
"Bang Rafa harus nikah tahun depan," Gieta memulai sarapan paginya dengan ancaman yang terdengar mengerikan ditelinga Rafa. Semua yang duduk menyantap sarapan hanya bisa mendengar dalam diam. Hanya bunda Hana yang tersenyum dengan penuh harapan.
"abang belum siap," sanggah Rafa. Ia tampak menikmati sarapan ketupat gulai pakis buatan bunda Hana dan dua buah sala lauak yang sudah tertata dipinggir piring. Menu pagi ini menjadi makanan yang dirindukan bagi mereka yang jauh dari kampung halaman. Ada ketupat, gulai pakis, gorengan seperti sala dan bakwan. Tak lupa mie goreng dan kerupuk beserta teh manis hangat.
"kalo tunggu siap, pasti gak akan siap, bang" Gieta mulai melirik Rafa yang hanya menikmati sarapannya tanpa menatap Gieta. "lagian, abang udah 32 tahun. Udah pas untuk nikah."
"abang, gak punya calon" Rafa masih tak peduli dengan ancaman Gieta.
Gieta tersenyum menanggapi sikapnya, "kalau urusan itu, Gieta sama Fitri bisa carikan calon untuk abang"
Fitri mengangguk mendengar ucapan Gieta, "Fitri setuju. Nanti, Fitri mau seleksi temen-temen dikampus." Gieta pun tersenyum menanggapi ucapan Fitri. Setidaknya, mereka selalu mendukung untuk masa depan Rafa.
Rafa melahap makanan tanpa menghiraukan ucapan Gieta. Ketika ia hendak mengambil sala yang ada d dekat Khalid, Gieta berkesempatan beberapa kali dengan nyaring, seakan menuntut respon Rafa.
"Terserah kamu," singkat jawaban yang keluar dari mulutnya.
"emang abang gak punya pacar gitu?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Fitri. Sebenarnya Fitri tahu bahwa abang nya tak memiliki kekasih namun, Fitri lebih tertarik menggoda abang nya di pagi ini.
"Dengerin nih ya, pacaran itu banyak pengeluaran. Bayarin cewek makan dan belanjain barang yang dia suka. Bisa bangkrut abang. Ribet." Rafa mengunyah sisa makanan yang ada di mulutnya.
"Dan satu lagi. Pacaran itu dosa. Abang gak mau rugi dua kali. Gak ada untungnya keluarin uang buat nambahin dosa. Lebih baik nikah, jadi uang yang abang keluarin bisa nambahin pahala karna abang kasi buat pasangan halal". Penjelasan Rafa cukup membuat Fitri terdiam. Pasalnya hanya Fitri yang pacaran dan itupun dulu ketika ia masih SMP. Karena Rafa tak menyukai hal itu, Fitri pun akhirnya berhenti pacaran.
Dengan wajah yang cemberut Fitri terlihat kesal dengan perkataan Rafa, "Bang Rafa nyindir aku, nih?" ucap Fitri. Rafa mengangguk pelan, "masa lalu cukup dijadikan pelajaran," terang Rafa.
"jadi kapan kamu mau nikah?" bunda Hana mulai bersuara. Mengalihkan perhatian Rafa dari Fitri, alih-alih menyelamatkannya dari ceramah Rafa. Bunda Hana cukup tahu bagaimana Rafa menangani adik-adiknya jika selalu membantah.
"Rafa mau nikah kalo Gieta sudah nikah"
"Candaan abang gak lucu," Apa-apaan ini? Sempat-sempatnya bang Rafa membuat aturan di atas aturan? Gumam Gieta dalam hati.
"abang serius. Ngapain juga abang main-main. Maaf ya, abang bukan anak alay kayak Fitri," lagi-lagi Rafa mulai menyinggung Fitri. Khalid yang duduk disebelah Rafa tampak menahan tawanya. Ia tak ingin ikut bersuara, cukup tahu bagaimana respon abang nya tersebut.
"tuh, kan mulai lagi, deh, " ketus Fitri.
"kita semua pengen lihat abang bahagia, kok" ucap Gieta. "Dan kali ini, kita pengen abang segera menikah," Gieta tahu bahwa Rafa telah banyak memperjuangkan segalanya untuk bunda dan Adik-adiknya. Dan, ia berharap keinginannya tersebut terpenuhi.
