
Setelah sekian lama berada di kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti pakaian. Shasa merias dirinya di depan cermin, menyisir rambutnya agar terlihat rapi setelah tadi menggunakan bedak, mascara, eyeliner dan lipstik di wajahnya yang begitu mulus.
Shasa bergeming sesaat ketika pandangannya tertuju pada benda pipih yang diberikan oleh Rafa tadi. Sejenak ia teringat akan perkataan Rafa, "aku akan menafkahimu" berhasil mengusik hatinya.
Mengapa juga dia harus repot-repot menafkahi Shasa?
Penghasilan Shasa sudah cukup untuk memuaskan hasrat berbelanjanya.
Ia tak ingin bergantung pada siapa pun terutama pada Rafa. Walau status mereka suami istri namun, Shasa tak ingin terlihat lemah dihadapan Rafa.
Ya, Shasa merasa dirinya lemah jika ia di nafkahi. Baginya, selama ia masih sehat dan mampu mencari uang dengan usaha sendiri, maka tak perlu lagi menerima uang dari Rafa, apa pun itu statusnya.
Dan kini, Shasa hanya bisa menyimpan benda pipih tersebut didalam dompetnya tanpa harus memakainya. Itu lebih baik.
Setelah selesai dengan aktivitas merias diri, Shasa pun beranjak pergi untuk mencari hiburan seperti berkeliling ke mall.
"Seger banget, kak. Mau kemana?" Fitri yang belum berangkat ke kampus dan tengah bersiap diruang tamu, mencium aroma segar dari parfum Shasa.
"Mau main aja, keluar sebentar. Kamu kemana?" tanya Shasa.
"Aku mau ke kampus, kak. Mau bimbingan. Kebetulan dosen aku ada jadwal hari ini" terang Shasa.
"Kita keluar bareng aja kalau gitu."
"Oke, kak." jawab Fitri dengan mengangkat satu jempol tangannya.
"Eh, bunda kemana? Aku belum ngomong sama bunda untuk keluar."
"Bunda barusan keluar. Pergi ke apotik, beli obat buat Khalid."
"Yah ... Gimana dong?"
Fitri tersenyum melihat reaksi kakak iparnya yang tiba-tiba tak bersemangat untuk keluar rumah.
"Jangan murung gitu dong, kak. Bunda gak akan marah, kok. Kan, kakak bisa telpon bunda" Fitri memberikan solusi agar kakak iparnya tak bersedih.
"Oh iya, aku sampai lupa. Aku telpon bunda dulu"
Setelah Shasa menghubungi mertuanya untuk berpamitan pergi, merekapun keluar bersama meninggalkan rumah dengan tujuan yang berbeda.
"Khalid gak apa-apa kan ditinggal sendiri?" tanya Shasa.
"Dia kalau sakit gak rewel, sih. Cuma butuh istirahat aja. Tapi, ya gitu, harus sering di tengok soalnya kalau sakit dia susah makannya" terang Fitri.
Shasa mengangguk-anggukkan kepala memahami kebiasaan adik iparnya.
*****
Suasana mall begitu ramai orang berlalu-lalang. Menikmati setiap sudut gedung yang tinggi menjulang, berjejer toko-toko branded dan beberapa tempat makanan siap saji yang begitu menggugah selera.
Arena hiburan pun tersaji dengan berbagai macam permainan yang ramah untuk anak-anak. Tak hayal tempat ini selalu menjadi lokasi yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
Shasa yang sudah puas berkeliling setiap sudut mall tak membawa apa pun begitu keluar dari toko. Apa yang dia cari tak ia temukan. Pilihan akhirnya jatuh kepada salah satu restoran, sepertinya ia harus mengisi perutnya setelah lelah berkeliling seharian.
Begitu masuk, Shasa memilih untuk duduk di ujung dekat jendela dengan pemandangan luar yang dapat melihat beberapa suasana kota. Ia pun memesan beberapa makanan dan minuman.
Disaat pesanan datang, Shasa dikejutkan dengan sapaan seseorang yang mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia pakai untuk berfoto selfie.
"Kamu?" mata Shasa membulat begitu menyadari orang yang menyapanya. Seakan sebuah ancaman yang akan menghancurkannya.
"Ngapain kamu disini? Mau nganggu aku lagi?" teriak Shasa yang tak mempedulikan orang yang ada disekitarnya.
"Aku kerja disini. Aku gak ganggu kamu. Ini aku anterin makanan pesanan kamu." ungkap pramusaji yang menghidangkan makanan untuk Shasa.
