Raffa in Love

Raffa in Love
Mencari Rasa itu



Buku agenda milik Shasa berhasil mengusik hatinya yang dalam. Tiap lembar yang ia baca seakan menyiratkan kekecawaan akan cinta yang begitu dalam. Seakan itu semua bukan lagi harapan untuk menumbuhkan kembali rasa cinta itu.


Rafa merasa aneh dengan dirinya, mengapa ia begitu terusik akan tulisan masa lalu istrinya. Bukankah pernikahannya dengan Shasa hanyalah sebatas status untuk menghindari tekanan dari kedua keluarga. Dan itu telah disepakati oleh mereka berdua. Namun, apa ini? Seakan cubitan itu terasa kuat dalam hatinya.


Pikiran dan hatinya terus menerus terganggu. Ada yang salah. Ya, yakin ada yang salah dengan dirinya akhir-akhir ini.


"Lama banget turunnya? Aku udah selesai duluan makannya" sembur Shasa begitu melihat Rafa yang berjalan turun menyusuri tangga.


"Maaf, aku tadi tiduran sebentar" ujar Rafa.


"Kamu mau lanjut makan? Atau mau gabung ke depan sama papa dan mama? Mereka udah nungguin kamu dari tadi"


Rafa menghela nafas, "aku ke depan aja"


Shasa mengangguk dan membiarkan Rafa berjalan bergabung bersama kedua orangtuanya. Sementara dirinya menyiapkan teh hangat untuk menemani keluarganya yang tengah berkumpul.


*****


Suasana ruang keluarga begitu nyaman, tak banyak hiasan dinding yang terpajang. Hanya ada beberapa pigura kaligrafi dan asmaul husna. Sofa berwarna soft grey menjadi tempat duduk yang nyaman dengan karpet bulu halus terbentang dibawah sofa.


Berjajar rak buku dan beberapa album foto keluarga. Tv pun menjadi hiasan terbaik disalah satu dinding sebagai tanda bawah ruangan ini bukan hanya ruangan keluarga, namun menjadi tempat bercengkrama yang begitu nyaman untuk saling bertukar cerita.


"Gak lanjut makan lagi, nak?" tanya mama yang begitu Rafa ikut bergabung di ruang keluarga dan duduk disalah satu sudut sofa.


"Gak, ma. Alhamdulillah sudah kenyang" jawab Rafa dengan senyum ramahnya.


"Gimana ruko kamu? Lancar?" papa mertuanya pun itu bersuara.


"Alhamdulillah, pa. Semua lancar."


"Gak ada rencana buka cabang lagi?"


"Belum kepikiran, pa. Masih mengurusi yang ada saja. Sambil nunggu khalid lulus."


"Khalid? Adik bungsumu?"


"Iya pa. Kalau dia lulus, saya bisa buka cabang baru dan gak terlalu pusing untuk sering-sering bolak balik."


"Jualan di marketplace gimana? Lancar?"


"Alhamdulillah, pa."


"Kamu gak mau coba hal lain? Buka bisnis makanan atau bisnis travel?"


"Gak, pa. Kalau bercabang nanti susah untuk fokus. Makanya saya cukup satu bidang saja."


"Kan ada Shasa yang bisa bantu. Biar dia gak jenuh juga di rumah."


"Papa, jangan maksain kehendak, deh. Rafa kan punya style sendiri. Dan dia juga punya keahlian sendiri. Belum tentu juga dia buka bisnis makanan bisa sesukses usahanya sekarang" Shasa berbicara begitu datang membawakan tiga cangkir teh hangat.


"Dan satu lagi, aku gak mau bisnis makanan" lanjutnya lagi.


Pak Adam menghela nafasnya perlahan, "Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan mengurusi bisnis papa? Kamu kan anak papa satu-satunya" terang pak Adam.


Pernyataan yang terlonyar dari mulut pak Adam membuat Rafa berpikir, apakah maksud pak Adam tadi menyuruh Rafa untuk mengurus semua usahanya? Kenapa harus dirinya? Sementara Rafa tak begitu menguasai bisnis di bidang tersebut.


Shasa menepuk pundak Rafa, "Antar aku keluar sebentar. Mau beli sesuatu."


"Kemana?"


"Ke mall yang deket sini aja. Kamu gak capek, kan?"


Rafa menggelengkan kepala.


"Ya udah. Jalan sekarang, yuk."


Shasa dan Rafa pun beranjak dari duduknya hendak pergi.


"Jangan pulang terlalu malam" ucap sang mama.


"Kalau mama lupa, aku udah nikah. Dan mama bisa berhenti khawatirin aku."


Shasa harap mamanya tak akan berlebihan mengkhawatiri dirinya. Ia sudah cukup dewasa dan cukup tahu bagaimana bersikap. Selama Rafa selalu berada di sampingnya, maka ia aman untuk keluar sesuka hatinya.


