
Masa lalu bukanlah hal buruk yang harus dilupakan, namun masa lalu bisa menjadi pengingat dan pelajaran untuk masa depan agar kita tidak salah dalam mengambil langkah untuk meraih masa depan.
Seburuk apa pun masa lalu, gak akan mudah untuk menghapusnya. Karena ia telah tergambar dengan jelas dalam ingatan. Namun masa depan masih bisa di ukir indah dengan langkah yang lebih baik lagi.
Shasa tak pernah berharap untuk menatap kembali masa lalu, baginya semua itu adalah sampah yang harus dibuang jauh, terlebih itu kenangan buruk.
Namun, siapa sangka ia akan bertemu kembali dengan masa lalu yang berhasil membuat hatinya hancur. Masa dimana dirinya merasa dikelilingi orang yang selalu ia percaya dan akhirnya mengkhianatinya.
Bertemu kembali tanpa disengaja merupakan suatu hal yang sangat tak di inginkan. Bukankah itu semua sudah takdir dari sang Kuasa?
Ya, disinilah Shasa. Ia duduk kembali di meja yang sebelumnya telah ia pesan untuk makan siang setelah terjadi perdebatan sengit antara dirinya dan Ilham.
"Kamu makin cantik, Cha" puji Ilham yang duduk di hadapannya.
"Lo sepertinya gak nanggepin peringatan gue waktu dibawah tadi" Shasa mengingatkan kembali bahwa ia mau berbicara dengan Ilham asal pria tersebut tidak duduk satu meja dengannya.
Ilham mengernyit bingung sambil mengingat kembali ucapan shasa dan kemudian ia mengangguk begitu perkataan Shasa muncul dalam benaknya.
"Sorry, aku lupa" ucapnya sembari berpindah tempat duduk di meja sebelah Shasa namun dengan posisi yang berseberangan. Ia hanya ingin dapat menatap wajah Shasa lebih jelas.
"Gimana kabarmu, Cha?" tanya Ilham saat dirinya baru duduk.
"Bisa gak panggil lo gue aja? Gue gak suka nama gue diganti. Itu pemberian orang tua gue" bukan, bukan itu yang Shasa maksud. Ia hanya ingin panggilan itu cukup di masa lalu karena kini tak ada hubungan apa pun di antara mereka.
Ilham mengangguk, "Maaf, aku kelepasan. Mungkin terlalu bahagia ketemu sama kamu."
"To the point aja, mau apa lo nyuruh gue kesini? Waktu gue gak banyak" ujar Shasa dengan dingin tanpa menatap ke arah Ilham. Tangannya terlipat didepan dada dan dagu terangkat, menunjukkan kesan yang angkuh.
"Apa kabar, Sha? Udah lama kita gak ketemu. Kamu menghilang gitu aja."
"Aku baik. Maklum bisnis aku banyak dan gak ada waktu buat buang waktu nemuin orang" jawabnya dengan sombong.
"Kamu pindah rumah? Dulu aku main ke rumahmu tapi gak ada orang."
"Kamu tahu kan, rumah aku bukan cuma satu?" sombongnya lagi.
Raut wajah Ilham mulai murung melihat respon Shasa yang selalu emosi begitu melihat dirinya.
"Elma nanyain kamu, Sha. Dia pengen ketemu kamu."
"Hmmm"
"Kamu mau kan, ketemu Elma?"
"Gak bisa. Aku sibuk."
"Sesibuk apa sih kamu? Sampai-sampai gak bisa ketemu Elma?" tanya Ilham yang mulai tersulut api amarah namun masih bisa ditahannya.
"Kamu cukup tahu sebanyak apa bisnis papaku" ucap Shasa dengan tangan terangkat meraih minuman yang ada di hadapannya. Setelah insiden tadi, ia merasakan kerongkongannya begitu kering dan terasa tak nyaman.
"Sebenci itu kamu sama sahabatmu sendiri?"
"Maybe ... " ungkap Shasa seraya mengangkat bahunya.
"Apa gak ada sedikitpun kesempatan untuk dia?"
"Gak ada"
Shasa mulai bosan meladeni Ilham yang masih terus memohon padanya. Ia lebih memilih melahap makanan yang sudah tersaji. Toh, makanan ini sudah ia bayar dengan uangnya sendiri. Jadi, gak salah jika ia memakannya kembali.
