Raffa in Love

Raffa in Love
Teror dari Gieta dan Fitri



Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Rafa tiba di ruko miliknya setelah menembus kemacetan jalanan yang dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk dengan aktifitas pagi. Rafa memarkirkan sepeda motor matik di sisi ruko, turun dan berjalan menuju ruko yang telah dibuka oleh pegawainya.


Baru beberapa langkah Rafa berjalan masuk dalam ruko, ponsel disaku celana jeans berwarna navy yang dikenakannya berbunyi tanda pesan masuk.


Gieta


Jangan lupa ya, bang. Deadline kakak ipar untukku 😄


Rafa tak membalas pesan dari aplikasi bergambar telpon berwarna hijau. Membacanya saja sudah membuat matanya sakit. Apalagi yang direncanakan adiknya sekarang? Seakan banyak cara yang harus dia hadapi.


Mengabaikan pesan dari Gieta, ia pun beranjak menuju meja yang berada di pojok kanan. Disana sudah terletak enam buah kardus besar dan empat karung yang berisikan sepatu beserta sendal yang telah ia pesan dari agen.


Bagus dan Luna, pegawai di ruko milik Rafa, sedang sibuk membersihkan dan menata ulang barang pajangan yang terlihat sedikit berlebihan dan berantakan. Seperti biasa, sebelum mereka menukar tanda open yang bergantung dipintu masuk, lantai dan barang sudah bersih dan rapi.


Rafa memanggil Bagus sebelum membuka dan mengecek barang yang datang, "Rasyid udah datang?" tanya Rafa. "udah, bang. Dia ada di atas, lagi balas chat di marketplace," terang Bagus.


Di ruko ini, Rafa memiliki tiga orang pegawai. Rasyid yang bekerja untuk mempromosikan semua produk di toko melalui sosial media dan beberapa aplikasi marketplace. Serta dua orang, Bagus dan Luna, yang bertugas melayani pembeli secara langsung.


"coba tolong panggilkan kesini," titah Rafa dengan sopan.


"iya, bang." dengan langkah cepat Bagus naik ke atas menghampiri Rasyid yang tengah duduk di depan layar monitor, mengajaknya turun kebawah untuk menemui bosnya.


Setibanya Rasyid dibawah, Bagus meninggalkannya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti sejenak. Rasyid menghampiri Rafa yang tengah membuka kardus dihadapannya.


"gimana penjualan kemarin, syid? Ada berapa barang yang keluar?" tanya Rafa yang mengeluarkan beberapa barang sambil mengecek nota belanja nya. Sesekali ia menghitung jumlah barang yang tersedia.


"alhamdulillah, bang. Tinggal dikirim barangnya. Semalam udah di packing" jelas Rasyid yang ikut membantu membuka beberapa kardus dan karung yang tergeletak.


Rafa mulai menegakkan badannya, kembali mengecek barang dan mencocokkan dengan nota belanja. "kamu ambil sampel dari masing-masing model buat update produk baru di marketplace ya," Rafa menjeda omongannya sambil membuka lembaran kedua nota belanja, "nanti jangan lupa hubungi ruko cabang, apa barangnya udah sampai atau belum," sambungnya.


Dengan mengangguk Rasyid menjawab "iya, bang."


"ya udah. Ini nota belanjanya. Kamu cek lagi ya. Jangan sampai barang reject gak kelacak."


"iya, bang. Siap," Rasyid pun mengambil alih pekerjaan Rafa dan mengecek dengan detail setiap barang, memisahkan beberapa untuk difoto kemudian menguploadnya di media sosial dan marketplace.


Ketika hendak duduk, gawai disaku celana Rafa berbunyi kembali. Ia membuka pesan masuk dari Fitri.


Fitri


Silahkan dipilih abang ku, sayang...


😘😘😘


Tak lama setelah membaca pesan tersebut, satu per satu foto masuk ke dalam gawainya.


Rafa menghapus semua foto yang dikirim Fitri. Menghindari tindakan dosa matanya yang berakibat fokus dirinya dalam bekerja.


Sementara Luna sudah memutar pajangan kecil yang menggantung di pintu masuk dari tanda close menjadi open. Bagus bergegas menata barang-barang yang sedikit acak dan membersihkan cermin yang dipakai pengunjung untuk melihat penampilan mereka ketika memakai barang di toko ini.


