
Entah apa yang dipikirkan oleh Rafa saat dirinya menghampiri Shasa di halaman belakang dan memberikannya segelas coklat panas, semua di luar kendalinya. Setelah ia tadi memperhatikan gelagat Shasa yang terlihat diam saat makan malam.
Rafa tak pernah sepeduli ini terhadap lawan jenis, namun kini entah mengapa hatinya sedikit terusik dengan diamnya Shasa. Bahkan tanpa disadari ia membuat sendiri coklat panas untuknya. Mungkin ini hanyalah cara agar pernikahannya terlihat aman tanpa harus di curigai oleh keluarganya. Ya, Rafa tak ingin memperlihatkan kepada keluarganya bahwa dirinya belum memperlakukan Shasa sebagai seorang istri. Minimal status pernikahan menjadi tolak ukur baginya agar terselamatkan dari desakan keluarga.
Helaan nafas yang begitu berat keluar dari mulut dan hidungnya yang mancung. Sesekali menatap ponselnya yang berada di atas nakas dan kemudian mengambilnya dengan terpaksa. Mencoba menghubungi seseorang.
"Assalamu'alaikum. Gus, udah tidur?" tanya Rafa.
"Wa'alaikumsalam. Belum bang. Ini baru mau makan." jawab bagus di seberang sana.
"Kebiasaan. Kalau makan jangan terlalu larut malam!" Rafa mengingatkan.
"Maklum bang, namanya juga bujangan. Hehehe ... " balasnya.
"Makanya cepetan nikah. Kalau belum dapat juga, nanti saya paksa nikah sama Luna" ancam Rafa.
"Kalau itu, saya gak bisa nolak bang. Hahahaha"
Segaris senyum terukir di bibir Rafa begitu mendengar ucapan Bagus. Karyawannya tersebut telah lama memendam perasaan terhadap luna dan sempat beberapa kali menyatakan cinta namun ditolak begitu saja. Bukan tanpa alasan Luna menolak Bagus, Luna yang masih menjadi tulang punggung untuk kedua adiknya masih belum mau memikirkan masa depan untuk dirinya. Itulah sebabnya ia tak ingin menikah dalam waktu dekat.
"Ada apa, bang? Tumben malam-malam telpon? Gak ngelonin kakak ipar" tanya Bagus.
Rafa mendengus geli, "Kamu minta dipotong gaji, ya?" ancamnya.
"Gak bang. Gak. Saya cuma becanda. Hehehe ... "
"Besok saya gak ke ruko. Tolong kamu cek barang-barang seperti biasa ya. Mungkin cuma dua atau tiga hari saya gak kesana"
"Mau kemana, bang?"
"Anterin Shasa ke rumah orangtuanya"
"Apa? Abang mau cerai? Nikah belum seminggu udah maen anter balik bini ke rumah ortu nya. Istighfar bang. Istighfar. Cerai emang halal tapi dibenci sama Allah ... "
Rafa menjauhkan ponselnya dari telinga, terasa panas mendengarkan ocehan Bagus yang ngelantur.
"Kamu ngomong apa? Jangan ngaco!" tegur Rafa. "Besok saya mau berkunjung ke rumah mertua karena saya belum pernah kesana" terangnya.
"Dan kamu tolong pantau ruko selama saya gak ada. Pembukuan juga harus ditulis barang yang masuk dan keluar. Awas kalau ada salah, gaji kamu saya potong!" ancam Rafa.
"Siap bos. Tau dah yang mau honeymoon. Gak modal amat. Masa di rumah mertua" ledek Bagus.
"Udah malam. Tidur sana!"
"Lah? Gimana mau tidur? Abang masih telpon saya. Ntar dimatiin telponnya, bisa dipotong gaji saya" canda Bagus.
"Assalamu'alaikum"
Tanpa basa basi Rafa langsung memutuskan sepihak sambungan telponnya. Jika terus diladenin, bisa panjang obrolan dan Rafa sudah cukup lelah seharian ini jika ditambah dengan obrolan panjang.
Rafa pun beranjak dari tempat tidur mengambil bedcover di lemari, membentangnya disamping tempat tidur. Dan memulai untuk mengistirahatkan badannya dibawah.
*****
Kerutan di kening semakin menajam tatkala Shasa memasuki kamar dan berjalan perlahan ke arah ranjang. Masih sama dengan malam sebelumnya, ia mendapati Rafa yang tidur meringkuk di lantai.
Kenapa dia tidak tidur di atas?
Ini kan kamarnya?
Mengedikkan bahu, Ya sudahlah. Maunya dia disitu. Aku malah enak. Lirih Shasa.