Ketika suapan keempat masuk ke dalam mulutnya dan hendak menyendok pada suapan kelima, Shasa menghentikan tangannya saat Ilham berbicara.
Tak ada respon. Shasa bergeming tak melanjutkan acara makannya, bahkan saat makanan tersebut berhasil disendoknya namun tak berhasil lolos untuk masuk ke dalam mulutnya. Tangannya yang menggantung perlahan turun.
Shasa menghela nafas cukup dalam, "Aku lagi makan dan aku gak suka kamu ngomongin hal itu." Meletakkan sendoknya, "Aku permisi ke toilet"
Ilham mengangguk, sadar akan kesalahan atas ucapannya tapi dan membiarkan Shasa pergi untuk sesaat.
Selesai dengan dari kamar mandi, Shasa memandang wajahnya dihadapan cermin, tertawa sinis menatap dirinya yang terlihat menyedihkan.
Bagaimana bisa ia memberikan kesempatan kepada Ilham sementara dia menaruh rasa sakit yang begitu dalam?
Dan bagaimana juga ia bisa menolak mendengarkan tentang keadaan Elma yang sedang sakit?
Apa ini sudah terdengar begitu bodoh? Shasa tak ingin memberikan kesenpatan, namun ini apa?
Shasa mengusap kasar wajahnya. Ia merasa kacau dengan situasi saat ini. Entah apa yang akan ia hadapi kedepannya, yang pasti jangan sampai rasa itu datang lagi. Ya, itu tidak boleh. Karena sekarang dia sudah bersuami, meski itu tanpa cinta.
*****
"Kenapa melamun sayang?" tanya bunda yang datang menghampiri Shasa. "Gimana jalan-jalannya tadi?" sambungnya.
Shasa tersenyum, "Biasa aja, bunda. Gak ada yang menarik."
"Masa, sih?"
Shasa mengangguk.
"Nanti bunda ajakin kamu jalan-jalan yang asik."
Kembali Shasa hanya mengangguk.
"Lagi ada masalah?" bunda memeerhatikan mimik wajah Shasa yang terlihat sedikit murung.
Shasa menggeleng, "Lagi capek aja, bun. Tadi keliling-keliling gak jelas" bohong Shasa. Ia tahu betapa perhatian mertuanya, namun ia merasa masalahnya saat ini tidaklah perlu diketahui oleh siapapun.
"Ya udah. Kamu istirahat di kamar. Nanti makan malam bunda panggil."
"ya bunda. Aku pamit dulu ya ke atas."
Shasa berjalan gontai menaiki anak tangga satu per satu. Hati dan pikirannya saat ini tengah terganggu dengan kehadiran Ilham tadi. Dua orang yang sama-sama ia sayangi dan bahkan sama-sama ia benci dalam waktu bersamaan.
Keadaan seakan tak berpihak pada dirinya. Disaat ia meraih kebebasan yang telah lama di kekang, tiba-tiba hadir biang masalah yang merenggut kebebasannya dulu.
"Elma sakit, Sha. Dia kena kanker hati stadium 3. Kamu gak tahu, kan?" Ilham menertawakan dirinya. "Bahkan aku yang dekat dengannya dulu, masih di anggap orang lain olehnya."
"Begitu tragedi itu terjadi, keadaan Elma makin parah dan dia bahkan gak punya gairah untuk hidup. Dia menghukum dirinya sendiri demi menebus rasa bersalahnya sama kamu. Padahal aku sudah menikahinya tapi dia tetap nyiksa dirinya sendiri sampai saat ini."
Ilham mendekat berharap Shasa mau memaafkannya sekali lagi dan menemui Shasa.
"Kamu mau kan maafin aku? Dan ketemu sama Elma?" tanya Ilham.
Shasa tampak berpikir, mencoba menata kembali hatinya tapi rasa sakitnya belum bisa dikalahkan oleh apapun.
"Dimana Elma sekarang?"
"Dia ada dirumah. Aku rasa kamu gak akan lupa alamat rumahnya. Karena kami tinggal disitu sekarang"
Shasa mengusap wajah kasarnya begitu tiba di kamar dan merebahkan dirinya di ranjang setelah pikirannya sedikit terbayang percakapan dengan Ilham tadi.
Lebih baik ia mandi daripada memikirkan hal yang merusak suasana hatinya.