
3 Tahun kemudian, Eleanor sudah menjadi gadis kecil berumur 3 tahun. Saat ini ia sudah bisa membaca dan menulis, bahkan cara bicaranya seperti orang dewasa.
"Lea..! Kamu adalah anak ibu yang imut, cantik dan jenius.." ujar Elda...
"Iya dong, anak Ibu gitu loh.." ucap Eleanor percaya diri.
Tak terasa aku sudah 3 tahun hidup di sini, walau kehidupanku kali ini sederhana. Aku merasa nyaman dan bahagia. Terima kasih Tuhan.. ujar Eleanor dalam hati.
"Apa mau Lea mau pancake?."
"Uhm, Lea mau..! Pancake adalah makanan favorit Lea."
"Baiklah, tunggu ya.. Ibu buat dulu." Elda menuju dapur untuk mengambil pancake.
Aku tak menyangka Lea sudah sebesar ini, padahal kemarin masih menjadi bayi imut yang belum bisa apa-apa. Lea bersikap dewasa di depan orang lain, namun bersikap manja di depanku, ujar Elda dalam hati.
Elda pun membawa 3 Pancake kecil dan ada satu lilin menyala di salah satu Pancake tersebut. Lalu berkata, "Selamat Ulang Tahun yang ke-3 Lea.."
Eleanor menoleh ke arah Elda. "Wah, apakah hari ini adalah hari ulang tahunku?"
"Iya sayang.. Ayo tiup lilinnya, dan buat permohonan." ujar Elda mengusap pucuk kepala Eleanor.
"Baiklah, Ibu.."
Aku harap di kehidupan kali ini orang-orang yang ku sayangi dan menyayangiku dengan tulus tidak pergi, harap Eleanor dalam hati.
Setelah membuat permohonan Eleanor meniup lilin tersebut, setelah lilin padam sepenuhnya Elda bertepuk tangan. "Selamat Ulang Tahun kesayangan Ibu.."
Ibu harap kamu selalu bahagia dan tidak terlibat perebutan takhta Ayahmu, ujar Elda dalam hati.
"Terima kasih Ibu..." Eleanor tersenyum dengan manis.
Beberapa saat mereka berdua bergembira datang seorang Pria bertubuh besar, yang mendobrak pintu.
Pria tersebut mendobrak pintu dengan kencang, sampai-sampai kaca jendela dekat pintu bergetar. Eleanor dan Elda yang sedang menikmati momen bahagia pun terkejut.
Nama Pria tersebut adalah Marcell, Pria tersebut merupakan anak dari kepala desa yang terkenal dengan kebrutalannya dan kekerasannya.
"Yoo.. Sepertinya ada yang sedang merayakan momen bahagia, aku tidak sabar merusak momen ini.." sarkas Pria bernama Marcel itu.
"Mau apa kau ke sini..!" seru Elda.
Dia adalah orang yang menyukai Ibuku sejak dahulu, walau tahu Ibu sudah mengandungku, baj¡ngan ini tetap mengejar-ngejar Ibu. Namun Ibu selalu menolaknya dengan keras, bukannya bertaubat dan menyerah ia malah nekat melakukan hal yang lebih brutal dan kejam. Setiap ia datang ke sini, aku dan Ibu selalu tidak ada di rumah. Ini adalah cara agar bisa lepas dari cengkeramannya, batin Eleanor.
"Yoo, tenanglah sayang. Kau bisa memberontak saat di ranjang." ucap Marcell menunjukan tatapan nafsu pada Elda.
Eleanor yang tidak terima ingin melawan, namun ia malah terhempas ke tembok.
"TIDAK..! LEA..! TIDAK BOLEH DIBUNUH..! LEPASKAN AKU..! JANGAN SAKITI LEA..!" teriak Elda berusaha lepas dari cengkraman Marcell.
Penjaga pun datang dan berkata, "ada apa Tuan?"
"Bunuh gadis itu dengan cara memotong kepalanya dan rambutnya di jadikan serat baju." seru Marcel.
"Hiks hiks hiks, TIDAK... Hiks hiks.. LEA..!"
Penjaga tersebut menganggukkan kepalanya dan berkata, "baik Tuan.."
Penjaga tersebut mengangkat Eleanor yang sudah tidak berdaya.
"Jika kau tidak mau anakmu mati!Maka menikahlah denganku." seru Marcel.
Tolak saja Bu, aku mohon.. batin Eleanor.
"Baiklah! Lepaskan anakku...! Hiks hiks hiks..." kata Elda sambil menangis.
Marcell pun memerintahkan penjaga melepaskan Eleanor. Penjaga tersebut melepaskan Eleanor yang sudah lemas tidak bertenaga.
Marcell menghampiri Elda di ranjang dan berkata, "saatnya menaruh benihku di rahimmu sayang.."
"I-ibu.. J-jangan...!" lirih Eleanor yang melihat Marcell yang menyakiti Elda di ranjang tempat tidur hanya bisa menangis dan marah dengan dirinya sendiri.
Aku memang tidak berguna...! Tuhan..! Kenapa kejadian ini harus terulang kembali..! Hiks hiks hiks. Permintaanku hanyalah kebahagiaan, apakah sebegitu sulitnya permintaanku..?! batin Eleanor marah pada dirinya sendiri.
"Ah, Umh.. Hiks hiks.. Uhm.." erang Elda.
"Mengerang saja Sayang.. Tidak akan ada yang mendengarnya.." Marcel menatap Elda penuh nafsu.
Kali ini aku tak akan membiarkannya..! tekad Eleanor dalam hatinya.
Jeder!!
Tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelegar, di sertai dengan awan hitam di langit, suara petir itu dapat membuat siapa pun ketakutan.
Eleanor pun bangkit dan matanya berubah menjadi warna hitam, ia menunjuk leher Marcell dan menggerakkan jarinya. Kepala Marcell lepas dari tubuhnya dan Eleanor jatuh pingsan.
Elda pun bangkit dan mendorong tubuh Marcel yang sudah tanpa kepala. Lalu menghampiri Eleanor yang jatuh pingsan.
"Elea..! Bangun..! Lea..! Jangan tinggalkan Ibu.. Hiks hiks hiks, Ibu mohon.." panggil Elda dengan baju berantakan.
...BERSAMBUNG......