"Aku gak jadi makan. Ini uangnya." Shasa merogoh uang didalam dompetnya, beberapa lembar uang berwarna merah ia letakkan begitu saja di atas meja tanpa menyentuh sedikitpun makanan yang telah disajikan.
"Gak baik, Sha. Mubazir." terang lelaki tersebut sambil meraih tangan Shasa.
Reflek Shasa menghempaskan pegangan tangannya, "Lebih mubazir waktu aku ketemu kamu!" Shasa pun berlalu meninggalkan restauran dengan hati yang sangat dongkol.
Bagaimana bisa pria itu datang kembali dihadapannya?
Shasa merutuki kejadian ini, sangat menyesal ia keluar rumah hari ini. Berharap orang yang ia temui tadi segera lenyap di muka bumi ini.
Begitu Shasa berada di depan mall sambil menunggu taksi online, seseorang memegang bahunya dan membuat Shasa berbalik.
"Sialan! Mau apa, hah?" Shasa menepiskan pengangan dibahunya. "Jangan sentuh-sentuh gue. Najis tau gak."
"Maafin aku, Sha." ujarnya seraya menarik kembali tangannya.
"Ck ... Jangan pernah lihatin muka lo dihadapan gue!" Shasa berlalu namun tangannya tertahan.
"Lepasin! Atau gue teriakin copet?" ancam Shasa.
"Aku cuma mau ngomong sebentar, Sha."
"Gak. Gak ada waktu buat lo."
"Please, Ca. Sekali ini" pintanya dengan memelas.
Shasa mengepalkan tangannya, ia tak suka dengan panggilan 'Ca' yang dilontarkan oleh pria tersebut. Emosinya semakin tersulut.
"Jangan pernah nyebut nama gue pake mulut lo, ngerti?" Shasa tak suka itu. Bahkan merasa jijik jika pria tersebut menyebut namanya.
"Oke. Gue turutin mau lo. Tapi bisa kasih gue waktu sebentar?"
"Buat apa? Mau ngehancurin gue lagi?"
"Maafin gue. Tolong. Cuma sebentar. Biar gue gak ada beban."
Shasa mencebik kesal, "Ketemu sama lo udah bikin beban hidup gue berat, apalagi ngomong sama lo."
"Ca, please ... Dengerin gue sekali ini aja. Gue mau ..."
"Jangan sebut nama gue pake mulut lo!" potong Shasa dengan hardikan yang keras. Menarik perhatian orang yang berada disekitarnya.
"Oke oke oke. Tapi lo kasi gue waktu." pria tersebut menarik nafas dalam, "Bisa, kan?"
Shasa bergeming tak menghiraukan pria tersebut. Tangannya sibuk memainkan ponsel sembari sesekali melihat ke kanan dan kiri. Shasa ingin segera pergi meninggalkan tempat ini. Pergi menjauh dari orang brengsek ini.
Ia tampak kesal saat pesanan taksi online nya di cancel oleh sang driver. Seolah keadaan membuatnya makin terasa kesal.
"Biar gue antar lo pulang" ucap pria tersebut yang sadar akan cancel-an taksi online pesanan Shasa.
"Gak sudi"
"Ca, jangan keras kepala gini. Gue gak akan macam-macam sama lo."
Mata Shasa membulat saat nama itu disebut, seolah tatapan harimau yang siap menerkam mangsanya.
"Sorry ... Sorry, mau kan kasi gue waktu sebentar?" pintanya lagi. Seakan tak ada yang tak dapat menolak inginnya.
Shasa mengatur nafas, mengontrol emosinya yang bergejolak.
"Silahkan"
"Ikut gue"
"Jangan ngelunjak! Ngomong disini aja."
"Kita ngobrol sambil makan. Kamu kan belum makan tadi"
Pria tersebut mengingatkan Shasa akan pesanan yang ia tinggalkan tadi. Sebenarnya Shasa memang sangat lapar saat tiba di restauran tadi namun, dengan hadirnya pria tersebut yang serba tiba-tiba, membuat nafsu makan Shasa hilang.
"Oke. Tapi kita ngobrol di meja yang berbeda. Jaga jarak lo sama gue!" ancam Shasa.
"Terima kasih" gumam pria tersebut.
Shasa pun berjalan mendahului pria tersebut dengan ekspresi wajah yang cukup menyeramkan jika dilihat.
Dia tak pernah berharap bertemu dengan orang ini. Kenapa sekarang ia dipertemukan kembali dengan orang tersebut?