Raffa in Love

Raffa in Love
Curiga?



"Kak Shasa, kenapa? Lagi sakit?" tanya Gieta yang sedari tadi memperhatikannya. Semua mata tertuju padanya seakan khawatir begitu mendengar ucapan Gieta. Maklum, Gieta adalah seorang dokter setidaknya ia tahu kondisi orang yang tengah mengalami sakit.


Shasa menggeleng, "Gak kok. Aku baik-baik saja. Cuma sedikit malu dan rindu rumah" bohong Shasa dengan mengepalkan tangannya yang berada dibawah meja.


"Kakak kalau rindu rumah, tinggal bilang saja sama bang Rafa dan bunda, pasti di ijinin. Dan bang Rafa pasti nganterin" terang Fitri yang sedang menyendok makanannya, menambah porsi makannya.


"Kapan-kapan kita sekeluarga silaturahmi ke rumah Shasa. Besok juga boleh. Biar mama dan papanya gak sedih kalau anak gadisnya menetap tinggal disini" bunda pun ikut menghibur Shasa.


Hanya senyuman dengan sedikit anggukan yang bisa Shasa balas. Ia tak ingin semua orang tahu akan permasalahannya.


"Besok. Besok kita ke rumah orangtua Shasa." Rafa berkata tanpa menoleh. Ia tahu jika Shasa pasti rindu rumah tapi ia juga yakin kalau gadis ini gak akan serindu itu dengan keluarganya. Lebih tepatnya Rafa tahu jika Shasa sedang ada masalah.


Shasa mengerjap memerhatikan Rafa seakan tidak percaya, "Kamu serius? Baru kali ini loh, kamu mau ajak aku keluar. Biasanya cuek."


Rafa mengernyit, "Biasanya?"


"iya" jawab Shasa dengan cuek.


"Ngomong-ngomong, kita baru dua hari jadi suami istri" Rafa mengingatkan.


Shasa berdehem, "Sebelum nikahkan kita sering ketemu bahkan gak pernah ada obrolan panjang" sindir Shasa.


"Wah wah wah ... " Fitri mengeleng kepala, "Aku baru tahu kalau abangku sedingin itu" ledeknya.


"Dia masih normal, Fit. Buktinya dia mau nikah" sindir Gieta yang duduk disebelah Fitri.


"Kalian ini, bukannya makan malah ngeledekin abang sendiri" bunda menengahi obrolan Gieta dan Fitri yang terus menerus menyindir abangnya.


"Gak apa-apa bunda. Biarkan mereka begini. Aku suka"


"Kamu suka tapi suamimu gak suka" tunjuk bunda sembari melirik ke arah Rafa. "Tuh, bahkan dia gak bicara lagi. Malah diam saja."


Kedua adiknya tersenyum menang melihat abangnya yang diam tanpa mengubris ledekan adik-adiknya.


"Eh ... Kamu udah antar makanan untuk Khalid?" tanya bunda pada Fitri.


"Belum Bunda. Biar aku aja yang anterin, sekalian periksa suhu tubuhnya" ujar Gieta menawarkan dirinya.


"Usahakan makanannya dihabisin. Soalnya siang tadi dia cuma makan sedikit" titah bunda pada Gieta.


"Tuh anak kalau sakit bener-bener ngerepotin" keluh Fitri.


"Orang sakit mana ada yang berselera makan, Fit" timpal Gieta.


"Setidaknya dia harus berusaha sembuh kan, sebentar lagi dia mau ujian kelulusan" Fitri mengingatkan.


"Kamu udah bawa obat buat Khalid?" tanya bunda.


"Udah, bun. Tadi aku minta obatnya sama Tiara di klinik."


Rafa melirik Shasa sekilas. Tampak tak begitu bersemangat. Seolah-olah makanan yang ada di depannya bukanlah makanan tapi seperti kertas gang di coret-coret. Lebih tepatnya Shasa hanya mengacak-acak makanannya dan menyuapkannya sedikit ke dalam mulut.


Kenapa dia? Apa sesuatu terjadi dirumah ini? Apa bunda dan adik-adiknya memperlakukannya dengan tidak baik? Rafa harus cari tahu tentang semua itu.


*****


Halaman belakang rumah yang dihuni oleh keluarga Rafa tampak begitu asri, ada bangku panjang yang menjadi tempat santai menikmati malam.


Malam ini cukup indah, banyak bintang yang bertaburan menghiasi gelapnya langit malam. Shasa duduk termenung memandangi bulan yang tersenyum memandangnya. Pikirannya berkelana ke masa saat dimana ia baru kenal dengan sahabatnya, Elma.


"Hey, jangan main keroyokan dong! Beraninya keroyokan. Maju satu-satu kalo berani!" teriak seorang gadis yang datang dari ujung lorong menghampiri kerumunan anak-anak sekolah yang tengah memberi pelajaran kepada salah seorang murid.


"Nantangin lo? Ayok sini." ujar cewek berambut panjang dan memakai aksesoris gelang berwarna hitam yang cukup banyak. Dengan angkuhnya ia maju dan mendorong bahu gadis tersebut.


