Possessive Boy

Possessive Boy
31#



"kami tidak ada ribut lin, kamu tahu sendiri kan gimana sifat nya Koko kamu, aku diperlakukan seperti ratu, mau ngelakuin apapun ngak pernah di bolehin sama dia, duitnya semuanya kasih aku, semua kebutuhan aku dia semuanya penuhi, makan aja dia selalu kirimkan ke kerjaan kakak”


"apa kakak bahagia"tanya lin


"bahagia"


"tapi dari mata kakak mengatakan yang sebaliknya”


"kakak bahagia kok.... udah ah jangan tanya-tanya lagi kamu udah makan belum?, kalau belum biar kakak masak dulu"


"ngak usah lah kak, nanti tangan kakak kasar kalau masak”ucap lin


"kamu ini ada-ada saja masak aja bisa buat kasar tangan, ya memang tangan kakak kasar kok lagian kakak dulu terbiasa ngelakuin itu sebelum tinggal disini”


"memang kakak dikasih ijin buat masak"


"kalau ada dia ya pasti ngak lah lin namanya manusia aneh kalau ada aku maunya dia selalu di sampingnya ngak boleh kemanapun”.


"dulu dia ngak pernah seserius gini le kak sama cewek, dulu mana pernah dia mau kenalin cewek ke orang mama"


"iya, kakak beruntung bisa dengan Koko kamu"


"bukan kakak sih yang beruntung, tapi Koko yang beruntung punya pacar seperti kakak kalau lin laki-laki pasti lin juga suka dengan kakak”ucap lin membaringkan kepalanya ke paha oliv


Tidak lama pintu apartemen terbuka, oliv dan lin sama-sama melihat ke arah pintu yang ternyata hery telah kembali dari kerjaan.


"lin singkirkan kepala mu dari paha wanitaku"ucap hery dengan tegas menghampiri kedua orang yang berada di sofa


"apa sih Koko, mandi dulu sana baru datang dari kerjaan pun, jorok tau”


“mandi dulu sana” timpal oliv


“bee tapi pahanya jangan kasih di tiduri sama perempuan Khong kham " menyingkirkan kepala lin dari paha wanitanya


“lu Mai teng”(kamu tidak pulang)


“mai, wa mau tidur sini aja sama kak oliv”memasuki kamar yang biasanya ditempati oleh oliv dan hery


“lin jangan tidur di kamar kami, lu tidur di kamar sebelah aja”


Melihat kelakuan dua orang yang berada di depan nya tidak pernah akur oliv menggelengkan kepalanya “ya udah lah kita tidur bertiga aja tempat tidur nya kan lebar" ucap oliv menengahi perdebatan ke dua orang itu


“bee, nggak mau nanti sempit”


“sempit gimana kasurnya buat 5 orang aja muat sayang” jawab oliv


“nggak mau”


“kak, Koko aja yang tidur di kamar sebelah kan dia yang tidak mau tidur bareng kita” ucap lin


“terserah kalian berdua lah” jawab oliv


“sayang aku pengen makan nasi goreng yang ada di depan Adipura, kluar rumah yok beli kesana” timpalnya


"ya udah kamu ganti baju dulu, aku mau mandi bentar”


Oliv telah menggunakan pakaian andalan nya, baju yang serba over size nya, menggeraikan rambutnya. “lin kamu tidak ganti baju? baju di lemari ada banyak yang belum terpakai” ucap oliv


“ nggak usah lah kak malas lagian tadi kesini baru ganti


baju ”


Kini ke tiga manusia itu meninggalkan gedung apartemen nya, sampai di basement hery melemparkan kunci mobilnya ke lin “ mei lu setir mobil nya iya, Koko capek”


Oliv membuka pintu mobil di sebelah pengemudinya, melihat wanitanya ingin duduk di kursi depan hery langsung mengangkat tubuh oliv ke kursi belakang “ bee duduk di kursi belakang dengan ku” mencium bibir oliv


“ko ada orang” teriak lin yang membuat wajah oliv memerah bagai tomat


Sampai di lokasi tujuan hery keluar dari dalam mobil untuk memesan makanan dan meninggalkan ke dua wanita itu. Tidak lama pesanan hery datang diantar oleh orang penjualnya .


“kok 2 piring ko” tanya lin heran


“lu mau brapa piring memang? wa kan di suapi sama wanitaku” ucap hery dengan sombongnya


Karena sudah merasa lapar oliv langsung menyantap makanan nya bahkan tidak menghiraukan perdebatan antara ke dua manusia itu.


"aak... buka mulut nya sayang” perintah oliv


Hery langsung membuka mulutnya dan melahap makanan yang di sodorkan oleh wanitanya


Melihat tingkah laku Koko nya membuat lin merasa ingin mengerjai nya


“ko"


“apa” jawab spontan hery


“ko Vincent tadi minta nomornya kak oliv, karena tadi aku upload foto di Instagram”


“lu gong ya” ucap hery. (gong itu bego)


“mai la, itu benar tadi dia bilang mau ngajak kak oliv untuk makan kapan-kapan dan aku iya kan” melihat ke kursi belakang dan melihat dengan jelas muka hery yang memerah