
"Saya terima nikah dan kawinnya Shasa Khairunnisa binti Muhammad Adam dengan mas kawin tersebut, tunai!" lantang suara Rafa mengucapkan ijab qobul dengan satu tarikan nafas.
"Sah?"
"Sah"
"Sah"
Ucap kedua saksi kepada penghulu yang duduk disamping om Adam.
"Alhamdulillah," syukur Rafa sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Barokallah"
Kelegaan tampak dihati om Adam saat usai menjabat tangan. Kini segala tanggungjawab putri semata wayangnya telah ia berikan kepada pria yang duduk dihadapannya.
Tanggungjawab sebagai orangtua telah terputus ketika ia mengikat janji pada Rafa.
Memenuhi segala kebutuhan Shasa, baik nafkah lahir dan batin. Membimbingnya dan menjaganya dengan selurih jiwa raga.
Tampak bulir bening terjatuh di ujung sorot mata. Menandakan keharuannya melepas putri tercinta.
Tak lama Shasa pun berjalan keluar menuju meja dengan di iringi mama dan mertuanya. Langkahnya begitu tenang dan lengkungan tipis dibibirnya tersirat demi kelancaran acara yang di impikan sang mama.
Rafa tak menoleh saat Shasa tiba dan duduk disamping. Menandatangani beberapa surat dan buku nikah.
Rafa tertegun saat dirinya dan Shasa berdiri saling berhadapan menyerahkan mas kawin dan mencium tangannya. Ada rasa bergejolak di perutnya. Begitu mengelitik. Dia terlihat...
"foto dulu ya sambil pegang buku nikah" ujar seorang juru foto.
Rafa berbalik dan Shasa mendekat, menempelkan lengannya disebelah Rafa sembari memegang buku nikah. Rafa menautkan alisnya, merasa bingung dengan Shasa.
Sementara Shasa begitu biasa dan tak peduli dengan apapun. Hari ini ia merasa bahagia bahkan senyuman itu sebagai tanda kebahagiaannya.
Selesai sesi pemotretan, kedua pengantin di minta duduk di pelaminan untuk menyambut beberapa tamu yang hadir. Shasa tak merasa canggung saat tangannya mengait lengan Rafa yang berada disampingnya.
Rafa menyerngit heran. Ada apa dengannya? Apa yang ia rencanakan dalam pernikahan ini? Kenapa ia tampak begitu bahagia? Apa aku salah menganggap santai semua ini? Batin Rafa.
"jangan lihat aku seperti itu. Aku memang cantik dari lahir" sombong Shasa yang sadar Rafa memerhatikannya.
Rafa mendengus, "Pe-De" cibirnya.
"jelas aku Pe-De, karena aku bangga sama diriku sendiri"
Rafa menggelengkan kepala, merasa geli dengan ucapan Shasa barusan. Dan kini wajahnya pun kembali murung, merasa belum menerima bahwa dirinya kini menjadi istri orang.
"kenapa kamu diam?" tanya Shasa.
"..."
"kamu capek? Laki kok capek sih?"
"..."
"laki tu harus kuat, masa berdiri seharian jadi raja sehari bikin kamu muram?"
"..."
Merasa tak di tanggapi oleh Rafa, Shasa pun beranjak turun hendak makan karena perutnya terasa begitu lapar.
Bayangkan, ia harus bangun pagi buta, mandi, dan bersiap dirias dan di corat-coret sana-sini hanya demi penampilan sehari. Sungguh ini menyiksa perut Shasa yang selalu terisi di pagi hari.
"kak Shasa mau kemana?" tanya Gieta yang menghampirinya saat ini baru turun dari pelaminan.
"mau makam. Laper" seringai malunya.
"biar aku yang ambilin ya, kak. Kakak duduk aja disitu. Biar tamu bisa ketemu sama pengantin wanitanya" senyum Gieta.
"oh, iya. Makasih ya"
"udah sewajarnya, kak"
Gieta pergi menyiapkan makanan dan minuman untuk Shasa. Sementara Shasa kembali balik ke atas pelaminan. Rafa tak menoleh, pandangannya ke depan, menyaksikan beberapa tamu yang bercengkrama sembari menyantap hidangan makanan yang tersaji.
"gerah, ya?" semoga dia mau mengipasiku.
"ada kipas gak?" tanya Shasa pada Rafa tanpa menoleh ke arahnya.
"gak ada" singkat Rafa.
"kipasin kek, pake tanganmu" pinta Shasa.
