
"Assalamu'alaikum, pa" sapa Rafa yang menghampiri sang mertua yang tengah duduk sembari meraih tangannya untuk salim dengan takzim.
"Wa'alaikumsalam, gimana perjalanannya? Lancar?" tanya pak Adam yang menyambut kedatangan menantunya.
Rafa tersenyum, "Alhamdulillah, pa. Jaraknya gak terlalu jauh. Papa lagi ngapain?"
"Biasa, duduk-duduk santai saja disini. Gimana Shasa? Apa dia nyusahin kamu?"
"Alhamdulillah gak, pa. Semua baik-baik aja"
"Papa harap Shasa gak akan macam-macam sama kamu" harap mertuanya.
"Mari kita masuk ke dalam. Mama kamu sudah masak banyak."
Hanya anggukan yang Rafa berikan seraya mengikuti langkah kaki mertuanya menuju ruang makan.
*****
"Kalian gak ada rencana pergi honeymoon?" mama membuka pembicaraan di tengah heningnya suasana makan siang ini. Shasa tak merespon dan matanya hanya tertuju pada makanan di piringnya.
Rafa menelan sisa makanan yang ada di mulutnya, "Belum, ma. Masih sibuk ngurusin toko."
"Materi jangan dicari mati-matian. Sudah ada takarannya masing-masing. Bahkan sebelum kamu dilahirkan" terang pak Adam, papa Shasa.
Rafa hanya mengangguk, tak ingin bicara banyak mengingat mertua nya belum tahu bagaimana pernikahan anaknya yang hanya membutuhkan status. Walau apa yang dikatakan oleh mertuanya adalah suatu kebenaran.
"Harusnya di usia kalian ini sudah mulai program hamil" tembak pak Adam. "Apalagi pengantin baru" lanjutnya.
"ekhem ... Rafa masih sibuk ngurusin toko, Pa. Gak mudah buat dia pergi-pergi gitu aja. Apalagi cuma dia yang bisa ngurusin pembelanjaan barang" terang shasa pada papanya.
Pak Adam tampak mengangguk mendengarkan penjelasan Shasa.
"Papa rasa selama Rafa libur 3 hari, itu semua bisa di handle dengan baik" sanggah pak Adam.
"menurut papa. Tapi menurut aku gak. Kasian kalau harus dilimpahin ke orang lain apalagi ke keluarganya."
"Dunia wirausaha itu gak seperti yang kamu pikirkan, Sha. Apalagi di jaman yang serba canggih saat ini. Cukup pakai jempol, oke deh" bela pak Adam.
"Lagian mama juga pengen cepet-cepet punya cucu, deh" mama pun ikut bersuara.
Uhuk uhuk uhuk
Rafa tersedak begitu mendengar ucapan mertuanya.
Apa tadi?
Cucu?
Oh nooo ...
Tidur seranjang saja tidak pernah. Bagaimana mau punya anak?
"Minum, nih" Shasa menyodorkan minuman kepada Rafa.
Rafa pun meneguknya, "Makasih" ucapnya.
Bagaimana bisa Shasa bisa sesantai ini di depan keluarganya. Sementara Rafa merasa canggung ketika pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mertuanya.
"Mama sama papa jangan bahas ini lagi. Aku gak mau. Dan pernikahan kita belum ada seminggu tapi mama sama papa udah banyak nuntut" Shasa tampak kesal dengan ucapan kedua orangtuanya namun ia masih bisa menahan emosinya.
Rafa melirik kearah Shasa, melihat bagaimana ekspresi wajahnya.
Saat Shasa membuka mulutnya hendak berbicara, Rafa sudah berbicara, "Insya Allah, pa, ma. Kalau Allah kasi kesempatan buat kita, itu pasti terwujud."
Hanya anggukan pelan yang direspon oleh Shasa. Sementara kedua orangtuanya tersenyum mendengarkan ucapan Rafa.
Pak Adam merasa berbangga hati memiliki menantu yang begitu tenang dalam menghadapi anaknya. Terlebih ia mengenal Rafa yang begitu memahami tentang agama dan ini menjadi poin utama baginya untuk menjadikan Rafa menantunya.
"ma, pa, saya duluan karena belum sholat. Takut kelewat waktu sholatnya" ijin Rafa yang mengakhiri makannya.
"oh iya silahkan"
"Sha" panggil pak Adam dengan lirih.
Shasa tak menoleh, tangannya sibuk mengayunkan sendok untuk memakan makanannya.
"Shasa" suara pak Adam mulai sedikit dikeraskan.
