
Seakan tenaga yang telah dikeluarkan tiada habisnya, berkali-kali dia meluapkan amarah yang telah tersulut. Umpatan dan kutukan keluar dengan begitu saja dari mulutnya.
"Ilham ********, lelaki brengsek."
Semua isi yang ada di dalam kamarnya menjadi korban pelampiasan pemiliknya.
Dengan nafas yang terus berpacu bersamaan dengan amarahnya berhasil membuat dirinya terjatuh meratapi penyesalannya.
"Ca, buka pintunya. Aku bisa jelasin semuanya." Suara dari luar kamarnya mengagetkannya, memancing amarahnya untuk lebih besar lagi.
"Gue gak butuh, lo!" teriaknya dari dalam.
"Ca, maafin aku. Aku gak ada maksud nyakitin kamu, aku sayang sama kamu, Cha."
Hening.
Tak ada suara yang terdengar dari dalam. Pria tersebut menghela nafasnya dengan berat. Kedua tangannya menyugar rambut yang terlihat begitu berantakan. Bingung menjelaskan bagaimana kepada perempuan yang telah lama mengisi hari-harinya selama beberapa tahun.
Dengan sekali tarikan nafas, pria itu mencoba untuk berbicara kembali, "Aku masuk ya, Cha..."
Sebelum pria itu menyentuh gagang pintu, tanpa disadari pintu tersebut telah terbuka dari dalam, dengan kasarnya. Shasa berdiri dihadapan pria tersebut sembari melemparkan beberapa barang di depan wajahnya.
"Pergi dari sini dan bawa semua sampah murahan yang lo kasih buat gue!" ucapan Shasa yang begitu dingin berhasil menyentil hati pria tersebut.
Pria itu mengernyit, "Maksud kamu ... Kita putus?"
"Apa perlu diperjelas lagi?"
"Cha, ini salah. Ini gak ... "
Shasa memotong kalimat pria tersebut dengan mengangkat tangannya sebagai tanda tak ingin mendengarkan pria tersebut.
"Cukup! Udah cukup! Aku capek!"
Shasa berbalik arah namun tangannya berhasil dicekal, "Kamu gak percaya sama aku? Apa ini cara kamu sayang sama aku? Atau kamu juga sama? Sama-sama selingkuh dibelakangku dengan cowok lain?"
Shasa mengepalkan kedua tangannya menahan amarah agar tak melampiaskan segala emosi dengan menghajar pria ******** ini.
Shasa geram, "Ilham Fahrezi!!!" mulai tersulut, "Kamu pikir aku cewek gatal, cewek murahan yang suka main belakang?" nafasnya memburu, "JAWAB!!!" teriak Shasa dihadapan muka pria tersebut.
Ilham menunduk dan melepaskan cengkramannya dari tangan Shasa.
Shasa menyeringai dengan tatapan tajam, "Aku gak nyangka, kamu selingkuh dibelakangku dengan ... Ish ... Dengan sahabatku sendiri ... Dan bahkan kalian ... Argh ..." shasa tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Kembali ia mengarahkan pukulan keras ke arah pintu.
Ia butuh tempat untuk melampiaskan amarahnya, butuh sasaran empuk untuk memukul sesuka hatinya.
Ya, Shasa dikecewakan oleh dua orang yang paling ia sayangi. Ilham dan Elma. Shasa telah menjalin kasih bersama Ilham selama 3 tahun dan bahkan dalam waktu 1 bulan mereka akan segera bertunangan. Sedangkan Elma adalah sahabat Shasa sejak SMP hingga kuliah, mereka selalu bersama tanpa bisa dipisahkan satu sama lain.
Betapa besar rasa sayang Shasa terhadap Elma, hingga setiap kali Elma dalam keadaan susah, tanpa berpikir panjang Shasa akan dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk Elma. Karena, Shasa hanya ingin membantu Elma meraih cita-citanya tanpa hambatan yang menerjang.
Shasa sangat memahami bagaimana kehidupan Elma dan keluarganya yang hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan sangat pas-pasan. Dan itu berhasil mengetuk hati Shasa yang serba bergelimang harta.
Setelah sekian lama menjalin persahabatan, Shasa dan Elma pun menganggap hubungan ini sebagai persaudaraan yang terikat oleh rasa nyaman dan hati yang saling menyayangi. Menghabiskan sepanjang hari bersama dan bahkan bergantian untuk menginap dirumah masing-masing.
Semua yang Shasa miliki selalu ia berikan untuk Elma karena Shasa sudah di anggap sebagai bagian dari keluarganya. Ya, Shasa tak memiliki kakak ataupun adik. Ia hanyalah seorang anak tunggal. Sementara kerabatnya berada jauh diluar kota.
