Raffa in Love

Raffa in Love
Canggung



Shasa yang merasa kebingungan dengan situasi tersebut, memilih untuk membersihkan diri. Badannya terasa gerah dan lengket karena keringat.


Saat keluar dari kamar mandi, Shasa masih menunggu Rafa datang untuk tidur. Ia tak ingin seranjang dengan Rafa, mengingat ini bukanlah keinginannya. Lebih tepatnya pernikahan ini hanyalah syarat dan tidak melewati batasan.


Terlalu lama Shasa menunggu akhirnya, ia memilih untuk tidur terlebih dahulu. Badannya pun merasa lelah. Dan akhirnya, ia terlelap dalam mimpinya.


Rafa membuka pintu perlahan sambil menyembulkan wajahnya sedikit dibalik pintu. Memeriksa apakah Shasa sudah tidur atau belum. Saat matanya tertuju ke arah ranjang dan melihat Shasa yang tidur dengan nyenyak, ia pun masuk sambil mengendap.


Syukurlah dia sudah tidur, jika tidak dia akan terus memperdebatkan dimana akan tidur. Daripada harus ribut di rumah sendiri, lebih baik mengalah, batin Rafa.


Ia beranjak mengambil bedcover di lemari dan membentangkannya di lantai di sebelah ranjangnya. Sekilas ia melirik ranjang yang biasa ia tiduri dan menghilang nafas berat.


Kayaknya memang harus kompromi dulu biar bisa tidur enak, gumamnya.


Dan Rafa pun membayangkan badannya di lantai yang sudah di alasnya tadi. Perlahan matanya pun terpejam.


*****


Shasa mengerjap perlahan saat matanya menangkap sesuatu yang berantakan di samping tempat tidurnya. Selimut, bed cover dan bantal yang tampak berserakan di lantai seperti habis dipakai.


Siapa yang melakukan ini? Apa ada yang menyelinap masuk?


Bersamaan dengan itu, suara pintu kamar terbuka. Rafa masuk dan menyapa Shasa yang masih kebingungan.


"kamu dari mana?" tanya Shasa.


"habis sholat di mesjid ujung rumah" jawab Rafa.


"semalam kamu tidur dimana?" tanyanya lagi.


"aku tidur disitu" jari telunjuk Rafa menunjuk ke arah lantai yang masih berantakan dengan selimut dan bed cover sebagai alasnya.


Shasa melongo mendengar ucapan Rafa, "kenapa kamu tidur disitu?"


"aku mau bantuin bunda bersihin rumah" Rafa mengalihkan pertanyaan Shasa sembari meraih baju ganti dan membawanya ke kamar mandi.


Begitu selesai mengganti baju, Rafa keluar dan meninggalkan Shasa yang masih kebingungan.


Kenapa dia menghindar? Inikan rumahnya, kenapa dia takut? Dan Apa-apaan ini? Dia yang tidur dibawah, kenapa harus aku yang merapikannya? Dasar cowok aneh. Gerutu Shasa.


Shasa pun beranjak dari tempat tidur dan merapikannya bersama selimut yang tergeletak dibawah selepas dikenakan oleh Rafa. Begitu rapi, ia pun menuju kamar mandi membersihkan diri.


Shasa tertegun begitu melihat sesuatu di atas ranjang begitu ia selesai mandi. Ada mukena dan sajadah yang sepertinya baru di beli. Apa ini Rafa yang menyiapkannya?


Rasanya aneh ketika ia harus melaksanakan kembali kewajiban tersebut. Mengingat ia sudah jauh meninggalkan sang Pencipta. Untuk bacaanpun Shasa masih sangat kesulitan. Seakan lafaz bacaannya tak melekat dalam ingatannya.


Shasa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mungkin ini salah satu hidayah yang Allah berikan kepadanya. Tapi apa dia bisa?


Dengan langkah ragu Shasa pun melangkahkan kakinya. Meraih mukena dan sajadah dibentangkan dengan rapi.


Semoga aku gak salah dalam bacaannya, bisik Shasa.


*****


Rafa menyusuri tiap jenjang tangga. Kakinya melangkah dengan perlahan. Fajar belum begitu menjelang, Rafa memilih untuk berlari-lari kecil di luar rumah sekitar komplek sembari melihat beberapa pedagang makanan ringan yang berada di pinggir jalan.


