
Rafa tampak terkejut saat dirinya baru memasuki dapur selepas membeli beberapa cemilan dan melihat keceriaan kedua adik perempuannya bersama Shasa.
Senyuman yang begitu tulus terukir di wajah Shasa yang begitu cantik. Tak ada kesan yang menggambarkan dirinya jutek, terlihat lebih ... Memukau.
Segaris bibir melengkung tanpa disadari oleh Rafa begitu melihatnya. Namun semua itu langsung dihapus begitu bunda menepuk pundaknya dari belakang.
"kamu lama banget beli jajanannya. Mampir kemana dulu?" tanya bunda sembari berlalu meninggalkan Rafa dan memulai memeriksa beberapa makanan yang tersaji di meja.
Rafa mendengus pelan, "Joging sebentar, bun. Baru pulang" terang Rafa.
Ia pun meletakkan kantong hitam yang berisi kue jajanan diatas meja. Gieta mengambilnya dan memindahkan ke dalam piring untuk di hidangkan bersama makanan lainnya.
"khalid kemana, ya? Kok belum turun juga?" tanya Gieta yang menyadari bahwa Khalid masih belum berkumpul di bawah.
"iya, yah. Padahal dia paling rajin bangun terus ngaji habis subuh. Apa jangan-jangan lagi sakit?" Fitri terdiam sejenak, "aku cek dulu ke kamarnya" ujarnya kemudian.
Fitri berlari kecil menaiki tangga, "Hati-hati, Fit. Jangan lari!" Rafa mengingatkan dengan suara yang cukup keras.
"iyaaaa" teriaknya dengan keras.
Bunda, Gieta, Shasa dan Rafa mengambil posisi duduknya masing-masing, bersiap untuk menyantap sarapan pagi ini. Saat Shasa mengambil piring dan hendak menyendokkan nasi, ia dikejutkan dengan ucapan bunda yang menyuruhnya untuk mengambilkan makanan buat Rafa. Shasa sedikit malu akan hal ini karena ia terbiasa melayani dirinya sendiri.
"Mulai saat ini kamu yang melayani Rafa. Karena dia suamimu. Pelan-pelan nanti terbiasa" ujar bunda saat melihat reaksi Shasa yang begitu bingung.
Shasa mengangguk dan kemudian meraih piring yang ada di hadapan Rafa, sekilas ia melihat Rafa yang bergeming tanpa menoleh sedikitpun.
Dia ini kadang ramah, kadang dingin. Apa dia punya dua kepribadian? Pikir Shasa.
Saat tangannya menyendok nasi dengan takaran sesuka hati Shasa, dengan reflek Rafa menegurnya, "Jangan banyak-banyak. Aku gak biasa sarapan dengan porsi besar" ungkap Rafa.
Shasa pun mengurangi nasi yang tampak begitu banyak di piring tersebut. Mukanya tertunduk saat melihat seulas senyum di wajah Gieta yang duduk berseberangan dengannya. Malu.
"Terima kasih" ucap Rafa saat Shasa meletakkan piringnya dihadapan Rafa. Dan hanya anggukan yang Shasa tunjukkan.
"khalid badannya panas tinggi. Aku bawain makanan aja keatas buat dia" Fitri yang datang langsung mengambil piring dan makanan untuk khalid.
"Udah cek suhunya, Fit?" tanya Gieta.
"Belum. Tadi dia minta makan katanya lapar."
"Bawain air hangat, Fit. Buat kompres." Gieta mengingatkan, "sekalian sama paracetamol juga"
"Iya kak. Aku siapin."
"Biar aku deh yang siapin obatnya. Kamu siapin makanan buat Khalid aja." titah Gieta.
"iya" jawab Fitri.
"Bunda ke depan dulu ya. Mau telpon wali kelas Khalid dulu"
Bunda pun pergi ke arah teras menghubungi wali kelas Khalid untuk meminta ijin tidak mengikuti pelajaran.
Shasa menghembuskan nafasnya pelan, melepas rasa canggungnya disaat semuanya berkumpul.
"Aku nanti mau main keluar, boleh?" Shasa mencoba untuk memulai obrolan dengan Rafa. Namun, yang di ajak bicara tak mengubris sama sekali.
"Hey ... Aku lagi ngomong sama kamu!" Shasa menoleh ke arah Rafa yang masih tak merespon dirinya.
"Hmm"
"Aku nanti mau main keluar" ujar Shasa.
"iya"
"Kamu sariawan, ya?"
"Gak"
"Aku tuh lagi ngomong sama kamu"
"Ya, ngomong aja. Aku punya telinga buat denger" Rafa memulai makannya tanpa menghiraukan Shasa yang kesal atas sikap Rafa yang dingin.
"Heran. Gimana adek-adek kamu bisa sehangat itu sama aku, sementara kamu kayak gini" Shasa menggelengkan kepala, sungguh sifat Rafa ini membuatnya benar-benar jengkel.
Tiba-tiba menghangat dan tiba-tiba dingin. Apa dia punya dua kepribadian yang tak dilihatkan dihadapan keluarganya? Sungguh...
"Kok belum mulai makan, kak?" Gieta kembali bergabung di meja makan setelah mengurus Khalid yang tengah terbaring sakit di kamarnya.
