Princess Eleanor

Princess Eleanor
Episode 9



"Alex adalah Pangeran ke 2 negara Jinx. Dahulu, Alex pernah hampir di bunuh oleh Kakaknya, namun ia berhasil kabur walau pun terluka parah. Saat itu Alex berhasil tiba di bagian Utara Kerajaan Vancera," ujar Qing'er mulai bercerita.


Eleanor menyimak, "lalu?"


"Kebetulan saat itu Elda sedang patroli di bagian Utara dan menemukan Alex yang terluka parah. Setelah itu Elda merawat Alex sampai pulih dan Alex pun membalas jasa Elda dengan mengabdi pada negara Vancera, sehingga bisa menjadi sekertaris negara ini. Sekaligus teman dekat Aldrich".


"Jadi, Alex itu jatuh cinta pada Ibuku, karena telah menolongnya?" tanya Eleanor setelah mengerti tentang Alex.


"Tepat sekali.. N-nona.." ujar Qing'er, terbata-bata, melihat seseorang di belakang Eleanor.


Eleanor sedikit miringkan kepalanya. "Ada apa?"


"Di belakangmu,'' balas Qing'er.


Eleanor pun menengok ke belakang, "Kaisar sialan!" sentak Eleanor terkejut melihat seorang anak kecil lebih tua 4 tahun darinya. Astaga! Kelepasan, kaget juga..!


Anak laki-laki itu berparas tampan dengan rambut berwarna pirang dan mata semerah darah, mirip dengan Kaisar. Namun versi anak kecil. "Kau berbicara dengan siapa Nona? dan juga, kau akan di jerat hukuman karena telah menyebut Kaisar negara ini dengan kata Sialan.''


Eleanor meminta maaf, "maaf. Aku kelepasan.. Memangnya Kakak tampan siapa?" Parasnya sangat mirip dengan Kaisar! Sikok bagi duo! tidak-tidak.. Bagai pinang di belah dua.


Anak laki-laki berambut pirang menjawab, tentu dengan tatapan dingin seperti Aldrich. "Namaku Elnoah, apa kau tersesat?"


Eleanor mengangguk dengan cepat, Elnoah pun memandu Eleanor ke pusat taman yang menjadi tempat Elda dan Alex berbincang.


Apa dia Putri Ayahanda yang terakhir? Cukup imut, tidak bermuka dia seperti para Putri yang lain, batin Elnoah melihat kemiripan rambut Eleanor dengan Aldrich.


"Siapa namamu?" tanya Elnoah.


"Namaku Eleanor.." balas Eleanor dengan tersenyum dengan selebar-lebarnya. Agar terlihat tulus, padahal dalam hatinya ia kesal.


Beberapa saat kemudian Eleanor bertemu dengan Elda dan Alex yang panik, karena tidak dapat menemukan Eleanor.


"Terima kasih karena telah mengantarkan Putri saya, Yang Mulia Putra Mahkota," ujar Elda. Lalu Elda dan Alex membungkuk hormat.


"Tak perlu memberi salam, kedudukan Yang Mulia Ratu lebih tinggi dariku.." balas Elnoah tersenyum profesional, "baiklah. Aku pamit.. Sampai bertemu lagi, Tuan Putri Ke 13.''


Elnoah pun pergi menuju Istana tempatnya tinggal.


"Hehe, maaf ya Bu.. Tadi aku bosan, lalu berjalan-jalan sampai tersesat. Kakak Noah mengantarku ke sini".


"Ya sudah, ini juga salah Ibu karena terlalu asyik mengobrol," ujar Elda menyadari keteledorannya.


Nah, baru sadar anaknya ilang. Tapi ga apa sih, aku jadi ketemu Pangeran tampan. Author yang membuat Novel ini pernah memberitahukan bahwa Noah akan menjadi Kaisar rebutan berikutnya, gerutu Eleanor.


"Aku pamit Yang Mulia Ratu dan Putri," ujar Alex.


"Iya.. Ini juga sudah malam, aku takut Aldrich akan marah karena kau terlalu lama bersamaku.." ujae Elda tersenyum dan Alex membalas senyuman Elda. Lalu pergi menuju Istana Kaisar.


"Nah, ayo kita makan malam.. Kau pasti sudah lapar.''


"Ayo..! Perut Lea sudah berbunyi sejak tadi.." balas Eleanor dengan semangat.


"Oh, ya?"


"Iya... Ibu saja yang tidak mendengarnya. Ayo, Bu..! Aku sudah lapar!" ujar Eleanor dengan berlari.


"Baiklah, jangan lari-lari," Elda mengingatkan.


Eleanor meledek, "Hihi, tangkap Lea jika Ibu bisa.."


"Baiklah, tunggu penyihir cantik akan menangkap sang Putri Imut.." ujar Elda dan mereka bermain kejar-kejaran. Tidak jauh dari tempat Eleanor dan Elda bermain kejar-kejaran, Aldrich memperhatikan mereka dan diam-diam tersenyum.


"Yang Mulia?"


Aldrich menoleh ke arah suara tersebut. Arah suara tersebut berasal dari seorang wanita yang merupakan selir ke-2, namanya adalah Afnisha.


Afnisha menyapa, ''apa Yang Mulia mengunjungi saya?"


"Tidak, aku hanya lewat. Istirahatlah kembali.." ujar Aldrich, lalu ia pun berjalan dengan gagah dan tatapan dingin seperti biasanya.


Afnisha memberi salam, "Semoga cahaya selalu memberkati anda". Jarang sekali aku melihat Yang Mulia tersenyum, tadi Yang Mulia melihat ke arah mana ya? Apa muncul kembali seorang selir, sampai Yang Mulia tersenyum? Aku harus menyelidikinya.


...Bersambung......