Namun, kini seakan semua sia-sia. Persahabatan yang telah ia pupuk semenjak remaja dulu kini harus hancur karena pengkhianatan temannya yang telah berselingkuh dengan kekasih Shasa.
Ilham meraih tubuh Shasa dan memeluknya dengan erat, "Jangan lampiasin marahmu dengan menyiksa dirimu, Cha. Lampiasin ke aku, aku yang salah!" Ilham mencoba menenangkan Shasa. Merengkuhnya dengan erat walau terasa jelas berontak yang dilakukan oleh Shasa.
Acha, ya, Acha adalah panggilan kesayangan untuk Shasa dari Ilham. Hanya dialah yang boleh menyebut nama itu sebagai tanda sayangnya. Namun, kini seakan rasa sayang yang Shasa berikan kepadanya hilang dalam sekejab.
Shasa melemah, "Please pergi dari hadapan gue!" pintanya setelah merasa sedikit tenang.
"Kamu gak kasi aku kesempatan untuk ngomong?"
"Aku capek dan mau istirahat."
"Cha ... "
Shasa mendorong tubuh Ilham dengan kerasnya dan berlari masuk ke dalam serta mengunci pintunya. Tubuhnya luruh dibalik pintu sambil tergugu menahan tangis. Seolah-olah dunia runtuh dalam sekejab dihadapannya.
Ilham yang merasa kesal, menendang dinding disamping pintu sembari mengumpat, "Sialan!" dan mengacak rambutnya dengan frustasi.
*****
Elma duduk terdiam dipinggir ranjang sembari meremas jemarinya. Sekelebat rasa malu dan bersalah menguasai salah satu sudut dihatinya. Ia mengaku salah, ya, dia salah akan perbuatannya yang sudah terang-terangan mengkhianati Shasa. Bagaimana dengan bodohnya ia menyimpan semua kebusukan itu berdua dengan Ilham, kekasih Shasa.
Entah apa yang akan terjadi setelah ini, setelah semua terbongkar tanpa sengaja di depan Shasa.
Betapa terkejutnya Elma saat Shasa yang dengan santainya masuk ke dalam kamar apartemen milik Ilham disaat ia tengah berdua bersama Ilham. Mungkin ini menjadi akhir dari persahabatan rasa persaudaraan yang dijalin bertahun-tahun.
Elma sadar bahwa amarah Shasa tak akan bisa mereda, jikapun itu bisa, ia tak akan mendapatkan maaf dari Shasa yang telah menggandakan rasa sakit dihatinya.
"Kamu kenapa, hm?" Ilham yang baru pulang seusai mengejar Shasa, langsung duduk disamping Elma sembari mengusap kepalanya.
"Bagaimana Shasa?" tanya Elma.
"Dia marah tapi aku lega karena kita gak perlu bersembunyi lagi."
"Maksud kamu?"
"Aku cuma cinta dan sayang sama kamu, Elma. Bukan dia."
"Terus sikap kamu ke dia selama ini apa?" tuntut Elma.
"Gak ada apa-apa. Aku juga nemenin dia aja. Ah, tepatnya aku cuma siap jadi robot yang dia butuhkan."
"Brengsek kamu!"
"ssttt ... Jangan pernah bilang aku brengsek. Kamu cukup nerima aku maka aku akan lebih bahagia."
"Kita salah, Ham. Kita salah karena udah nyakitin orang yang kita sayangi."
"Apa katamu? Sayang?" Ilham mencibir geli. "Sayang katamu tadi? Selama ini dia cuma anggap aku pembantunya. Antar jemput, temenin makan, dengerin curhatannya. Cuma itu! Ingat! Gak lebih."
Ilham mengusap wajahnya dengan kasar, "Bahkan dia gak pernah ngasi kesempatan buat aku ungkapin kondisi aku. Kamu tahu kan betapa egoisnya dia?"
"Dengan semua aturan yang dibuat. Gak boleh ini, gak boleh itu. Harus gini, harus gitu. Aku capek, El. Aku capek jadi cowok yang gak bisa dihargai"
Ilham meraih tangan Elma dan mengenggamnya dengan erat, "Cuma kamu yang bisa ngasi aku semua itu, Elma. Cuma kamu"
Perlahan Ilham menangkup wajah sendu Elma dan menghapus air matanya dengan ibu jari.
"Please ... Jangan pernah kita bubar. Cukup kamu yang ada disamping aku"
Elma menangis didalam pelukan Ilham. Melepas sedih, yang mungkin hanya dia yang merasakan posisi yang sudah sangat salah. Melukai sahabatnya yang telah di anggap keluarga