*****


Walau jarak dari rumah ke mall yang akan dituju tak begitu jauh namun dengan saling diam satu sama lain seperti saat ini, membuat Rafa mengemudi dengan cukup santai.


Sementara Shasa tak berbicara sedikitpun. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Sejak keluar dari rumahnya tadi, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


Hembusan nafas yang begitu berat keluar dari mulut Shasa.


"Kamu jangan maksain diri untuk ikuti semua kemauan orangtuaku"


Shasa menunduk, "Aku gak mau bebanin orang lain dengan nerima semua tuntutan dari orangtuaku" terangnya.


Ya, itulah yang Shasa jelaskan. Ia tak mau pernikahannya dijadikan alat bagi orangtuanya untuk meneruskan usaha keluarga. Terlebih Shasa menjalani pernikahan ini tanpa berlandaskan cinta.


Sejak bertemu dengan Rafa, kedua orangtuanya seakan memiliki harapan. Harapan untuk menjadi penerus bisnis mereka. Namun jika semua itu dipaksakan kepada Rafa, bagaimana mungkin Rafa bisa menjalaninya?


Sedangkan keseharian Rafa saja bisa dibilang cukup melelahkan mengurus beberapa ruko. Bahkan sampai bolak balik mengunjungi ruko yang satu dengan yang lainnya. Jika itu ditambah dengan mengurusi bisnis keluarga Shasa mungkin Rafa akan terporsir seluruh tenaganya.


"Aku belum bilang iya sama papamu. Dan papamu juga belum minta aku buat ngurusin bisnisnya" jelas Rafa.


"Walaupun belum minta setidaknya kamu bisa rencanakan untuk menolaknya."


"Kenapa bukan kamu aja yang nerusin bisnis papamu?" tanya Rafa.


"Aku gak berbakat"


"Bukan gak berbakat. Tapi kamu gak mau belajar."


"Aku belajar, kok."


"Belajar? Belajar buat nolak?"


"Bukan begitu ... "


"Kenapa kamu gak coba dulu urusin bisnis papamu selama beberapa bulan?" potong Rafa.


"Aku lihat papamu mulai lelah. Sepertinya ingin pensiun dini"


Shasa mengerucutkan bibirnya. Benar yang dikatakan oleh Rafa, papanya hanya ingin beristirahat di masa tua. Menikmati hidup dan bermain bersama keluarga kecilnya.


"Aku gak ngerti gimana ngejalanin bisnis itu. Makanya aku malas" ujar Shasa.


"Nanti aku ajarin kamu gimana jalanin bisnis"


"Ajarin apa?"


"Jualan"


"Jualan barang daganganmu? Ogah! Malu!"


"Ngapain malu? Toh, itu pekerjaan halal"


"Aku gak bisa nawar-nawarin barang ke orang"


"Kan aku gak nyuruh kamu langsung nawarin barang ke orang"


"Jadi?"


"Kamu cukup duduk-duduk aja di ruko sambil lihat keadaan di ruko. Nanti juga kamu bakalan tahu"


Rafa menghentikan mobilnya di tempat parkir, "Kita udah sampai. Ayo turun."


Shasa melepaskan seat belt nya dan membuka pintu disampingnya. Dengan tergesa ia melangkah dan mensejajari dirinya dengan Rafa.


"Kamu beli apa?" tanya Rafa.


"Aku mau beli novel baru" jawab Shasa.


"Cuma novel?"


Shasa mengangguk tak menghiraukan Rafa yang tersenyum getir mendengar jawaban Shasa.


Sepertinya Rafa harus terbiasa dengan sikap Shasa yang suka seenaknya.


Tiba-tiba langkah Shasa terhenti, menyadari dirinya berada di mall tempat ia bertemu dengan Ilham. Ini adalah mall tempat Ilham bekerja. Seketika Shasa diam membatu mengingat pertemuan pertamanya dengan Ilham. Hatinya bergemuruh. Perasaan mulai tak menentu. Semoga ia tak bertemu dengan Ilham disini. Atau lebih baik pindah ke mall lain saja?


"Ayo jalan. Kenapa berhenti" Rafa menyadarkan Shasa dari lamunannya.


"Kita bisa pergi ke mall lain gak? Disini kayaknya gak ada toko bukunya" bohong Shasa.


Rafa mengedikan dagu menunjuk ke salah satu toko buku yang terlihat tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Disitu kayaknya novel yang aku cari gak ada deh" usahanya lagi mencoba agar tak bertemu dengan Ilham nanti.


"Kamu kenapa? Ada masalah? Aku kan nemenin kamu"


Tanpa menunggu lama, Rafa langsung berjalan meninggalkan Shasa kemudian berbalik melihat Shasa yang sedikit tertinggal dibelakangnya.


"Ayo cepetan. Nanti aku traktir makan"


Shasa mengangguk dan berjalan perlahan.