
Eleanor dan Elda pergi ke Festival tersebut. Elda memutuskan untuk memakai jubah, agar tidak menarik perhatian masyarakat. Elda tidak ingin terkenal, begitu pun dengan Eleanor. Mereka sama-sama malas menghadapi orang-orang yang selalu bermuka dua.
Setelah sampai di Festival Eleanor dan Elda menghampiri tenda-tenda yang menawarkan makanan ringan yang sangat lezat. Di mulai dari sate, daging asap, permen dan lainnya.
Alun-alun tersebut di hiasi oleh banyak lentera yang cantik dan bentuknya bermacam-macam. Di tamah lagi aroma yang memanjakan hidung, yang berasal dari pertendaan makanan ringan.
Elda: "Apa permennya lezat?"
Eleanor: "Iya... Sangat lezat dan manis, kenapa Ibu tidak mencobanya?"
Elda: "Baiklah, Ibu akan mencobanya". Sebenarnya aku tidak terlalu suka makanan manis, demi Eleanorku yang imut, tidak apa-apa...
Elda pun mencoba satu permen yang Eleanor pegang.
Eleanor: "Gimana? Enakkan?"
Elda: "Tidak buruk.."
Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari masyarakat, di susul dengan suara ledakan dan nyala api yang menyebar kemana-mana. Para masyarakat panik dan menghamburkan dirinya masing-masing ke segala arah, untuk menyelamatkan diri.
Karena kepanikan mereka, Eleanor terpisah dengan Elda. Siapa yang tahu, alun-alun yang awalnya di penuhi oleh suara tawa dan suasana menggembirakan, pada akhirnya malah menjadi tempat mencekam dan terdengar banyak teriakan juga tangisan para anak-anak yang terpisah dari Orang tua mereka.
Darah dan mayat ada berceceran dimana-mana, lentera-lentera kecil yang menghiasi Festival hancur menjadi kepingan-kepingan kaca.
Elda: "Lea....!"
Eleanor: "Ibu...!"
Setelah beberapa saat terbawa-bawa oleh orang dewasa, Eleanor terdampar di sebuah gang kecil dan gelap. Di gang tersebut sangat gelap, lembab dan pengat. Ada aroma tak sedap yang menghampiri indra penciuman.
Eleanor: "Ugh, akhirnya terbebas dari para Orang dewasa.. ''
Eleanor pun berdiri dan membersihkan jubah yang ia pakai, jubah itu kotor karena terinjak-injak.
Setelah beberapa saat berjalan, Eleanor tidak menemukan apa-apa. Namun ia mendengar seseorang yang berteriak. Eleanor menghampiri suara tersebut, berharap baha itu adalah teriakan Lady Emeliette, Putri Duke Vardion.
Benar saja, itu adalah teriakan Lady Emeliette. Eleanor melihat Lady Emeliette di paksa oleh 3 orang pria dewasa, entah apa yang ingin mereka lakukan. Sepertinya ingin menculik Emeliette.
Eleanor: "Hei! Kalian sedang apa..?!"
Para Pria: "Wah, wah.. Sepertinya hari ini kita untung besar. Ada dua orang anak bangsawan yang menghampiri kita dengan sendirinya".
Pria 1: "Ayo, ikut dengan abang.. Nanti abang berikan permen yang banyak".
Duak..! Tanpa pikir panjang Eleanor menendang telurnya sang Pria, lalu menarik tangan Emeliette untuk berlari menjauh. Namun kaki Emeliette terkilir, sehingga Eleanor harus menggendong Emeliette.
Setelah berlari begitu lama dengan menggendong Emeliette, Eleanor kelelahan dan berisitirahat di balik kardus-kardus yang menumpuk.
Eleanor: "Apa kau baik-baik saja?"
Emeliette: "Iya, bagaimana denganmu? Kau tidak terluka?"
Eleanor: "Tidak, tunggu di sini.. Aku akan mengecek, apakah para penjahat itu masih ada.."
Emeliette: "Tunggu! Apa kau Elea?"
Eleanor: "Kau Emeliette?"
Emeliette: "Iya, ini aku..! Wah senangnya bisa bertemu kembali denganmu".
Eleanor: "Aku juga senang bertemu kembali denganmu, tapi ini bukan saatnya melepas rindu. Kita harus segera keluar dari sini".
Tiba-tiba para penjahat tersebut menemukan Eleanor dan Emeliette yang sedang bersembunyi, namun mereka lari ketakutan. Eleanor dan Emeliette terheran-heran, mereka berdua melirik ke belakang. Ternyata ada 2 orang monster yang di penuhi aura kegelapan.
...Bersambung......