Princess Eleanor

Princess Eleanor
Episode 11



Keesokan paginya, Eleanor terbangun seperti biasa. Begitu pun dengan Elda, namun saat sarapan, terjadi peristiwa yang tidak mengenakkan.


Afnisha: "Apa kau selir baru Kaisar?"


Afnisha menatap rendah Elda, namun Elda membalas tatapan Afnisha dengan dingin dan tidak menganggap perkataan yang di ucapkan Afnisha.


Afnisha yang geram, menggebrak meja. Gebrakan mejanya membuat Eleanor terkejut dan juga ada sendok yang jatuh.


Afnisha: "Apa kau meremehkan ku...?!"


Elda: "Tidak, saya hanya berusaha untuk sabar Nona.."


Afnisha: "Kamu sangat tidak sopan..! Apakah keluargamu mengajari etiket seperti ini..?! Pft.. Bisa-bisanya selir Kaisar seperti ini".


Elda tidak menganggap Afnisha, ia hanya terus berbicara dengan Eleanor.


Elda: "Apa cuacanya bagus Lea..?"


Eleanor: "Iya.. Sangat bagus, sayang sekali ada pengganggu di sini".


Elda: "Jangan katakan itu Lea.. Dia hanyalah anjing yang ingin menarik perhatian Tuannya".


Afnisha: "Cih! Berani-beraninya kau!"


Afnisha pergi dengan kesal sementara Elda dan Eleanor bertos ria.


Eleanor: "Menyenangkan sekali, Bu.."


Elda: "Sangat menyenangkan, walau kita tidak punya kekuatan. Jangan pernah menunduk di hadapan orang lain, mengerti?"


Eleanor: "Apa itu juga berlaku untuk Kaisar?"


Elda: "Kaisar adalah Ayahmu, tentu saja tidak berlaku. Walau terkadang Kaisar cuek, Ibu tahu dia ingin melindungi kita".


Eleanor: "Ibu berbohong, Kaisar bukanlah Ayahku! Masa ada Ayah yang tega meninggalkan anak dan istrinya. Lea lebih suka Paman Alex menjadi Ayah Lea".


Elda: "Terserah kau saja, namun ketahuilah. Bagaimana pun juga dia adalah Ayahmu, kau boleh membantahnya jika dia menyuruhmu melakukan perbuatan yang buruk". Yah, aku juga masih berharap Aldrich bisa bersikap hangat pada Eleanor, terserah dia ingin bersikap dingin padaku atau membenciku. Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan hanyalah kebahagiaan Eleanor.


Elda mengusap kepala Eleanor dan tersenyum dengan hangatnya, Eleanor merasa seperti di sinari oleh sinar matahari yang tak akan pernah pudar. Sinar tersebut akan selalu ada, jika Elda hidup dengan bahagia. Semenjak saat itu Eleanor memutuskan untuk selalu membuat Elda bahagia.


Afnisha tersenyum licik di balik tembok setelah ia meninggalkan Eleanor dan Elda. Sudah di pastikan bahwa muncul rencana jahat di kepalanya, mungkin saja rencana itu akan membuat nyawa seseorang melayang.


Eleanor: Apa aku harus tetap mempersatukan Ibuku dan Kaisar? Sebenarnya aku sudah cukup puas begini, namun aku tidak tahu bahwa kebahagiaan kecil ini bisa menghancurkan dunia. Aku harap, aku dan Ibuku di kehidupan kali ini hidup dengan bahagia dan tanpa rasa penyesalan.


Hari ini Eleanor dan Elda berjalan-jalan dan menikmati waktu senggang dengan mengobrol dan bermain bersama. Mereka juga membuat mahkota bunga untuk di berikan masing-masing, lalu bermain petak umpat.


......................


...Malam Hari....


Qing'er: "Nona.. Bersiap-siaplah untuk menghadapi rencana selir Ke Dua.."


Eleanor: "Baiklah, aku sudah siap.. Semoga saja rencana yang dia buat tidak menyebabkan korban jiwa. Entah itu aku, Ibu atau para pelayan".


Qing'er: Pokoknya, bersiap-siap saja..!"


Eleanor: "Iya.."


Elda: "Lea..! Waktunya tidur.."


Eleanor: "Iya Bu.. Selamat malam.."


Elda: "Malam juga sayang... Mimpi indah".


Elda mengecup kening Eleanor, lalu pergi dari kamar Eleanor.


Elda: Tadi, Lea berbicara dengan siapa ya? Apa hanya perasaanku saja?


...----------------...


...Di Luar Kamar Eleanor, seorang anak kecil sedang memantaunya....


Elnoah: Putri Ayah yang terakhir ini sangat menarik. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang bahkan Baginda Ratu atau Ayah tidak tahu, aku jadi ingin menguak hal yang ia sembunyikan...


...Bersambung......