
Rafa tengah mengemudikan mobilnya selepas keluar dari pelataran parkir hotel. Disampingnya telah duduk Shasa dengan wajah yang sedikit tak nyaman sambil memandang ke arah luar jendela mobil. Memerhatikan pemandangan jalanan yang ia lalui.
Semalam khalid sudah meninggalkan kunci mobil untuk abangnya yang dititipkan di resepsionis. Mengingat bahwa abangnya pasti akan membutuhkan mobil tersebut untuk mempermudah membawa beberapa barang bawaan milik kakak iparnya. Ya, Shasa akan tinggal dirumah keluarga Rafa sebelum memilih mandiri.
Rafa belum memiliki rumah yang akan ia tempati bersama Shasa. Karena Rafa berpikir lebih baik Shasa tinggal bersama keluarganya dengan begitu bisa meminimalisir pertengkaran yang ada.
Mungkin dengan tinggal bersama dengan keluarganya, Shasa akan mulai beradaptasi dan Rafa pun akan mulai belajar membuka hatinya.
Saat Rafa memberitahukan perihal tempat tinggal mereka, Shasa tak dapat menahan rasa kagetnya yang luar biasa. Kenapa ia harus tinggal serumah dengan keluarganya juga?
Huft...
Pasti keluarganya akan mendukung Rafa karena yang Shasa tahu dari orang-orang, tak banyak ipar ataupun mertua yang bisa akur dengan istri jika tinggal serumah. Semoga itu hanya omong kosong belaka, harap Shasa.
"kita udah sampai" ucap Rafa yang menghentikan mobilnya disalah satu rumah yang sudah di datangi Shasa beberapa kali.
"kamu masuk aja ke dalam. Biar aku yang bawa barang-barangmu" ujarnya kemudian.
"terima kasih"
Shasa pun turun dari mobil dan melangkah menuju rumah. Terlihat pintu yang terbuka, sepertinya ada tamu yang berkunjung.
"assalamu'alaikum" sapa Shasa saat dirinya berada di depan pintu.
"wa'alaikumsalam. Alhamdulillah akhirnya kamu datang juga sayang. Mana Rafa?" tanya bunda yang menghampiri Shasa di pintu dan mengajak masuk ke dalam.
"ada tante. Lagi angkat barang dulu"
"kok tante sih? Bun...da" tegas bunda Rafa. "jangan panggil tante. Sekarang kamu anak bunda" sambungnya seraya menoel gemas ujung hidung Shasa yang bangir.
"I-iya bunda. Hehehe" gugup Shasa yang merespon keakraban mertuanya tersebut.
"yuk kita kumpul di ruang makan. Kamu belum makan, kan?" bunda membawa Shasa ke salah satu ruangan yang menjadi tempat favorite keluarga tersebut, bercengkrama di meja makan.
Di atasnya telah tersaji banyak makanan yang terlihat menggugah selera.
Padahal aku tadi udah makan tapi lihat makanan disini rasanya aku lapar lagi, gumam Shasa.
"yang lain kemana bunda?" tanya Shasa yang merasa suasana rumah sangat begitu sepi tak seperti saat pertama kali ia datang.
"mereka di kamarnya masing-masing. Paling bentar lagi juga turun deh" jelas bunda. "kita makan duluan aja ya."
"aku tunggu Rafa aja, bunda" tolak Shasa dengan ramah.
"ya udah. Kamu tunggu disini. Bunda panggil yang lain dulu."
Bunda pun beranjak meninggalkan Shasa sendiri di meja.
Selepas ditinggal bunda, Shasa pun duduk dan memerhatikan setiap sudut ruang makan tersebut. Tak banyak pajangan yang terpajang, hanya beberapa wajan dan panci beserta spatula yang tergantung sebagai pemanis di sisi kompor.
Dapur yang terlihat begitu nyaman dengan cat yang menempel di dinding serta perabotan yang ada tak begitu banyak. Shasa melihat ruangan tersebut sebagai ruang akrab keluarga. Tanpa ia sadari bibirnya melengkung merasakan kenyamanan dari luar.
"kenapa gak makan?" tanya Rafa yang menarik Shasa dari pikirannya tentang rumah ini.
"nungguin yang lain dulu" ucap Shasa.
Rafa berjalan ke arah Shasa, "bunda kemana?" tanyanya lagi sambil duduk disamping Shasa.
"gak tahu" cuek Shasa yang mulai enggan merespon Rafa dengan bawelnya.
Terdengar suara langkah kaki yang begitu ramai mendekati ruang makan. Satu per satu keluarga Rafa hadir di ruang makan dan duduk disana.
