Raffa in Love

Raffa in Love
Hari Pertama



Shasa mengerang saat dirinya terbangun dan menyadari bahwa ia sedang tak dirumah. Pandangannya mengitari setiap sudut ruangan dan sesekali mengingat apa yang telah terjadi.


Tangannya reflek menyentuh pakaian yang masih dikenakannya dan masih mencari biang masalah yang selalu membuat moodnya berubah.


Terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Sepertinya dia sedang mandi.


Shasa menguap dan memutarkan badannya ke kiri dan kanan. Dan ia terkejut melihat sisi tempat tidurnya yang terlihat bantal dan selimut yang telah terlipat dengan rapi. Apa semalam dia tidur di ranjang ini?


Rafa keluar dari kamar mandi mengenakan baju koko dan sarung. Handuk yang ia pakai saat mandi tersampir di pundaknya. Berjalan menuju lemari tanpa menghiraukan Shasa yang tengah melongo melihatnya.


Begitu tiba di hadapan lemari, Rafa mengambil tasnya yang terisi beberapa pakaian dan perlengkapan sholat. Mengambil sajadah dan membentangkannya disalah satu ruangan untuk melaksanakan kewajiban lima waktu.


Shasa menyerngit memperhatikan Rafa. Apa yang dia lakukan? Apa semalam dia tidur di sampingnya? Kenapa dia tak membangunkan Shasa?


"kamu sholat?" tanya Shasa saat Rafa selesai menunaikan kewajibannya.


"iya. Kamu gak sholat?"


Shasa tertunduk malu, "aku gak bawa mukena" Shasa menggigit bibirnya.


Bagaimana ini? Kenapa ia harus berbohong? Selama ini, ia sudah jauh meninggalkan kewajiban tersebut. Hidupnya terlalu bebas hingga ia lupa dan melalaikan waktu sholat. Berkali-kali mama dan papanya mengingatkannya namun tetap di abaikan. Dan mungkin merekapun merasa lelah mengingatkan Shasa.


"kamu bawa kerudung yang panjang? Atau sarung, gitu?" tanya Rafa lagi.


Shasa hanya menggeleng. Rafa berinisiatif mengambil sebuah sarung dari dalam tasnya dan melepaskan sarung yang dikenakannya kemudian diberikan kepada Shasa.


Shasa bingung saat menggenggam sarung tersebut, "ini apa?"


"sarung. Masa kamu gak tahu?"


"aku tahu ini sarung. Maksud aku, kenapa kamu kasi sarung ini ke aku?"


"kamu ke kamar mandi dulu, deh. Mandi dan wudhu. Nanti sholat pakai 2 sarung ini sebagai mukena" terang Rafa.


Shasa reflek menutup dadanya dengan menyilangkan tangan.


"kamu ngapain semalam?"


"ya tidurlah"


"dimana?"


"tuh, dibawah sofa"


"syukur, deh"


"dan jangan berpikiran yang macam-macam lagi tentang aku"


Apa? Dia tahu maksud Shasa?


Shasa pun beranjak meninggalkan ranjang yang masih tercium aroma mawar merah. Langkah kakinya terhenti begitu tiba di depan pintu kamar mandi.


"makasih kamu gak macam-macam sama aku" Shasa melangkah masuk. Menghindari tatapan Rafa padanya.


Sementara Rafa hanya mengangguk tanpa melihat Shasa. Ia pun berkemas merapikan dirinya dan bersiap untuk turun ke bawah. Mencari sarapan di restoran hotel.


Setelah memilih beberapa makanan yang ada di restoran, Rafa meminta pelayan untuk mengantarkan makanan tersebut ke kamarnya. Sementara Rafa lebih memilih berkeliling hotel, menghirup aroma cuaca di kala fajar menjelang.


Baginya suasana udara di saat fajar sangatlah segar, belum terkontaminasi oleh berbagai macam polusi udara.


Puas berkeliling, Rafa pun masuk ke hotel. Langkahnya terhenti saat di lobby terdengar suara yang sangat begitu ia kenal.


"eh, ky. Ngapain? Udah bangun aja lo jam segini" sapa Rafa sambil menghujamkan kepalan kecil kearah lengan Lucky.


"penganten baru jadi songong, ya. Main pukul-pukul. Sakit tau!" Lucky mengusap lengannya perlahan.


"lebay, lo."


"jangan mentang-mentang lo nikah sama sepupu gue jadi seenaknya mukul gue" Lucky menoyor kepala Rafa dengan tangannya.


"asem, lo"


"jeruk kali, ah. Asem" balas Lucky. "wah wah wah... Jam segini udah keramas berapa kali?" ledeknya.


"mulut tuh dijaga, bro. Udah di cuci belum tuh mulut. Kotor banget kelihatannya"


"ah, lu, ngeles aja. Lu apain Shasa, kok sampe mau nikah sama lo? Pake pelet ya?" bisik Lucky.


"menurut lo?" Rafa menaikkan sebelah alisnya.


"becanda bro. Lo kayak baru kenal gue aja. Kita kan flen bro, fleeeeen" canda Lucky.


Rafa menarik nafas dalam. Ia tahu siapa Lucky, satu-satunya teman yang dekat dengannya dari dulu hingga kini.


"sepupu lo itu, bener-bener cewek tak terduga" ucap Rafa.


"sabar. Lo tahu sendiri kan, gimana om Adam sama tante Hilwa. Mereka baik kok" ujar Lucky seraya menepuk pundak Rafa.