"ya udah. Ikuti aja syarat dari abang," tegas Rafa.
"NO! Abang dulu yang harus nikah, baru Gieta."
Rafa melirik bunda Hana untuk mencari bantuan, menolak permohonan adiknya. Namun, bunda Hana hanya bergidik acuh seakan setuju dengan keputusan Gieta. Sepertinya mereka bersekongkol untuk menyerang, batin Rafa.
"jadi, abang harus nikah dengan makhluk rumit sejagat raya?" Rafa menyerang balik agar Gieta dan Fitri tidak mendesaknya. Hanya dengan cara yang menyebalkan seperti ini, pasti adik-adiknya akan berhenti menerornya.
"wah, Fit. Kita dikatain makhluk rumit. Gak sadar dia kalo disini ada bunda." Gieta menyenggol lengan Fitri yang duduk disebelahnya.
"kecuali Gieta, Fitri dan Bunda," Rafa dengan cepat mengklarifikasi pernyataannya. Ia tahu bagaimana mereka menyerang tiada henti jika terus menolak pinta sang adik.
"Tenang kak, nanti Fitri akan carikan istri untuk abang. Minimal yang bisa bantuin kita ngebully abang" tawa girang yang lain pun terdengar nyaring diruang makan.
Rafa mendesak pelan dan kembali melirik Adik-adiknya secara bergantian. Apalagi yang bisa ia elakkan? Selama setahun ini, Adik-adiknya dan bunda Hana terus mendesaknya untuk menikah. Ia mengerti jika keluarganya menginginkan Rafa bahagia dengan memiliki istri dan anak. Namun tak terbesit sedikitpun keinginan untuk menikah.
Sementara Gieta, selama setahun ini selalu meneror Rafa dengan mengirim foto-foto perempuan yang ia jodohkan untuknya. Tak sedikitpun foto-foto tersebut dilirik oleh Rafa.
Bunda Hana pun tak kalah dengan Gieta. Setiap ada acara arisan ataupun pengajian selalu meminta ditemani oleh Rafa. Alih-alih menemani tapi justru mempromosikan Rafa yang belum menikah. Apa yang bunda banggakan dari status belum menikah? Seolah-olah itu hal yang luar biasa buat bunda. Perlukah Rafa memberikan tropi dan reward uang cash kepada bunda atas kebanggaannya tersebut? Tentu saja bundanya akan menghajarnya dengan berbagai ancaman.
Fokus Rafa selama ini hanyalah membahagiakan bunda dan Adik-adiknya. Melihat bunda selalu tersenyum, dan adik-adiknya yang sukses mencapai cita-citanya adalah dunia yang dia impikan.
Gieta yang telah berhasil menjadi dokter gigi dan memiliki klinik sendiri. Fitri yang sebentar lagi lulus dari sarjana pendidikan. Dan Khalid yang dalam beberapa bulan lagi akan lulus dari SMA.
"atau Rafa udah punya calon mantu untuk bunda?" bunda Hana menarik Rafa dari pikirannya.
"kamu masuk sekolah jam berapa, lid? Kenapa belum berangkat?" Rafa mencoba mengalihkan pembicaraan, mengingatkan Khalid untuk segera berangkat sekolah. Walau jarak dari rumah ke sekolah hanya butuh waktu 10 menit namun, Rafa tidak ingin Khalid terlambat ke sekolah.
"jam setengah 8 bang, masih lama. Sekitar 40 menit lagi" jawab Khalid.
"mulai deh" ketus Gieta.
"kamu sebentar lagi UN kan? Udah punya rencana mau kuliah dimana?" Rafa masih tidak mempedulikan ucapan Gieta. Ia terus bertanya kepada Khalid, alih-alih menghindar dari desakan menikah.
"iya, bang. Disekolah sekarang lagi padat jadwal pelajaran tambahan," terang Khalid yang mulai menghabiskan beberapa ketupat yang tersisa dipiringnya. "aku nanti rencananya mau kuliah ambil fakultas teknik. Tapi masih mikir-mikir mau di universitas mana."
