
"Umh.. Aku dimana?" kata Eleanor. Samar-samar ia melihat seseorang tak berdaya di ranjang tempat tidur.
"Bibi Seo?" teriak Eleanor. "Bi..Bibi..! Bangun, hiks hiks jangan tinggalkan Elea.. Hiks hiks"
...****************...
"Sayang..! Kamu kenapa?!" Elda membangunkan Eleanor yang menangis.
Eleanor perlahan-lahan membuka matanya dam melihat mata Elda yang berkaca-kaca. Lalu berkata, "I-ibu..?"
"Iya, ini Ibu.. Lea ga usah takut lagi.." ujar Elda menatap lembut Eleanor, putri semata wayangnya.
Eleanor langsung memeluk Elda dengan erat dan menumpahkan air matanya. Lalu menangis, "Huaaa, maafkan aku Ibu..!"
Elda pun menenangkan Eleanor. Lalu berkata, "sudah sayang.. Ibu tidak apa-apa".
...****************...
Beberapa saat menangis Eleanor pun tenang dan matanya bengkak.
"Lihatlah mata Elea kesayanganku jadi bengkak,'' ujar Elda.
"Aku takut kehilangan Ibu.." lirih Eleanor.
"Tidak apa-apa, Ibu ga akan ninggalin Lea anak kesayangan Ibu.'' Elda mengusap-usap kepala Eleanor dan menghapus air mata Eleanor.
Ternyata hanya mimpi.. Untung saja aku tidak kehilangan orang yang ku sayangi kedua kalinya. Omong-omong ini dimana ya..? pikir Eleanor.
Eleanor melihat sekeliling ruang yang di tempatinya bersama Elda. Lalu bertanya pada Elda, "ini dimana Bu?".
"Rumah Ayahmu.'' ujar Elda tersenyum.
"A-ayah?" kata Eleanor, "apa yang terjadi kemarin? ''
...Flash back on...
Setelah Eleanor tidak sadarkan diri, datanglah 2 orang penyihir dan Kaisar kerajaan Vancera. Kaisar langsung membopong Eleanor dan Elda pun mengikutinya. Mereka pun teleportasi ke istana kerajaan Vancera.
Setelah Eleanor di obati oleh dokter istana, Ayah Eleanor menarik tangan Elda.
"Kenapa kau menyembunyikan Putriku..?" ujar seorang Pria memaharahi Elda.
"Jika saja awan hitam itu tidak muncul, aku tak akan bisa menemukanmu. Mengapa kau terus lari dariku?" pria itu memijit batang hidungnya.
Elda melepaskan tangannya dari genggaman Ayah Eleanor. Lalu berkata, ''sudah aku katakan! Aku hanya ingin hidup damai dengan Elea..! Aku tidak mau Elea terlibat dalam perebutan takhta kerajaanmu itu..! Aku tak mau kehilangan Elea..!"
"Setidaknya kau dapat memberitahuku..!" Setelah mengatakan hal tersebut pria tersebut pergi dengan marah, sementara Elda menemani Eleanor, yang masih tak sadarkan diri.
...Flash back off...
Eleanor pun memegang kepalanya, banyak memori yang berlalu-lalang di pikirannya. Memori-memori tersebut membuatnya pusing dan kembali tidak sadarkan diri. Elda pun memanggil Dokter kerajaan untuk memeriksa kembali Eleanor.
"Dokter, apa Elea baik-baik saja?" tanya Eleanor.
"Tak apa, Yang Mulia Putri Eleanor hanya perlu istirahat yang cukup. Saya pamit undur diri Yang Mulia,'' jawab sang Dokter.
Elda menganggukkan kepalanya dengan anggun, dan mimik wajahnya berubah menjadi dingin namun aura elegan tetap terpancar.
Entah Yang Mulia Raja atau Ratu, mereka memancarkan aura mencekam. Bagaimana Putri Eleanor bisa lahir dari dua kutub es itu? Aku juga penasaran dengan sifat Yang Mulia Tuan Putri, pikir Dokter itu melihat Elda secara seksama.
Dokter pun keluar dari ruangan tersebut. Sementara Elda menggenggam tangan Eleanor yang terbaring, lalu berkata, "Elea.. Apakah Ibu harus memberitahumu tentang semua ini?"
...Di sisi Eleanor...
"Dimana ini..? Akkhh, kepalaku sangat sakit.." teriak Eleanor dengan histeris.
Beberapa saat kemudian rasa sakit itu menghilang dan Eleanor pun mulai tenang.
"Apa aku bereinkarnasi dalam Novel itu..?!" lirih Eleanor.
"Benar, Nona bereinkarnasi dalam sebuah Novel.'' Sebuah suara menjawab pertanyaan Eleanor.
Eleanor yang terkejut pun bertanya, ''siapa kau? Dan juga tempat apa ini?"
"Namaku Qing'er, aku adalah sistem yang akan membantu Nona menyelesaikan akhir dari Novel ini,'' ujar suara itu menampakkan dirinya.
"Aku baru ingat bahwa Penulis yang membuat Novel ini memberhentikan Novelnya secara tiba-tiba,'' ujar Eleanor.
"Maka dari itu, Qing'er akan membantu Nona menyelesaikan akhir dari Novel ini.'' Peri kecil bernama Qing'er itu tersenyum.
...Bersambung......