Paijo

Paijo
Pitu



"Kamu ada perlu apa kesini?" Pertanyaan Andra membuyarkan lamunan Bima yang sejak tadi masih berdiri memandangi foto keluarga mereka.


"Apa kamu masih belum bisa melupakan kejadian itu?" Tanya Andra yg kini sudah duduk di sofa.


Masih sambil memandang foto keluarga mereka Bima menjawab kakak nya


"Apa menurut kakak kejadian seperti itu mudah buat di lupain?apa kejadian itu sangat biasa aja hingga bisa di buang seperti sampah yang udah ngak kepake lagi?"


"Maafin kakak Bim.andaikan waktu itu kakak ada di rumah pasti bukan kamu,tapi kakak yang di jodohin sama kakek."


"Udah lah kak.itu bukan salah kakak.lagian Bima juga ngak nolak saat itu.


oh ya aku butuh bantuan kakak " kata Bima untuk mengalihkan pembicaraan


"Aku butuh jasa kakak."


Bima menyusul kakak nya yang sudah duduk di sofa.


"minggu depan ada syukuran kecil kecilan di tempat ku.yah...buat proyek yang tembus kemarin."


"Kamu mau kakak yang nyiapin hidangan nya?"


"Sekalian pegawai nya.biar ada yang ngurusin ini itu skalian beresin sisa nya."


"Ok biar kakak yang urus.kamu tinggal kasih tanggal sama perincian jumlah tamu dan menu yang kamu mau."


"Kalau menu nya sih aku ikut kakak aja.yang penting beres."


"Ok.berarti tinggal ngasih pengarahan sama para pegawai kakak."


"Eh kakak ngak ikutin si Tika kan?" Bima sedikit cemas membayangkan ada Tika di pesta nya nanti


"Jangan salah kamu.biarpun dia anak baru tapi kerja nya rajin,mana dia kuat lagi.belum pernah aku liat cewek sekuat Tika.dan yang penting dia itu ngak kayak cewek kebanyakan yang kemayu."


"Terserah kakak deh.pokok nya itu cewek ngak buat masalah aja."


"Emang kapan Tika pernah buat masalah?"


"Lah yang kemarin apa coba?" Bima mencoba membela diri dengan mengingatkan kejadian kemarin.


"Itukan kamu yang cari masalah.pake bilang tangan kamu jalan sendiri.anak kecil aja ngak bego-bego amat Bim.kalo cari alasan yg maduk akal dong. "


"Kok kakak ngak percaya sih.udah di bilangin kalo kemarin...."


Tok...tok...tok...


Ucapan Bima terpotong oleh suara ketukan pintu.


"Masuk." Jawb Andra.


Setelah pintu terbuka muncullah Tika.


"Barang yang kita pesan sudah sampai bos."


"Yaudah kamu langsung masukin aja ke gudang.minta bantuan Joko aja."


"Nah itu masalah nya bos.mas Joko lagi keluar nganterin pesanan.mana udah sore lagi."


Andra menggaruk kepala nya yang tidak gatal sambil mencoba untuk berfikir.


"Kalau nunggu Joko aja gimana?soal nya ngak mungkin kan aku ninggalin dapur.asisten aku kan lagi cuti.kira kira siapa ya yang bisa bantu."


Melihat kakak nya yang sedang kebingungan Bima hanya bisa diam saja.kini dia malah sedang asik membaca buku kumpulan resep masakan yg sedang di baca nya sejak kedatangan Tika.


"Ah iya juga ya." kata Andra tiba tiba yang mengagetkan Bima.


"kenapa ngak kamu aja Bim yang bantuin Tika."


"Apa?" Bima dan Tika kompak menyahut bersamaan.


"Ngak.aku kesini cuma mau ngasih tau soal syukuran di rumah aku.ngapain juga aku harus capek capek angkat barang."


"Kalau bukan kamu siapa lagi coba.mana udah sore.


Ayolah Bim,itung itung bantu kakak." bujuk Andra pada Bima.


"Malas ah kak.tungguin Joko aja napa." jawab Bima masih sambil membaca buku .


"Keburu malem Bim.ntar kalo ujan gimana?"


"Gini aja deh bos biar enak."


Entah kenapa Bima merasa tidak enak waktu mendengar Tika berbicara.


kayak nya bakal terjadi sesuatu yang ngak enak batin Bima.


"Gini aja deh Bim. "


"Bim Bam Bim. Emang situ teman atau saudara,enak aja manggil Bim"


"Wealah dari kemarin manggil nya juga Bima."


"Enggak, pokok nya sekarang kalau manggil pake Mas, Mas Bima titik."


"Emang situ pacar nya pake minta di panggil Mas segala." mendengar perkataan Andra membuat Bina merasa malu.


"Yaudah Mas Bisa yang ganteng saya punya ide nih. "


Ya ampun bocah ini kalau ngomong bikin aku seneng aja. batin Bima


"Mas Bisa kan punya utang 7 permintaan ke aku. Permintaan pertama aku,kamu harus bantu aku masukin barang ke gudang ampe beres.kamu ngak lupa kan perjanjian kemarin?"


