuju meja akad. Penampilannya banyak dikagumi oleh para tamu undangan dan beberapa keluarga. Aura pengantin yang berseri begitu jelas terlihat diwajah Rafa.


Begitu tiba di altar, rafa duduk berhadapan dengan papa Shasa yang bertindak sebagai wali nikah. Wajah tuanya menunjukkan ia siap untuk melepaskan anak gadis satu-satunya kepada Rafa.


"sudah siap Rafa?" tanya papa Shasa.


"insya Allah"


"papa percaya sama kamu. Semoga Shasa bahagia"


Rafa mengangguk perlahan menerima tanggungjawab yang akan dijalaninya ke depan.