Princess Eleanor

Princess Eleanor
Episode 7



Aldrich membuka pembicaraan, "ku dengar namamu Eleanor".


"Iya namaku memang Eleanor", balas Eleanor.


Menarik, anak ini tidak takut denganku. Dia malah balik bersikap dingin, Aldrich tersenyum miring, "apa kau tahu aku siapa?''


"Ayahku.." balas Eleanor dengan singkat. Sepertinya lebih baik aku bersikap manis agar lebih mudah mendekatinya, lalu Eleanor tersenyum dengan manis.


Ohh, ternyata dia bisa bersikap manis juga di hadapanku, pikir Aldrich melihat senyuman Eleanor.


Setelah selesai menyiapkan sarapan, para Pelayan bergosip di dapur.


Pelayan yang membersihkan meja membuka dialog gosip itu, "apa kalian melihat senyuman Tuan Putri?"


"Ya.. Aku melihatnya, sangat manis.." balas pelayan yang sedang mencuci piring.


Pelayan yang baru datang dari ruang makan berkata, "benar sekali, Tuan Putri sangat berbeda dari Yang Mulia Raja dan Ratu".


Pelayan yang membersihkan meja menghentikan pekerjaannya, dan menghampiri pelayan yang telah mengantarkan sarapan, ''mungkin saja Yang Mulia Tuan Putri, akan membawa perubahan dalam istana ini.''


"Ya, aku harap juga seperti itu,'' balas pelayan yang telah mengantarkan sarapan untuk Aldrich, Eleanor dan Elda.


Tanpa para Pelayan sangka, ada yang mendengar percakapan mereka di balik pintu.


''Apakah dia adalah Putri Kaisar yang ke 13? Sangat menarik, aku akan lihat, bagaimana caramu menarik perhatian Ayahanda,'' gumam wanita tersebut.


Orang yang mendengar pembicaraan para Pelayan adalah Putri Kedua kekaisaran Vancera. Dia merupakan anak dari selir Kaisar yang ke 3. Vhiena Die Vancera, berparas cantik dengan lekukan tubuh yang bagus. Ia juga mempunyai bakat sihir yang unggul, bahkan di juluki Dewi Kekaisaran Vancera.


Namun, di balik itu semua.


Vhiena hanyalah seorang anak berusia 12 tahun yang ingin mendapatkan perhatian Aldrich, ia selalu iri kepada setiap anak yang dekat dengan Aldrich. Maka, ia selalu membuat anak yang dekat dengan Aldrich ketakutan.


Caranya adalah dengan membeberkan kekejaman Aldrich terhadap anak tersebut. Sehingga ketika anak tersebut bertemu kembali dengan Aldrich, maka dia akan gemetar ketakutan.


...****************...


"Baiklah, bagaimana dengan Ibu?" Seenaknya saja memanggilku Lea! Memangnya kita dekat?! gerutu Eleanor dakam hati.


"Biarkan Ibumu menunggu di sini,'' ujar Aldrich menatap Elda.


"Pergilah.. Ibu akan menunggu Lea di kamar,'' ujar Elda tersenyum sambil mengusap kepala Eleanor, lalu menatap tajam Aldrich. Tatapannya seperti mengatakan Awas saja jika sesuatu terjadi dengan Putriku! Eleanor pun mengikuti Aldrich.


Namun, saat mengikuti Aldrich. Eleanor tertinggal cukup jauh karena langkah kakinya yang kecil. Hati para Pelayan yang sedang bekerja meleleh, karena keimutan Eleanor saat berjalan. Sepanjang perjalanan Eleanor hanya tersenyum, namun dalam hati ia mengumpat sesuatu tentang Aldrich.


Woy..! Tungguin napa! Cepet banget jalannya! Langkah kaki gue kecil, lu jalannya ke cepetan Kaisar..!Kaisar sialan! Tidak bertanggungjawab! Tidak setia! Punya banyak selir..! batin Eleanor dengan kesal.


Kapan dia akan menyusulku jika jalannya selambat ini?! pikir Aldrich.


Aldrich pun menghampiri Eleanor yang tertinggal dan menggendongnya. Namun Eleanor yang di gendong tiba-tiba terkejut.


"Kenapa? Tidak mau di gendong olehku?" tanya Aldrich.


"Terima kasih Papa, Lea lelah berjalan mengikuti Papa,'' ujar Eleanor. Nah baru sadarkan anaknya ketinggalan, coba kalo dari awal kaya gini. Aku ga akan kecapean jalan dengan kaki bayi.


Beberapa saat kemudian, Eleanor dan Aldrich sampai di ruang kerja Aldrich. Di sana ada seorang Pria dengan. rambut berwarna perak yang sedang memegang lembaran-lembaran kertas.


Dia siapa? Apa dia tokoh juga? Aku lupa dengannya. Yang paling penting sih, kegantengannya, batin Eleanor melihat Pria tersebut.


"Ada urusan apa?" tanya Aldrich.


"Yang Mulia, anda harus menandatangani berkas-berkas ini.." balas Pria berambut perak itu.


"Baiklah, simpan saja meja,'' titah Aldrich.


"Anda harus menandatanganinya hari ini Yang Mulia, tidak boleh di tunda lagi. Lihatlah meja anda! Sudah penuh dengan berkas yang belum anda selesaikan sejak 3 hari yang lalu,'' balas Pria berambut perak itu.


...Bersambung......