"dan lo cukup tahu gimana gue."


Lucky menarik nafas dalam, cukup lama ia mengenal Rafa dan cukup banyak juga yang ia ketahui tentang Rafa. Bahkan, masa lalu yang menyakitkan bagi Rafa pun sudah ia ketahui.


Selama ini, Lucky yang selalu menenangkan Rafa. Mengobati rasa sakitnya tentang masa lalu.


"pelan-pelan. Lo bakalan percaya sama yang namanya cinta. Tapi lo harus hadapi dengan pelan" ujar Lucky.


"ini salah, Ky. Pernikahan ini di awali dengan kesalahan. Aku gak mau nanti dia yang jadi korban" sanggah Rafa.


"lo tu baru semalam jadi suami. Belum setahun. Lo coba aja dulu. Siapa tahu lo jatuh cinta sama dia"


"udah bertahun-tahun gue gak percaya cinta, apalagi sayang," Rafa menertawakan dirinya sendiri. "mudah-mudahan aja sepupu lo itu gak trauma sama gue"


"cinta semenyakitkan itu, bro. Lu harus tahu itu"


Rafa tersenyum sinis, "gue ke atas dulu. Sepupu lo belum makan."


"istri, woy. Istriiii... Susah amat lo ngakuinnya" teriak Lucky saat Rafa berlalu meninggalkannya menuju lift.


Apapun itu anggapan orang tentang pernikahannya, Rafa tetap pada pendiriannya. Pernikahan ini hanya status tanpa ada embel-embel perasaan di dalamnya.


Tujuannya cuma satu, yaitu terlepas dari tekanan keluarganya. Tak ada alasan baginya untuk menolak permintaan keluarganya. Keluarga tetap menjadi prioritas utama.


Begitu keluar dari lift, Rafa melangkah menuju kamar namun tertahan. Sejenak ia berpikir, apakah perlu mengetuk pintu dulu sebelum masuk? Atau aku langsung masuk saja? Gumamnya.


Baiknya mengetuk pintu saja terlebih dulu. Siapa tahu nanti dia akan melemparkan serangan tak terduga saat membuka pintu.


Tok tok tok


Tok tok tok


"sebentar" sahut penghuni kamar yang tengah berada di dalam.


Beruntung Rafa memilih mengetuk terlebih dahulu. Pasti ia sedang melakukan sesuatu di dalam sana ketika Rafa tak ada. Setidaknya ia terselamatkan dari keributan yang selalu di dramatisir.


Rafa tertunduk dengan menyenderkan badan disamping pintu., menunggu dibukakan pintu untuk masuk.


Tak lama suara pintu terbuka, "maaf..." Shasa melongo melihat Rafa yang sudah menunggu lama.


"kamu kenapa gak langsung masuk aja?" ujar Shasa yang merasa heran padanya, kenapa harus mengetuk pintu terlebih dulu.


Rafa tak mengubris pertanyaan Shasa, ia melengos masuk ke dalam dan duduk di sofa depan tv serta menyalakan layar datar yang selalu menjadi tontonannya dikala penat.


Matanya tertuju pada makanan yang ada di atas meja, makanan yang ia pesan di restoran tadi. Mungkin tadi Shasa tengah sarapan sebelum membukakan pintu.


"maaf, tadi aku makan duluan. Nungguin kamu lama. Yang ada cacing di perutku ngamuk semua" terang Shasa yang mengikuti Rafa dari belakang.


Sama seperti tadi Rafa tak mengubris apa pun yang Shasa ucapkan. Dia berhasil membuat mood Shasa lebih buruk lagi karena sikap cueknya.


"kamu gak makan?" Shasa mencoba melunak demi bisa menghilangkan rasa tak pedulinya.


Rafa pun hanya mengangguk.


Dia kenapa sih? Perasaan subuh tadi baik-baik aja deh. Sekarang udah berubah lagi. Jangan bilang kalau dia tadi ketemu mantannya? Gampang banget perasaannya berubah-ubah. Awas, aja kalau sampai dia emosi sama aku, bisa panjang urusannya. Bisik Shasa dalam hatinya.


"selesaikan makanmu. Habis ini kita pulang"


"apa? Pulang?" Shasa terkejut mendengar ucapan Rafa. Bukankah dia harus bermalam semalam lagi disini? Kenapa harus pulang sekarang?


"iya. Kita cuma semalam disini" jawab Rafa.


"pulang kemana?" tanya Shasa lagi.


"ke rumahku" singkat Rafa.


"aku siap-siap dulu" langkah Gieta terhenti saat Rafa memanggil dirinya yang sudah beranjak dari sofa, "habisin dulu makanannya baru kemas-kemas barang" titah Rafa.


"aku udah kenyang"


"aku gak suka uang yang aku keluarin jadi mubazir"


"please, deh. Aku bener-bener udah kenyang. Dan gak bisa dilanjut lagi"


"kalau gitu kita perginya nanti setelah kamu lapar lagi dan menghabiskan makanan ini"


Apa lagi ini? Dia coba mengancamku? Shasa mencoba mencatat dikepalanya jika Rafa memiliki sifat pemaksa dan keras kepala.


Baiklah, kali ini ia mengalah karena semalam Rafa sudah sukarela tidur di sofa, ralat, di lantai demi dirinya.


Setidaknya Shasa tak perlu membalas hal tersebut. Toh, bukan kewajiban untuk membalasnya.