Rafa yang mulai sibuk di mejanya, membuka buku laporan keuangan yang ada di atas meja. Menghitung semua pemasukan yang ia terima dari ketiga ruko yang ia kelola secara langsung. Sementara laporan pemasukan secara online, ia tugaskan kepada Fitri, adiknya, alih-alih mencegah Fitri dari ke-alay-an dalam bersosial media.


"Selamat datang, kak. Silahkan dipilih barangnya. Siapa tahu ada yang minat." Luna dengan ramah menyapa tiga orang pengunjung yang baru masuk ke dalam toko.


"mau lihat-lihat dulu, boleh?" tanya salah satu pengunjung yang masih belia. Dari penampilannya tampak seperti mahasiswa.


"boleh banget, kak. Gratis kok. Gak bayar." senyum tulus Luna terlihat meruntuhkan keraguan pengunjung yang baru masuk sambil melihat beberapa sepatu dipajangan. Rafa yang duduk di mejanya hanya melirik sekilas dan kembali fokus dengan laporan ditangannya.


"Gus, coba sini sebentar," titah Rafa.


"iya, bang. Kenapa?" Bagus yang telah selesai merapikan kerjanya, datang menghampiri Rafa.


"stok tas sekolah sama tas import nya masih banyak gak?" tanya Rafa.


"kalo disini masih banyak stoknya, bang. Kalo di ruko yang lain setahu saya tinggal tas sekolah aja, tas import nya udah kosong." urai Bagus pada Rafa.


"tolong catat, apa aja yang kosong. Besok saya mau belanja lagi" Rafa mengambil buku didalam laci dan menyerahkannya dihadapan Bagus.


Bagus duduk disamping Rafa dan mulai menulis beberapa stok barang yang kosong dibeberapa ruko milik Rafa. Sesekali, ia berdiri mengecek pajangan yang terlihat kosong. Saat Bagus tengah sibuk dengan kerjanya, Luna dengan wajah cemberut datang menghampiri, bibirnya yang tampak manyun terlihat menggemaskan dimata Bagus.


"kenapa? Baru buka udah bete," tanya Rafa


"gak jadi beli orangnya, bang. CLBK mereka," jawab Luna


Rafa mengenai seketika mendengar jawaban Luna, "lain kali, kalau ada yang beli tapi pacaran disini, lebih baik di usir aja. Mengganggu dagangan orang" ketus Rafa.


Luna dan Bagus saling pandang, kemudian tersenyum lepas.


"emang abang tahu apa itu CLBK?" Luna tampak merayu bosnya yang terlihat begitu kudetnya.


Luna mulai terbahak mendengar ucapan bosnya. "ini efek kelamaan jomblo jadi begini, nih. Sensitif sama istilah yang salah arti," kilah Bagus disela tawa Luna.


"CLBK itu, cuma lihat, beli kagak" jelas Bagus.


Rafa yang baru tahu artinya merasa malu karna kesombongnya tadi. Mau ditaruh dimana mukanya disaat para pegawainya membully dirinya.


"begini, nih, efek kelamaan jomblo. Gak tau istilah para pedagang" Luna tak henti menggoda bosnya yang hanya diam saja.


Saat Rafa hendak membalas ledekan Luna, ponsel disaku celana Rafa berbunyi lembali tanda pesan masuk.


Gieta


Abang mau yang mana? Segera putuskan ya. Aku tunggu.


Rafa tampak mengeram kesal setelah Gieta mengirim beberapa buah foto wanita dewasa. Kenapa adik-adiknya selalu saja membuat surprise yang dapat mengacaukan pikirannya.


Usaha untuk memaksanya menikah seakan tidak bisa berhenti begitu saja. Sekilas Rafa melihat jam ditangan, menunjukkan hari sudah memasuki waktu sholat dhuhur. Bergegas ia melangkahkan kakinya menuju mushola terdekat untuk menunaikan sholat. Sebelum keluar, Rafa masih sempat menanyakan kepada pegawainya, "mau makan siang apa hari ini?"


"apa aja deh bang, yang penting makan. Iya gak, na?" Luna mengangguk menyetujui saran Bagus.