Adik-adik Rafa satu per satu menghampiri Shasa dan mencium tangan takzim sebagai tanda hormat mereka kepada kakak iparnya.
"paling juga bang Rafa yang jahat sama kak Shasa. Ya, kan?" sambung Gieta yang duduk disebelah Fitri.
Shasa meringis mendengar ucapan kedua adik perempuan Rafa. Sekilas Shasa menganggap itu sebagai perhatian yang tulus dari keluarga suaminya.
"bang Rafa gak sekejam itu juga, kok. Dia baik, kak," bela Khalid yang duduk di ujung meja. "mereka berdua aja, nih yang suka bully, bang Rafa" ujar Khalid.
Rafa mengacungkan dua jempol untuk khalid, "thank you, my bro. Adek paling the best" puji Rafa.
"halah, paling juga dia ada modusnya muji bang Rafa" cibir Fitri.
"good idea, kak" ucap Khalid dengan menaikturunkan alis sambil senyum penuh manja dihadapan kakaknya.
"emang gak asik nih kalian," Rafa meraih sebuah piring yang berada disampingnya. "aku makan. Udah lapar, nih."
"tungguin bunda dulu, bang. Tadi dia masih ngobrol di telpon"
Tak lama bunda pun datang menghampiri.
"kok belum makan? Ayo makan, kasian kakak kalian nungguin lama" ujar bunda yang langsung duduk di ujung meja berseberangan dengan Khalid dan di samping Rafa.
"makan yang banyak ya, Sha. Kamu harus punya banyak tenaga untuk menghadapi adik-adiknya Rafa. Mereka kalau ngebully gak pernah nanggung" bilik bunda namun masih terdengar oleh anak-anaknya yang lain.
"gak pa-pa, bunda. Aku senang bisa kumpul seperti ini" tampak benar mata Shasa merespon keakraban keluarga ini. Sungguh terasa hangat.
Sama seperti yang temannya dulu katakan, "kamu itu anak tunggal, pasti gak akan tahu gimana serunya punya adik atau kakak."
Perkataan itulah yang membuat Shasa selalu memimpikan hal yang tidak mungkin ia dapatkan.
Seakan bisa membaca apa yang Shasa pikirkan, bunda berkata "pasti kamu kesepian dirumah, ya?" senyum hangat bunda terlihat tulus pada Shasa.
Shasa membalas senyuman itu dengan senyum yang dipaksakan.
"Jangan kaget, ya, disini selalu ramai kalau kumpul semua." terang bunda yang mulai melahap makanannya dengan sendok.
"emangnya kita gak pernah kumpul dirumah gitu, sampai-sampai bunda bilang gitu?" Gieta yang protes karena merasa tersindir oleh ucapan sang bunda.
"kamu, kan selalu pulang telat dan selalu sibuk sama kerjaan. Apalagi kalau pasien membludak, kamu bisa tengah malam sampai dirumah"
"kan gak tiap hari bundaaaa" Gieta mengerucutkan bibirnya.
"dan dia juga kadang gak pulang ke rumah, selalu tidur di ruko" bunda menunjuk Rafa.
"ekheeem... Kita lagi makan. Nanti aja protesnya" balas Rafa dengan dingin.
Dan kembali semua terdiam begitu Rafa mengingatkan.
Sepertinya Shasa akan betah disini. Keluarga yang saling dekat satu sama lain. Tak ada kesan yang menuntut dihari pertamanya datang sebagai istri.
Selesai dan rutinitas makan bersama keluarga, Shasa memilih beranjak pergi menuju kamar Rafa untuk mengemas barang-barang nya.
"semua barang-barang kamu sudah aku bawa" ucap Rafa saat membukakan pintu kamar. "dan ini kamarku" tunjuknya.
"ini lemari pakaian kamu, dan kamu bisa masukin semua peralatanmu juga disitu" terang Rafa ketika Shasa melihat setiap sudut kamarnya.
"aku tinggal dulu" ucapnya lagi, "kalau kamu capek, tidur aja duluan. Gak usah nungguin aku"
Shasa hanya mengangguk dan membiarkan Rafa pergi meninggalkannya. Matanya sibuk meneliti kamar yang tak terlalu buruk untuknya. Bisa dibilang kamarnya bagus, luas, nyaman dan... Wangi.
Pintu yang tadinya terbuka kini ia tutup rapat. Meraih tas dan koper yang berisi baju kemudian merapikannya di lemari. Tiba-tiba saja Shasa mengingat sesuatu.
Kamar ini hanya ada lemari dan kasur. Tak ada sofa seperti dikamarnya. Itu berarti ia harus...???