Tuh kan.udah ngak enak aja nih perasaan dari tadi.


Dan di sinilah Bima sekarang. Dengan memakai sarung tangan dia sibuk memindahkan barang barang dan terkadang ia mengelap keringat yang sedari tadi mengucur deras dengan punggung tangan nya. Hingga tak terasa hari sudah malam saat ia hampir selesai memindahkan semua barang.


"Nih minuman sama makanan buat kamu" Tika memasuki gudang dengan baki di tangan.


"Taruh situ aja." Bima kembali meletakkan kardus yang sudah ia bawa dari luar.


"Masih banyak ya?kamu ngak mau istirahat dulu.nih makan kue nya dulu." Tika meletak kan nampan yang ia bawa di sebuah bangku pangjang .


Bima berhenti menata kardus kardus dan beralih menatap Tika.


Ni anak ngak lagi kumat kan?ntar di kasih racun lagi tuh makanan.kok bisa baik banget gini.


"Tenang aja ngak aku kasih racun kok nih makan." Jawab Tika seolah tau apa yg dipikirkan Bima.


"udah makan aja."


Bima pun mendekat dan duduk di bangku panjang.


"Kamu ngak ikut makan?"


"Buat kamu aja.aku udah kenyang."


Bima mulai mengambil kue dan memakan nya.


"wah enak banget.kak Andra ngak lupa kalau aku suka kue coklat."


Ehem...Tika berdeham.


"Kenapa?kamu mau juga.nih ambil."


"Ngak kok.cuma mau kasih tahu aja kalau kue itu aku yang buat."


"What?kamu bisa buat kue se enak ini?"


Bima tampak terkejut mengetahui nya sedangkan Tika hanya tersipu malu mendengar kue buatan nya di puji enak.


"Sekarang udah malem jadi tadi bos sibuk siap siap mau tutup.terus aku yang buatin kamu kue"


"ngak rugi dong nanti suami kamu.walau galak dan ngak cantik tapi kamu punya kelebihan bikin kue"


"Ngak iklas banget muji nya Bim."


"Mas Bima. "


"Iya Mas Bisa. "


"Iklas kok.udah ngak usah malu malu kucing segala.ngak pantes ama wajah."


"Enggak ya.sapa juga yang malu malu kucing."


"Halah ngaku aja."


"Idih di bilangin ngeyel."


Dan perdebatan yang di selingi dengan tawa itu terus berlajut.


mereka seakan lupa akan permusuhan sebelum nya.


Mereka saling ejek tanpa ada rasa marah karena diam diam mereka menikmati saat saat seperti ini.


Hingga tiba tiba saja Tika melihat sekelebat bayangan yang di barengi dengan hawa dingin yang membuat kulit nya meremang.


"Kenapa kamu?" Bima merasa aneh dengan kediaman Tika yang tiba tiba.


"Ngak,ngak papa.lanjutin lagi yuk beres beres nya.aku bantu deh.tinggal dikit." Tika mulai beranjak dari duduk nya.


"Udah kamu balik dulu aja.nanti biar aku yang kunciin kafe nya terus aku anterin kerumah kak Andra kunci nya."


"Nanggung.palingan juga udah pada pulang.udah sini aku bantuin biar cepet beres."


"Yaudah kamu angkat yang kecil aja."


Kini Bima juga mulai beranjak dari duduk nya. Dia mulai mengambil kardus dan meletak kan nya di atas rak.


Sementara itu perasaan Tika kini semakin tidak enak aja. Dia mulai melihat sekeliling. Dan benar saja,di balik rak terdapat sesosok mahkluk yang tak asing lagi.


Arwah wanita yang dulu bergelayut manja pada Bima kini sedang berada di balik rak dan tengah memandang Bima dengan tatapan marah.


Seperkian detik kemudian arwah tersebut sudah melayang ke atas rak.


Dan tanpa Bima sadari arwah tersebut mendorong sebuah kardus yang berada di rak paling atas tepat ke arah Bima yang berada di samping rak.


"Bima awas...."


Bruuk....


Tika langsung berlari ke arah Bima dan mendorong nya menjauh agar tidak tertimpa kardus yang jatuh.


Walhasil Bima pun jatuh tersungkur ke lantai dan akibat nya kini bahu dan punggu Tika lah yang tertimpa kardus tersebut.


"Tik kamu ngak papa?" Dengan panik Bima segera berdiri dan berlari ke arah Tika.


"Eengh..."hanya erangan yang keluar dari mulut Tika.


Bima pun langsung mengangkat tubuh Tika dan membaringkan nya di bangku panjang yang tadi mereka gunakan untuk duduk


"Tik...tika...."


Sayup sayup Tika mendengar suara seseorang memanggil nya.tapi suara yang di dengar Tika semakin lama semakin terasa jauh hingga akhir nya menghilang. hingga kini hanya gelap yg terasa karena Tika kini sudah pingsan.