"coba tanyain Rasyid mau makan apa dia siang ini?"


"woooiii... Aciiiid, makan siang apa lo hari ini? Si bos mau pergi tu," teriak Bagus dari bawah yang terdengar hingga keatas.


"samain ajaaaa" teriakan rasyid tak kalah nyaring dari Bagus yang terdengar hingga ke pintu keluar.


Rafa pun berjalan keluar menuju parkiran mengambil sepeda motornya dan pergi menuju mushola sekitar ruko.


----------------------


Rafa tak dapat menahan rasa kesal ya disaat Gieta dan Fitri menelponnya bergantian, seolah mereka tidak sejumlah dengan Rafa. Bahkan kedua adiknya tersebut tak henti-hentinya mengirimkan foto wanita yang harus dipilih untuk menjadi istrinya.


Belum sampai ia masuk di ruko nya, bunda yang pagi tadi ada acara bersama temannya, kini sudah berada di dalam ruko dan menatap Rafa dengan senyum yang terlihat menakutkan baginya. Rencana apalagi yang bunda lakukan? Masih belum putus asa juga rupanya, ucap Rafa dalam hati.


"udah lama bunda disini? Kok gak ngabarin?" tanya Rafa selepas meraih tangan kanan sang bunda dan menciumnya.


"gak. Ini bunda baru sampai. Sudah sholat?" bunda Hana mengusap pundak Rafa sambil menatapnya.


"udah. Ini aku bawain makanan buat anak-anak. Bunda mau makan apa? Biar aku balik lagi,"


"bunda masih kenyang, tadi habis makan sama teman bunda," sekilas bunda melirik teman disebelahnya dan memperkenalkannya kepada Rafa, "kenalin, ini temen bunda namanya tante Hilwa, temen mama waktu SMA dulu" terangnya.


Tanpa ragu Rafa meraih tangan tante Hilwa dan menciumnya dengan takzim, "Rafa, tante" begitulah ia memperkenalkan dirinya dan mempersilahkan bunda dan tante Hilwa masuk ke dalam.


"bunda kesini cuma mau antar tante Hilwa. Katanya, dia mau beli tas sama sepatu. Jadi, bunda ajak ke toko kamu," terang bunda Hana saat masuk ke dalam toko.


"dilihat-lihat aja tante. Nanti aku kasi diskon khusus buat tante"


"makasih ya, nak."


Perlahan tante Hilwa meninggalkan Rafa yang sedang berbincang dengan sang bunda. Matanya mulai menyusuri setiap pajangan tas dan sepatu yang menarik perhatiannya.


"tante Hilwa punya anak gadis lo, Fa" bilik bunda disamping Rafa.


"ooo" reaksi Rafa datar tanpa ekspresi yang menonjol.


"kok cuma oh sih? Kan kamu mau cari mantu untuk bunda"


"nanti aja. Rafa lagi badmood" beranjak dari mejanya dan pergi ke atas mengecek barang-barang yang akan dikirim ke ekspedisi kemudian membawanya turun ke bawah. Setelah semua barang selesai diturunkan, Rafa dikejutkan oleh suara gawat yang berdering menandakan telepon masuk.


"assalamualaikum, Gie. Ada apa?"


"wa'alaikumsalam. Bang, kok chat aku gak dibalas?" terdengar suara Gieta yang menelepon disebelah sana.


"chat kamu tu terlalu banyak. Bikin pusing dan sakit mata"


"cantik semua, kok dibilang bikin sakit mata?"


"gimana gak sakit, foto yang kirim itu semua gayanya kayak anak alay" garam Rafa.


"jadi abang mau yang gimana?"


Rafa mulai mengusap pemiliknya yang tampak bingung menghadapi sang adik. "kamu kalo neror tuh gak pernah ingat waktu, lain kali aja dibahasnya" terang Rafa sambil memutuskan sambungan telepon sepihak.


Sejenak Rafa duduk terdiam di tangga, merasa lelah menghadapi tuntutan keluarganya. Bagaimana ia akan bertahan dari desakan keluarganya? Andai keluarganya tahu seperti apa perasaan Rafa selama ini? Seperti apa perjuangan Rafa menahan rasa yang telah melukai hatinya?