"tanganmu kenapa? Buntung?" sarkas Rafa.
"ish..." Shasa mencebik kesal.
Ni cowok harus dikasih pelajaran nanti. Lihatin aja, aku gak akan diam. Hari ini aku biarin kamu puas-puasin nyiksa aku, nanti giliran aku yang nyiksa kamu tanpa ampun.
"ini kak makanannya. Makan sepiring berdua aja ya. Biar romantis," ujar Gieta yang datang menghampiri.
"sendoknya mana, Gie?"
"itu, kan sendoknya bang. Makan suap-suapin gitu"
"aku gak mau bekas air liur dia masuk ke mulutku" tegas Rafa.
Shasa pun reflek menoleh dengan mata membulat.
"hey, kamu pikir, aku mau makan bekas air liurmu? Jijik banget tau" balas Shasa tak kalah kesalnya.
"sssttt... Kalian lagi jadi raja dan ratu sehari. Jadi jangan ribut ya" bisik Gieta sembari mengerlingkan mata.
"ambilkan abang sendok lain, cepetan!!!" perintah Rafa pada Gieta.
"ya deh. Aku ambilin. Dasar alien perfeksionis," ejek Gieta.
Apa? Adiknya menyebut apa? Alien perfeksionis?
"gak nyangka kamu punya panggilan khusus dirumah. Alien perfeksionis" Shasa menahan tawanya begitu mengejek Rafa yang mulai kesal.
Namun bukan Rafa namanya jika tak bisa mengendalikan dirinya.
"kamu aja yang makan. Aku masih kenyang."
Rafa pun berlalu meninggalkan tempat menuju toilet yang berada di belakang gedung.
*****
Hari menunjukkan pukul 22.00 WIB, suasana di gedung pun sudah tampak sepi. Tinggal beberapa keluarga yang masih bercengkrama satu dan yang lainnya. Melepas rindu yang lama tertahan dan terobati dengan adanya acara keluarga seperti saat ini.
Disalah satu kamar hotel, dua sejoli yang masih begitu terkejut dengan acara sehari tadi sedang duduk berhadapan. Tampak seperti melakukan perundingan sebelum memulai perang.
"aku tidur di kasur. Kamu di sofa" perintah Shasa dengan tegas. Sepertinya, ia tak ingin memberikan kelonggaran pada Rafa.
Rafa mendengus geli, "kamu aja yang tidur di sofa. Aku yang tidur di kasur."
"hey, aku gak mau tidur sekasur denganmu!"
"hey, hey, hey, aku punya nama. Dan itu usah tercantum di Akta kelahiran" kesal Rafa.
"bomat. Aku mau tidur di kasur!" teriak Shasa sambil berlari dan melompat keatas kasur yang sudah di hiasi taburan bunga mawar merah.
Rafa mendecak kesal karena ia benci tidur di sofa. Sepertinya malam ini ia harus mengalah, toh besok dan seterusnya ia tak akan menginap disini. Tapi dirumahnya.
"terserah kamu. Cuma hari ini aku ngalah sama kamu. Besok gak akan" ancam Rafa.
Shasa tak mengubris dan menutup tubuhnya dengan selimut. Sejak kejadian di acara tadi, Shasa sudah mulai menyatakan perangnya pada Rafa. Mulai esok dan seterusnya, ia akan terus membuat Rafa kesal dan menjauh darinya.
Tak lama Shasa pun lelap di peraduannya. Sedangkan Rafa masih belum bisa memejamkan matanya. Mencoba berbalik ke kanan ataupun ke kiri, ia masih tak bisa tidur.
Sekilas pandangannya tertuju pada Shasa yang terlihat teratur nafasnya, mungkin dia sudah tidur dengan nyenyak.
Gampang banget tu bocah tidurnya? Heran Rafa.
Ia pun beranjak dari sofa. Mencoba mencari selimut lain di salah satu lemari. Dibawanya selimut tersebut dan di bentangkan di samping sofa yang ia jadikan sebagai untuk tidur dibawah lantai.
Rafa tak terbiasa tidur di sofa, badannya akan terasa sakit jika tidur di tempat itu. Dan ia lebih memilih untuk tidur di lantai walau terasa dingin karena AC.
"semoga besok, bangun pagi tak ada perangai buruk lagi yang menimpa diriku"
Semoga...
Itu harapan Rafa. Dan tanpa disadari esok akan ada banyak hal yang ia terima dari Shasa.