Rafa menganggukkan kepala, mendukung keinginan Khalid.
"jangan ngeles deh, bang. Kan kita lagi ngobrol serius." Bukan Gieta namanya jika berhenti memaksakan keinginan. Selama itu dalam hal yang positif, ia tidak akan mundur untuk terus memaksakan keinginannya.
"abang juga lagi ngobrol serius sama Khalid. Kamu dengar sendirikan?" Gieta memutar matanya dengan raut muka yang mulai kesal.
"nanti kita bicarakan lagi masalah ini. Untuk saat ini abang gak berminat" dengan cepat Rafa memberikan penjelasan. Menghindari rasa kesal yang mulai menyelimuti hati Gieta.
"sudah-sudah, sekarang habiskan makanannya. Dan cepat pergi. Bunda ada acara diluar pagi ini"
"bunda ngusir kita, nih?" tanya Gieta dan Fitri berbarengan.
"iya. Biar bunda bisa cepat keluar juga. Emang kalian aja yang punya acara?"
Bunda Hana selalu bisa membungkam Gieta dan Fitri. Entah mengapa kedua anak gadisnya begitu berani dalam berbicara kepada siapapun jika itu suatu kebenaran dan keharusan. Sementara kedua anak lelakinya terlihat begitu pendiam dan tak menggubris apapun yang ada disekitar.
Tak banyak yang bunda minta, melihat anak-anaknya saling melengkapi satu sama lain, sudah cukup membuat hidupnya bahagia sebagai single parent. Walau di awalnya, ia sempat mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak-anaknya namun semua terlihat mudah dengan sikap anak-anaknya yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.
"emang bunda mau kemana sepagi ini?" tanya Gieta.
"bunda ada perlu sama temen bunda," jawab bunda Hana.
Khalid yang selesai dengan sarapannya mulai berdiri meninggalkan meja makan. Menghampiri bunda, abang dan kakaknya untuk bersalaman. Tak lama Gieta dan Fitri pun menyusul Khalid untuk keluar setelah mencium tangan bunda Hana dan Rafa.
"bunda pergi sama siapa?" tanya Rafa.
"bunda naik ojol aja. Kamu gak usah repot anterin bunda" ucap bunda Hana menguraikan tanya Rafa dengan tersenyum. "kemarin kan kamu habis belanja. Pasti kamu kerepotan kalo nganterin bunda"
"bunda nih kayak ke siapa aja. Aku kan harus jagain bunda. Kemana pun bunda pergi, aku siap anterin kok" terang Rafa. "urusan toko kan bisa d handle sama karyawan."
Bunda Hana bangkit dari duduknya dan mengangkat piring bekas makan, membawanya untuk segera dicuci. Membereskan meja dan meninggalkan Rafa yang masih duduk disana sambil memerhatikan ponselnya.
"kamu ke toko aja. Bunda masih mau bersihin rumah dulu sebentar. Bisa bisa kok pergi sendiri," bunda berusaha meyakinkan Rafa untuk tak khawatir. Toh, selama ini Bundanya baik-baik saja kemanapun ia pergi.
"barang belanjaan kamu itu banyak dan pasti harus d cek satu-satu, kan?"
Rafa tampak berpikir, "ya udah, nanti kalau bunda minta dijemput telpon aku, ya?" perlahan Rafa menyesap teh manis yang ada didekatnya, menyisakan sedikit teh didalam gelas. Ia bangkit dan menuju bunda yang mulai mencuci dipiring, meraih tangan kanannya dan menciumnya.
"hati-hati dijalan ya, nak" pesan bunda Hana.
"iya, bunda. Assalamualaikum"
"wa'alaikumsalam," jawab bunda.
Rafa pun mulai meninggalkan ruang makan yang bersebelahan dengan dapur dengan langkah ringan. Ketika sedangkan lagi menuju ruang keluarga untuk keluar, Rafa dikejutkan dengan ucapan sang bunda yang berteriak dari dapur, "Rafa, jangan lupa. Kamu harus bawa calon mantu untuk bunda."
Ya salam bunda... Ikhtiarmu benar-benar never end. Apa yang bisa Rafa lakukan? Abaikan saja dulu karena ini hanya candaan dan bukan tuntutan wajib.