"Kenapa lo? Gak suka? Mau sok jadi pahlawan?" ucapnya.


"Sok-sok an nantangin. Punya nyali lo? Hah?" temannya yang lain ikut menimpali.


"Gue gak takut sama, lo! Mau dimana? Disini? Atau diluar, hah?" ancam balik gadis tersebut.


"Berani juga lo sama gue, belum tahu gimana rasanya dapat pelajaran dari gue"


"Jelas gue berani karena gue gak main keroyokan kayak elo!" bentak gadis tersebut dengan mendorong bahu lawannya, sepertinya dia ketua geng para cewek-cewek yang sok jago ini. "Lepasin temen gue atau kalian semua gue laporin ke kepala sekolah dan polisi" ancamnya lagi.


Salah seorang temannya datang menghampiri dan menyentuh bahu temannya sambil berbisik. Memberitahukan sesuatu yang menurutnya penting untuk diketahui oleh temannya.


"oh ... Jadi elo yang namanya Shasa? Kerabat dari pemilik sekolah ini?" tanya gadis itu dengan melipat tangan ke dada.


"Baru tahu lo?"


"Well, ini kesempatan kita bikin dia hancur"


"Yang ada lo yang hancur di depan gue"


"Cabut guys, ilang nafsu gue buat ngabisin nih anak. Apalagi anak manja"


Shasa menyeringai licik. Merasa berhasil menyingkirkan mereka yang hendak menyiksa temannya.


Ia tak punya teman dekat tapi ia juga tak sanggup melihat beberapa temannya yang selalu di bully. Seperti saat ini, yang dengan gemasnya Shasa menghentikan aksi bully terhadap salah satu murid di sekolah ini.


"Lain kali, kalau ada yang macam-macam sama kamu, jangan diam aja. Lawan dengan sekuat tenaga" ucap Shasa begitu mereka pergi dan hanya berdua dengan temannya tersebut.


"Aku gak bisa lawan karena aku gak bisa bela diri." Dengan tangan yang sedikit gemetar merapikan pakaiannya, "Terima kasih udah nolongin aku."


"Setidaknya lo bisa lawan mereka pake kata-kata pedas. Gak buang tenaga, kan?" ucap Shasa sambil mengangkat bahu.


"Siapa namamu?" tanya Shasa.


"Elma" seraya mengulurkan tangan dihadapan Shasa.


"Shasa" menyambut uluran tangannya seraya berbalik dan melangkah meninggalkan gadis itu sendiri.


"Shasa!" teriaknya yang menghentikan langkah kaki Shasa. "Lain kali aku traktir kamu di kantin."


Shasa mengayunkan tangannya ke atas menunjukkan bahwa ia tak perlu repot untuk membalas budinya.


Sekelebat kenangan itu berhasil menghadirkan senyuman mirip dalam wajah Shasa yang terbingkai dengan indah. Momen itu jadi momen yang sangat di ingat oleh Shasa. Dan itu tak akan mudah ia lupakan meskipun luka yang ditorehkan begitu dalam.


"Kamu gak dingin malam-malam duduk disini?"


Seseorang mengagetkan Shasa dengan suara yang tegas dan sebuah suguhan coklat panas di hadapannya. Rafa memberikan itu untuknya dan berhasil menarik Shasa dari lamunan masa lalunya.


"Kamu belum tidur?" tanya Shasa balik.


"Aku belum ngantuk."


Shasa mengangguk, "Makasih coklatnya" gumamnya lirih. Berharap Rafa tak mendengarkan ucapannya.


"Kamu lagi ada masalah?"


Shasa mengerjap dan beralih memandang Rafa dengan tatapan terkejut.


"Jangan kaget. Aku udah tahu kamu lagi ada masalah" ucap Rafa yang sadar dengan tatapan Shasa, namun ia enggan untuk menoleh dan berbalik memandangnya.


"Aku cuma ingatkan kamu. Kita nikah bukan berarti menjalin hubungan dua orang saja tapi menjalin hubungan dua keluarga"


Shasa mengernyit mencerna perkataan Rafa.


"Kalau kamu ada masalah sama keluargaku, lebih baik kamu bicarakan lebih dulu sama aku. Biar aku selesaikan dengan cara yang baik."


Shasa semakin tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Rafa. Kemana arah pembicaraannya. Apa dia mencoba menjadi seorang paranormal?


Rafa bangkit dari duduknya, "Dan besok aku mau ajak kamu berkunjung ke rumah orang tuamu. Dan jangan lama-lama duduk diluar sini. Angin malam gak baik untuk badanmu." Dan Rafa pun berlalu meninggalkan Shasa sendiri.


Dan apa tadi?


Dia mengajak Shasa?


Apa hanya di depan keluarganya dia seperti ini?


Dan bahkan sebelumnya ia sempat mencurigai Shasa jika dirinya melakukan hal buruk terhadap keluarganya. Lelaki ini benar-benar menguras pikirannya.


Shasa harus menyelidiki pribadi Rafa yang selalu berubah-ubah.