
Suasana mulai terasa horor saat Shasa berlalu melewati restoran tempat Ilham bekerja. Ia memalingkan wajahnya sambil menutup wajahnya dengan tas berharap tak bertatap muka dengan lelaki tersebut. Langkah kakinya di ayun dengan begitu cepat. Hingga ia menabrak seseorang di depannya.
"Maaf maaf maaf, sa-saya gak sengaja. Mohon maafkan saya," Shasa terus menundukkan kepalanya sebagai tanda permohonan maaf kepada orang yang ia tabrak.
Masih memejamkan mata seraya menunduk dan mengatupkan kedua tangan, "Maafkan saya, maafkan saya, saya yang gak lihat jalan" ujarnya dengan rasa bersalah yang dalam.
"Kamu kenapa?" tanya pria tersebut.
Shasa mematung dan membuka matanya perlahan sambil mengangkat kepalanya melihat orang yang di tabraknya tadi. Shasa bernafas lega melihat orang tersebut.
"Kamu kenapa, hm?" tanya Rafa sambil berkacak pinggang.
"A-aku tadi itu ... A-anu itu ..." Shasa mulai gelagapan mencari alasan akan ketakutannya tadi. "Ah ... Aku tadi ngerasa risih di perhatiin orang. Jadi, ta-tadi aku nutupin mukaku. Ah, iya nutupin mukaku, itu maksudku" jelas rasa gugup itu terlihat oleh Rafa.
"Ya, udah ayo jalan. Cepat cari bukunya. Biar kita gak kemalaman pulangnya"
"iya"
Rafa pun berjalan beriringan dengan Shasa. Setidaknya dengan cara seperti ini Shasa merasa aman untuk melangkah.
****
Shasa menyusuri rak demi rak, mencari beberapa novel yang bisa membuat suasana hatinya lebih tenang. Dia sangat suka novel misteri namun novel romance bisa juga menjadi favorite nya. Hanya saja sejak dirinya membenci cinta, Shasa tak lagi tertarik pada hal yang berbau romance.
Segala hal yang berhubungan dengan romantis tak dapat mengubah hati Shasa yang terlalu sakit akan masa lalunya. Walau hanya cerita fiksi tapi baginya itu tidak berpengaruh besar dengan perasaannya.
Jadi, cinta itu dalam kamus Shasa adalah penyakit. Ya, penyakit buat seseorang yang ingin sakit. Gak akan pernah sembuh jika sudah merasakan penyakit.
"Kamu sudah dapat bukunya?" Rafa datang membuyarkan pikiran Shasa yang tengah melamun.
"Belum. Aku masih lihat-lihat dulu" Jawabnya.
"Buku apa yang kamu cari? Biar aku bantu."
"Apa aja, sih. Asal ceritanya bagus"
Rafa mengangguk seraya membantu Shasa mencari buku yang menarik baginya.
"Kamu suka baca ini?" tanya Rafa sambil menunjukkan sebuah buku pada Shasa.
Shasa menatap sinis, "Aku bukan anak kecil!" jawabnya dengan ketus.
"Aku gak bilang kamu anak kecil tapi buku ini bisa ngehibur diri dikala suntuk" terang Rafa.
"Cuma anak kecil yang suka baca komik" Shasa merasa jika Rafa tengah meledeknya.
"Orang dewasa juga ada yang suka baca komik" sela Rafa.
"Kamu, kan?" sanggah Shasa dengan ketus.
"Gak juga. Beberapa karyawan aku ada yang suka baca komik di waktu santai" ungkap Rafa. "Bagi mereka baca komik itu hiburan tersendiri. Dan mereka merasa lebih enak membaca karena ada ilustrasi gambarnya" sambungnya lagi.
Rafa pun meletakkan kembali komik yang ia tunjukkan tadi dan beralih ke jajaran rak yang lainnya. Mungkin dengan membiarkan Shasa memilih sendiri sesuai inginnya akan memudahkan Rafa untuk cepat pulang.
Shasa yang masih melihat beberapa buku tiba-tiba terlintas ucapan Rafa tadi.