"Kita nungguin yang lain, biar makan bareng-bareng" jawab Shasa.
"Kalau lapar ya makan duluan aja kak. Lihat tuh, bang Rafa aja makan duluan"
"Kamu makan juga dong sayang. Inikan rumah kamu" bunda yang selesai menelpon pun menghampiri meja makan. "Dan jangan tunggu siapa pun kalau sudah di meja makan. Apalagi situasi seperti ini, gak baik saling tunggu"
Shasa tersenyum miring merasa tak nyaman jika ia harus memulai makan duluan.
"I-iya bunda" jawabnya.
Bunda menepuk pelan lengan Rafa, "Kamu juga, sebgaia suami harusnya kasih tahu istrinya. Biar gak merasa asing di keluarga kita" tegur bunda.
"Hmm"
Hanya gelengan kepala yang bunda perlihatkan saat Rafa menanggapi teguran bunda dengan sikap yang begitu cuek. Seakan ia tak memiliki beban, toh, Shasa sendiri yang menyodorkan diri untuk menunggu mereka makan. Rafa tak mau disalahkan dan lebih memilih untuk diam saja.
*****
Sementara di rumah keluarga Shasa, kedua orang tuanya tengah berbincang hangat di ruang makan.
"Kira-kira Shasa bakalan betah gak ya, pa?" tanya mama.
"Doain aja, ma" jawab papa.
"Dia masih belum begitu terbiasa, pa. Mama takut dia macam-macam disana."
"Shasa gak akan macam-macam, dia tahu mana yang terbaik, ma."
Mama menghembuskan nafas pelan, mengeluarkan beban yang membuat hatinya gelisah.
"Shasa masih tertutup, Pa. Dia gak akan bisa membuka dirinya sebelum ia percaya dengan orang disekitarnya" terang mama.
"Mama tahu, kan. doa seorang ibu untuk anaknya pasti di ijabah sama Allah?" bunda pun menganggukkan kepala, pelan. "Sering-sering berdoa untuk anak kita, insya Allah dia akan berubah"
Sungguh, jauh di dalam lubuk hati kedua orang tua Shasa, menginginkan yang terbaik untuknya. Pilihan mereka sudah tepat, menikahkan Shasa dengan Rafa adalah tujuan mereka. Berharap Shasa akan mau melepaskan semua masa lalunya dan rasa bencinya yang begitu mendalam. Lebih dari apapun, kedua orang tua Shasa akan berharap lebih banyak lagi kepada Rafa untuk bisa merubah semua yang telah melekat dalam diri Shasa.
*****
Rafa mematut diri dihadapan cermin. Merapikan penampilannya yang sudah siap untuk pergi keluar. Setelah merasa cukup dengan hasil karya yang melekat pada dirinya, Rafa pun berbalik badan hendak mengambil ponsel dan tas kecil di atas nakas.
Langkahnya terhenti begitu mengingat sesuatu yang begitu penting. Apa perlu...
Belum sempat ia meraih benda tersebut, pintu terbuka dari luar. Tampak Shasa yang tengah masuk dengan raut wajah cemberut.
"Ekhem" Rafa berdehem saat Shasa tidak menyadari keberadaan Rafa didalam kamar.
"Ngapain kamu disini?" kalimat spontan itu keluar dari mulut Shasa yang terkejut dengan keberadaan Rafa.
"Ini kamarku, jadi aku ada disini" ungkap Rafa.
"Dan ini juga rumah kamu, kan?" ledek Shasa yang merasa jengah akan jawaban Rafa.
Rafa pun mengangguk.
Shasa menghembuskan nafas kasar, berjalan ke arah lemari. Langkahnya terhenti saat Rafa memanggil.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Rafa.
"Bicara aja, toh aku punya telinga untuk mendengarnya" kembali Shasa membalikkan apa yang telah dilakukan Rafa tadi.
Rafa meraih tas kecilnya yang berada di atas nakas dan merogohnya, mengambil dompet serta membukanya, mengambil benda pipih yang tersimpan rapi di dalamnya.
"Aku cuma punya ATM. Mungkin inj berguna untuk kamu. Pakai seperlunya aja. Tiap minggu saldonya akan selalu aku isi" Rafa menyodorkan benda pipih tersebut ke arah Shasa.
Ia tampak ragu untuk mengambilnya, apa maksudnya ia memberikan ATM tersebut?
"untuk apa?" tanya Shasa.
"ya buat kamu"
"tapi kenapa kamu kasih aku benda ini?" tanyanya lagi.
"sesuai dengan perjanjian sebelum nikah, aku akan nafkahin kamu. Dan ini buktinya. Bisa dibilang sebagai uang belanja untuk kamu" terang Rafa.
"yakin? Uang jajan aku aja gak cukup 10 juta, lho."
"mau cukup atau tidak, aku sanggupnya segitu" ujar Rafa sambil berlalu meninggalkan Shasa. Namun, saat di pintu langkahnya terhenti karena Shasa memanggilnya.
"Aku mau main keluar" Shasa ragu mengucapkannya namun kalimat tersebut lolos juga dari mulutnya.
"Silahkan"
Dan Rafa pun pergi meninggalkan Shasa dan melangkah keluar menuju rukonya.