
Perisai berwarna hitam itu hancur seketika, tubuh Emeliette dan Eleanor terpental beberapa meter. Untung saja luka di tubuh mereka tidak parah, hanya lecet saja.
Emeliette: "Apa kau terluka parah?"
Eleanor: "Tidak, ini hanya luka ringan."
Tidak berapa lama kemudian, 4 kereta kuda menghampiri Eleanor dan Emeliette yang duduk di atas sebuah batu. Elda bergegas turun, berteriak memanggil Eleanor dan langsung memeluk Eleanor.
Elda: "ELEA...!"
Eleanor menoleh ke arah suara tersebut. Elda langsung memeluk Eleanor. Elda datang bersama Ayah Emeliette yang tidak lain dan tidak bukan adalah Duke Vardion. Setelah menenangkan Elda, Eleanor di obati bersama dengan Emeliette.
Eleanor: "Apa luka di kakimu tidak parah?"
Emeliette: "Sedikit, mungkin aku harus beristirahat beberapa hari di rumah."
Eleanor: "Semoga cepat sembuh..."
Emeliette: "Kau juga. Bagaimana jika nanti kau berkunjung ke rumahku?"
Eleanor: "Bolehkah?"
Emeliette: "Tentu, sekalian mengusir kebosananku saat di rawat di rumah."
Eleanor: "Baiklah, aku akan berkunjung ke rumahmu 2 hari lagi."
Emeliette: "Aku tunggu kedatanganmu."
Eleanor: "Aku sudah selesai di obati, harus segera pergi ke Istana. Terima kasih telah membantuku."
Emeliette: "Kita saling membantu, tidak perlu sungkan."
Eleanor pun pamit dengan Emeliette lalu bergegas menuju Istana Kekaisaran. Saat sampai sudah banyak tabib yang menunggu Eleanor di kamarnya.
Aldrich: "Apa lukamu tidak parah?"
Elda: "Yang Mulia, Elea butuh istirahat."
Aldrich: "Aku tak bertanya denganmu, aku bertanya pada Eleanor."
Elda: "Kamu nanya..?!"
Eleanor: "Ibu ke kamar duluan saja, aku ingin bersama dengan Papa..." Kapan misiku bisa selesai jika kedua orang ini masih saja bertengkar setiap kali bertemu.
Elda: "T-tapi..."
Eleanor: "Bukankah Ibu pernah bilang bahwa aku harus dekat dengan Papa?"
Elda memutuskan untuk pergi dan Aldrich menggendong Eleanor. Sebelum pergi Elda menatap tajam Aldrich, dari tatapannya Aldrich mengerti bahwa Elda sedang mengancamnya. Seorang Ibu nekat melawan seseorang yang sangat berkuasa hanya demi anaknya. Itulah kasih sayang Elda terhadap Eleanor.
Aldrich: "Bagaimana dengan lukamu? Apakah parah?"
Eleanor: "Tidak, Elea hanya terluka sedikit dan sudah diobati oleh tabib milik Duke Vardion."
Aldrich: "Walau sudah diobati, kau harus tetap mengeceknya..."
Eleanor: "Baiklah Papa..."
Aldrich memerintah 2 tabib memeriksa Eleanor. Setelah di periksa Eleanor hanya perlu memulihkan kembali tubuhnya dengan ramuan selama sehari, setelah itu tubuhnya akan sehat kembali.
Aldrich: "Lain kali jika dalam bahaya, hubungi aku dengan ini."
Aldrich menyerahkan sebuah kalung berbentuk phoenix. Dalam phoenix tersebut tersimpan sebuah permata berwarna merah. Permata tersebut memuat sihir pemanggilan sekaligus sihir perlindungan. Selain dapat melindungi dan memanggil seseorang, kalung phoenix itu juga dapat menyerap energi sihir yang berniat buruk pada Eleanor.
Eleanor: Ternyata Kaisar ini bisa perhatian juga... "Terima kasih Papa... Kalungnya cantik, Elea suka."
Eleanor menerima kalung tersebut dengan senang hati, Aldrich pun mengusap kepala Eleanor dengan gemas. Para pelayan tidak kuat melihat kehangatan antar Kaisar dengan Eleanor. Ada yang terkejut, terharu bahkan tidak bisa berkata-kata.
Eleanor: "Papa seringlah tersenyum, senyuman Papa sangat cantik."
Aldrich: "Aku hanya tersenyum untukmu."
Eleanor: "Bagaimana dengan Ibu?"
Aldrich: "Yah, aku juga akan berusaha menerima perempuan yang menyebalkan itu."
Hubungan Aldrich dan Elda memang buruk, Eleanor mengira tidak akan seburuk ini. Terkadang ia heran, bagaimana bisa Elda hamil anak dari Aldrich jika mereka sama-sama keras kepala. Bahkan seperti kucing dan anjing jika bertemu. Sepertinya memang takdir mereka berdua begini. Kisah cinta Aldrich dan Elda memang sangat tidak terduga, sangat mengejutkan.
Pengawal 1: "Yang Mulia Kaisar, Duke dari timur mengunjungi istana dan sedang menunggu di aula."
Pengawal tersebut membungkuk hormat pada Aldrich, setelah Aldrich mengangguk pengawal tersebut menegakkan badannya.
Aldrich: "Aku pergi dulu, kau tidurlah duluan. Maaf tidak bisa menemanimu."
Eleanor: "Ya, tidak apa-apa.. Semangat kerjanya Papa!"
Aldrich pergi bersama pengawal yang memanggilnya tersebut, sebelum pergi ia mengecup kening Eleanor.
Eleanor: Orang yang aneh, bagaimana bisa sikapnya sangat berbeda. Bahkan berubah drastis...! Aku masih pusing dengan alur Novel yang ku masuki ini. Oh iya! Qing'er... Aku harus memanggilnya!
...Bersambung......