Berkali-kali berusaha memejamkan mata namun tak juga tidur. Shasa pun gelisah, berbalik ke kanan, berbalik ke kiri. Pikirannya berkelana pada kejadian saat pertemuannya dengan Ilham. Kenapa itu sangat mengusik pikirannya? Bahkan kini aku jadi susah untuk tidur. Gerutu Shasa yang masih kesal.
Ternyata manis juga wajahnya. Lebih teduh dari pada biasanya. Tapi kenapa tadi dia terlihat seolah aku rindu rumah? Dia pikir aku gak betah disini? Shasa mengelengkan kepala menatap konyol sikap Rafa saat di halaman belakang tadi. Sekelebat rasa mengusik hatinya. Seakaan ada yang berdebar dihatinya ketika mengingat perhatian Rafa yang membuatkannya cokelat panas. Apa dia tertarik padaku? Bisiknya.
Hanya helaan nafas yang begitu berat keluar dari bibir merah Shasa yang cenderung pink. Ia harus menyingkirkan beberapa masalah dalam pikirannya agar bisa tertidur dengan lelap, mengingat esok akan lebih banyak lagi yang harus ia hadapi.
*****
Tak ada yang merasa senang jika dipaksa untuk mengikuti segala kemauan seseorang, terlebih itu terkesan mengatur.
Ya, begitulah Shasa. Saat terbangun di subuh tadi, Rafa sudah memaksanya untuk sholat dan berkemas untuk berkunjung ke rumah orangtuanya. Melihat Rafa yang begitu seenaknya menyuruh dirinya tanpa bertanya terlebih dulu.
Dalam pikirannya bertebaran hal buruk tentang Rafa yang suka memaksa dan mengatur dirinya. Sepertinya Shasa butuh banyak cara untuk menghindari sikap penjajah yang Rafa terapkan padanya. Penjajah? Shasa rasa itu tak buruk diberikan sebagai gelar penghormatan padanya.
Selama perjalanan Shasa hanya memandang ke arah luar jendela. Tak ada gunanya mengajak Rafa untuk berbicara sepanjang perjalanan. Itu akan menguras tenaga, mengingat setiap obrolan panjang akan berakhir pada keributan.
Hening. Itu yang dirasakannya. Seperti mobil ini tanpa penghuni. Namun Shasa terkejut saat mobil berhenti di swalayan.
"Kita beli sesuatu dulu untuk dibawa ke rumahmu." Rafa berbaik hati memulai obrolan.
Shasa bergeming tak memperdulikan Rafa. Disini yang punya kuasa adalah Rafa, mengingat dia telah berhasil mengatur Shasa dengan sesuka hatinya.
Helaan nafas pelan, "Kamu turun, deh. Beli sesuatu" ujar Rafa lagi.
"Kamu ngomong sama siapa? Aku?"
"Menurutmu ada orang lain disini?"
Shasa mengedikkan bahunya.
"Sa? Kamu dengarkan?" tanya Rafa lagi.
Shasa mencebik kesal dan meraih tasnya dengan kasar, keluar dari mobil menuju swalayan. Dasar tukang nyuruh. Pak tukang penjajah. Gerutu Shasa yang meluapkan kekesalannya saat keluar.
*****
"Assalamu'alaikum" sapa Rafa sembari mengetuk pintu.
Kini mereka telah tiba dirumah Shasa setelah berkendara dan mampir sejenak membawa buah tangan.
"Wa'alaikumsalam" sahut dari dalam. Mungkin itu mama Shasa, pikir Rafa.
Tak lama pintu pun terbuka.
"Eh, Rafa, Shasa. Duh, mama kangen sama kalian" mama begitu antusias melihat tamu yang datang. Ia memeluk Rafa dan Shasa bergantian.
"Ayo masuk. Kita ngobrol sambil makan di dalam. Kebetulan mama masak makanan banyak" ujarnya.
"Tumben mama masak banyak?" tanya Shasa
"Tadi bundamu bilang kamu mau kesini jadi mama masak banyak buat kamu dan suamimu" ungkap mama.
"Gak jadi surprise dong, ma?" ucap Rafa.
Tersenyum, "Lihat kalian disini juga udah surprise buat mama."
"Makasih, ma. Papa dimana?" tanya Rafa lagi.
"Ada di halaman belakang lagi baca buku. Kamu kesana aja, temenin papa."
Rafa mengangguk dan berjalan ke halaman belakang, seakan ia sudah terbiasa dirumah ini. Padahal ini pertama kalinya dia datang ke rumah Shasa.
Shasa mengerutkan alisnya, merasa ada yang ganjil. Tunggu! Kenapa pak tukang jajah ini mendadak jadi ramah dan sok manis di depan mama? Apa yang dia rencanakan?