Apa mungkin aku beli komik saja? Itu gak terlalu buruk.
Pikirannya berhasil membuat keputusan yang bertolak belakang dengan ucapannya tadi.
Matanya kembali mencari beberapa komik humor yang bisa menghiburnya. Jarinya menyusuri tiap judul komik yang bertengger rapi di setiap rak dan berhenti di salah satu komik yang tadi di ajukan oleh Rafa.
Shasa pun mengambil komik tersebut dan mengambil dua buah komik lainnya. Ia sudah memilih tiga buku komik yang akan dibeli. Saat Shasa tiba di depan ikut mengantri membayar komiknya, ia dikejutkan oleh suara seseorang.
"Udah dapat bukunya?" tanya Rafa yang datang dari arah belakang.
Shasa mengangguk, "Udah. Ini" ucapnya seraya mengangkat ketiga komiknya.
Rafa mengernyit, "Kamu baca komik?"
Shasa berdehem, "Gak ada salahnya kan nyoba baca-baca komik. Toh, cuma bacaan ini" ujarnya.
Rafa mengedikkan bahunya, tak peduli dengan apa yang Shasa ucapkan.
"Kalau gitu, aku tunggu kamu disitu. Nanti kita pergi makan bareng" Rafa menunjuk sebuah bangku kosong yang berada diluar toko tersebut.
"Oke"
*****
Shasa gelagapan ketika Rafa mengajaknya makan di restoran tempat Ilham bekerja. Kepalanya terus menunduk tanpa melihat kearah Rafa. Seakan takut melihat kehancuran yang akan datang jika ia bertemu dengan Ilham.
Sementara Rafa merasa curiga dengan Shasa yang terus tertunduk tanpa mengangkat kepalanya. Suasana hati Shasa berubah dratis ketika Rafa mengajaknya makan disini.
Apa ada yang salah waktu keluar toko buku tadi? Pikir Rafa yang tengah memerhatikan Shasa.
Rafa pun mengesampingkan kecurigaan tersebut, ia memilih beberapa menu untuk di santap karena perut yang mulai lapar.
"Kamu mau pesan makanan apa?" tanya Rafa tanpa menoleh kearah Shasa.
"Samain aja dengan punyamu" Shasa masih menunduk sambil memainkan ponselnya. Membuka sosmed demi mengalihkan rasa takutnya.
"Ya udah. Aku pesan nasi goreng sea food aja" tanya Rafa lagi agar Shasa tak salah makan makanan yang sama dengannya.
"Iya gak pa-pa. Nasi goreng sea food aja."
"Terus kamu mau minum apa?"
"Samain aja."
Rafa mengerutkan dahinya. Ada yang aneh dengan Shasa. Tidak mungkin semua menu disamakan, bukankah mereka berbeda selera? Baiklah, mungkin nanti Rafa akan menanyakan ini padanya ketika pulang nanti.
Selesai memesan makanan Rafa kembali memerhatikan Shasa yang terus menunduk menatap ponselnya. Tak seperti biasanya, tunggu! Kenapa tangannya terlihat gemetar dan wajah tampak pucat.
"Kamu sakit?" tanya Rafa dengan pelan khawatir akan keadaan Shasa.
Shasa menggeleng, "Gak. Aku sehat"
"Wajahmu pucat" ucap Rafa yang masih menatap Shasa.
"Biasanya kalau lapar, aku pasti pucat" bohong Shasa.
Bagaimana ini? Dia terus menanyakanku. Aku gak bisa diam disini. Sebisa mungkin gak ketemu sama cowok itu, gumam Shasa dalam hati.
Shasa menghela nafas dengan kasar, "Makanannya masih lama ya? Kepalaku udah keburu pusing" setidaknya inilah cara agar Shasa bisa keluar dari sini.
"Kamu tunggu disini. Aku pergi beli obat dulu."
Shasa hendak menghentikan Rafa namun gerakan Rafa begitu cepat dan pergi entah kemana. Padahal rencananya tadi Shasa ingin pulang sendiri tapi malah sebaliknya.
Kenapa jadi begini? Kenapa jadi dia yang pergi ninggalin aku?