Saat ia berada di ujung tangga terdengar suara yang begitu familiar di telinganya.


"mau keluar sebentar, Bun. Cari kue atau snack buat cemilan pagi" terang Rafa.


"istri kamu?" selisih bunda.


"dia lagi sholat" ucap Rafa seraya berlalu meninggalkan bunda.


Begitu keluar dari rumah, Rafa pun berjalan dengan santainya menikmati udara yang masih begitu segar. Tangannya bergerak berputar-putar seperti orang yang sedang melakukan peregangan.


Tak begitu ramai orang yang berlalu lelang pagi ini, suasana komplek perumahan yang asri dan terlihat adem membuat para penghuninya masih betah berada di peraduannya.


Begitu tiba di ujung jalan perumahan, pandangan Rafa mencari keberadaan para pedagang yang biasa menjajakan dagangannya di pinggir jalan.


Tak jauh dari tempat Rafa berdiri, terlihat seorang ibu yang duduk di trotoar jalan dengan memangku dagangannya, seperti kue tradisional yang sering Rafa makan.


Ia pun menghampiri dan membeli dagangan ibu tersebut. Hatinya tergerak untuk membeli dagangan ibu tersebut, terlepas enak atau tidak semua kembali kepada diri masing-masing, ia hanya berniat membantu sang ibu agar tak lelah berkeliling jauh menjajakan makanan. Setidaknya dengan Rafa membeli jajanan tersebut bisa memangkas rute keliling yang akan ditempuh.


*****


Shasa berjalan menuruni anak tangga setelah melaksanakan rutinitas bangun tidurnya. Ia sempat menunaikan sholatnya dan mandi tanpa terburu-buru.


Dibawah tangga tak terlihat penghuni rumah yang telah lama menempati rumah ini. Pandangannya menyusuri tiap sudut ruang, terdengar suara yang begitu ramai di arah dapur. Shasa pun melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Pagi, kak" sapa Fitri yang tengah menata beberapa makanan di atas meja.


"Pagi" jawab Shasa dengan senyuman hangat. "Lagi ngapain, nih?" tanya Shasa.


"kita lagi siapin sarapan, kak" Gieta yang tengah mencuci piring pun dengan sukarela menjawab pertanyaan Shasa.


"kalian bangun jam berapa? Kok jam segini sudah selesai semua?" Shasa tak dapat menahan rasa penasarannya begitu melihat kegiatan adik-adik Rafa yang begitu gesit.


"jam 4, kak. Kan subuh dulu, baru kita ngerjain tugas kita masing-masing" terang Gieta.


Shasa mangut-mangut begitu mendengar penjelasan dari Gieta.


Keluarga yang kompak. Sepertinya mereka sudah terbiasa melakukan hal seperti ini setiap hari. Tapi kemana Rafa? Apa dia ada di teras? Pikir Shasa dalam hati.


"Em ... Itu ... Bunda kemana?" tanya Shasa yang sedikit ragu. Sebenarnya hendak menanyakan Rafa tapi rasa gengsinya cukup tinggi untuk menanyakan keberadaan cowok super cuek seperti Rafa.


"Kakak, nyari bunda atau bang Rafa? Masa penganten baru nyari mertua?" goda Fitri yang berhasil membuat Shasa salah tingkah.


"ekhm ... Kalian di dapur cuma berdua. Biasanya selalu ada bunda di dapur. Tumben?" jelas Shasa yang mengalihkan godaan Fitri padanya.


"Bunda lagi di kamar, kak. Tadi habis bantuin disini juga kok" ungkap Gieta.


"Aku bantuin, ya" Shasa membantu Fitri yang tengah mengambil peralatan makan yang terpajang di rak piring.


"Terima kasih, kak"


Shasa hanya membalas dengan senyuman. Dan aktifitas merekapun berjalan dengan begitu menyenangkan.


Shasa tak dapat menghentikan senyuman dan bunga bahagia dalam hatinya. Selama ini, ia hanya membutuhkan keluarga dekat yang selalu ada untuknya.


Kini ia bisa memiliki keluarga tersebut dari keluarga Rafa. Namun, jauh disudut hatinya masih tersimpan rasa takut akan harapannya tersebut.