*****
"Kamarku disini" ucap Shasa yang tengah membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Makasih" gumam Rafa.
"Kamu boleh istirahat di kasurku. Dan gak perlu tidur di lantai" ujar Shasa.
Sebelah alis Rafa terangkat, "Maksudmu?"
"Jangan salah paham" Shasa tampak salah tingkah. "maksudku, kamu aja yang tidur di kasur. Aku bisa tidur disitu" Shasa menunjuk sofa yang berada dekat dengan jendela kamarnya.
Tak banyak bicara, Rafa hanya mengangguk dan beranjak ke kamar mandi sebelum melaksanakan sholat.
Berapa terkejutnya Shasa saat iaΒ menyadari suatu kesalahan. Kesalahan yang akan membuat dirinya malu dengan saat.
'astaga ... Lemariku berantakan. Gimana ini? Tenang, tenang, tenang. Selesai dia sholat, aku akan suruh dia ke bawah dulu. Ya, itu lebih baik'
"Kamu ngapain mondar mandir disitu?" suara Rafa berhasil mengejutkan Shasa yang tengah kebingungan.
Shasa mengerjap, "Aku ... A-aku cuma mau nungguin kamu" ucapnya asal.
Rafa mengernyit, "Nungguin ... Aku?" bingung, itulah yang terlihat dari wajah Rafa.
"Ah itu ... Aku nungguin kamu cuma buat kasih tahu arah kiblat. Kamu kan mau sholat. Aku takut kamu salah arah kiblatnya" terang Shasa yang tengah panik.
"Iya, aku gak tahu arah kiblatnya. Makasih" ucap Rafa dengan garis melengkung di bibirnya.
Shasa beranjak ke lemari membukanya dengan sedikit celah untuk mengambil sajadah. Ia pun membentangkan sajadahnya di salah satu sudut di kamar Shasa.
"Kamu bisa sholat disini." Shasa mempersilahkan Rafa untuk sholat dan beranjak pergi untuk melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
Sebelum melangkah keluar, Shasa berbalik dan memandang Rafa yang tengah memakai sarung, "Kalau sudah selesai, kamu langsung turun ke bawah."
"Iya"
Begitu keluar, Shasa tampak begitu heran. Mengapa Rafa tak seperti biasanya? Apakah moodnya lagi bagus? Terkesan lebih ramah dan ... Mudah mengucap terima kasih.
Sepertinya ada yang salah padanya. Sepertinya Rafa merencanakan sesuatu untuk mengerjainya. Ah, biarkan saja, dia tak akan berani macam-macam di rumah ini, rumah orangtua Shasa.
*****
Selesai melaksanakan kewajibannya menunaikan salah satu sholat lima waktu, Rafa memilih untuk bersandar sejenak di ranjang yang empuk milik Shasa. Badannya terasa sedikit lelah selama perjalanan tadi.
Kamar yang terbilang cukup luas untuk ukurannya, tertata barang yang begitu rapi. Warna biru terang dan warna abu-abu yang mewarnai tiap sudut kamar Shasa, membuat siapapun melihat menjadi lebih tenang.
Beberapa buku disusun berjejer diatas meja, ada novel yang mendominasi meja tersebut.
'sepertinya dia suka membaca novel.'
Mata Rafa tertuju pada sebuah bingkai dengan gambar seorang gadis yang dirangkul kedua orangtuanya. Rafa tak menyadari bibirnya membentuk segaris senyum begitu melihat foto tersebut.
'Dia cantik. Tapi kenapa dia bisa seperti saat ini, ya?'
Disamping foto tersebut ada sebuah buku agenda yang sampulnya indah dengan hiasan shabby. Perlahan tangan Rafa menyentuh buku tersebut, membuka bukunya perlahan.
Aku menghias cinta hingga terlihat indah dihatiku
Aku menanamnya dan tumbuh dengan merekah dihatiku
Hingga aku mengukir cinta sampai terlalu dalam
Dan akhirnya ...
Menyakitiku
Akhir kalimat berhasil membuat Rafa bertanya-tanya. Apa Shasa pernah terluka? Apa Shasa pernah mencintai seseorang?
Apakah selama ini Shasa tak pernah percaya akan cinta? Seperti apa kehidupannya sebelum menikah dengan Rafa?
Selama ini tak banyak yang Rafa tahu mengenai Shasa. Dan pilihannya untuk berkunjung ke rumah ini adalah untuk mengetahui tentang istrinya lebih banyak lagi.
Rafa mengernyit merasakan sakit dan sesak di dadanya. Perasaan apa ini?